Wajah-Wajah

Seperti pagi biasanya, si pria bertubuh kerempeng duduk di kursi panjang, berhadapan muka denganku. Sebelah kaki pria itu bertengger di pegangan kursi, menyempurnakan aksi bercelotehnya pada sosok di atas podium yang kutunjukkan. Bak sedang dalam acara debat panas, suara dariku tak henti disahut rentetan sindiran oleh pria itu.

“Kemeja doang rapi, omongan berantakan.” Pria Kerempeng berlagak hendak memuntahkan isi perut.

Gorden kamar di sebelah kiri tersibak, dari baliknya menyembul wanita cebol berdaster hijau tua.

“Jangan kelamaan pasang kipas angin,” tegurnya.

Baling-baling kipas angin di sudut ruangan memelan sampai akhirnya berhenti berputar, usai tombol paling bawah ditekan Wanita Cebol. Sambil membetulkan hair roller di atas dahi, ia mendekati jendela, membuka gerendel dan mencantolkan pengait jendela itu,

“Begini, kan, lebih hemat listrik.”

Pria Kerempeng hanya mengambal sekilas dan kembali memelototiku “Cuih, cuma pertontonkan yang bagus biar dipuja-puja, padahal banyak hancurnya!”    

“Daripada pagi-pagi darah tinggi, mending sana cari penumpang,” suruh Wanita Cebol.

Dagu Pria Kerempeng terangkat, menunjuk cepat ke wajahku, “Lihat tuh yang dulu kamu bela-bela. Sekarang semua susah.”

Wanita Cebol mengempaskan bokong di sebelah Pria Kerempeng “Nggak usah pikirin yang dulu-dulu,” sahutnya, “Pikirin gimana cari duit buat sekarang.” Ia merampas remot dari tangan Pria Kerempeng, mengecilkan suaraku “Anakmu itu butuh makan bergizi. Kasihan tiap hari cuma asal makan.” 

“Makan bergizi?” dahi Pria Kerempeng mengerut “Kan, di sekolahnya ada yang gratis-gratis itu.”

Pria Kerempeng dan Wanita Cebol saling pandang sejenak, kemudian tawa mereka pecah serentak. Keduanya terpingkal-pingkal sampai Wanita Cebol lebih dulu menyudahi.

“Pokoknya tanggung jawab kamu buat kerja keras biar hidup kita nggak gini-gini aja,” kata Wanita Cebol.

Ia menyikut lengan Pria Kerempeng “Sana cari duit yang banyak. Beras kita tinggal dikit.” 

“Ah, kerja keras juga percuma. Rupiah makin melemah, ini itu naik mulu harganya.” Pria Kerempeng menggaruk tengkuk. “Pejabat, sih, terjamin hidupnya. Lah, kita? Patah-patah badan dari atas sampe bawah.”

“Dasar laki-laki cerewet. Nggak usah banyak alasan. Buruan berangkat sana!” Wanita Cebol merotasikan bola mata. “Ngomel di sini terus nggak akan bikin butiran beras jatuh dari langit-langit kontrakan reot ini,” tukasnya.

“Ya, iyalah. Kalo mau nunggu yang jatuh, tuh tahi cicak.”

Sontak Pria Kerempeng melesat masuk kamar begitu Wanita Cebol menghantamkan remotku ke bibir pria itu. Sejurus kemudian, Wanita Cebol mengganti wajahku: perempuan cantik dan laki-laki setengah baya berdiri bersebelahan di tengah sodoran mikrofon-mikrofon.

Pupil Wanita Cebol membesar, disusul mulutnya yang menganga lebar. Buru-buru jempolnya menekan simbol tambah pada remotku.

“Kawin-cerai-kawin-cerai. Palingan pengalihan isu negara.” Pria Kerempeng kembali muncul, berkomentar sambil memasukkan lengan ke dalam jaket lusuh yang telah rusak ritsletingnya.

Pandangan Wanita Cebol tidak beralih dariku. Ia bertutur, “Kelihatannya dia selama ini bahagia, tapi ternyata stok selingkuhan suaminya di mana-mana.”

“Orang kaya mah rawan. Mending laki-laki biasa, tapi setia.”

Pria Kerempeng menatap Wanita Cebol seraya menaik-turunkan alisnya.

“Kamu mah setia karena dekil dan gak berduit. Emang perempuan bening mana yang bakal mau sama kamu?” Wanita Cebol mencebik. “Coba kalo kaya dikit, pasti kamu nyetok juga.”

“Kampret. Gini-gini aku-”

“Gempa!” pekik Wanita Cebol.

Deretan pigura di dinding bergetar. Meja tempatku didudukkan bergoyang ke kanan kiri bersama guncangan sekeliling. Wanita Cebol tampak gelagapan. Sesudah mengeluarkan jeritan seperti tikus terjepit, ia berlari ke arahku, berjongkok, dan masuk ke kolong meja.

Sementara itu, Pria Kerempeng menepuk jidat,

“Kenapa sembunyi di situ? Meja itu sudah lapuk! Selama ini cuma ditopang pake janji pemilu.”

“Di mana, dong?” Wanita Cebol menyahut panik.

Ia merangkak keluar, terbirit-birit menuju dapur. Pria Kerempeng terlihat hendak mengekor, tapi kemudian tatapannya menubruk breaking news di wajahku: sekumpulan orang muda memegang karton besar bertuliskan kalimat tuntutan. Beberapa berseru dengan kepalan tangan di udara. Dari tengah mereka asap tebal membubung ke langit.

Pria Kerempeng berdiri setengah bungkuk. Sebelah tangannya berpegangan pada sandaran sofa di sisi kiri, sedangkan jemari tangan satunya menggepit ujung bufet di sisi kanan. Dalam keadaan masih bergoyang, mata pria itu membidik tajam kepadaku. Ketika akhirnya guncangan berhenti, Pria Kerempeng segera berselonjor di depanku, sedikit mendongak.

Tanpa disadari, Wanita Cebol sudah berdiri di belakang Pria Kerempeng, menggertakkan gigi sembari meremas kedua tangan kosongnya. Ia berbalik ke arah dapur dan tak berselang lama kembali dengan menggenggam centong nasi. Diayunkannya centong nasi itu ke batok kepala Pria Kerempeng.

“Nonton mulu kerjaanmu!” geram Wanita Cebol. “Gak nyariin aku, gak mikirin keadaanku gimana!”

Usai mengadu sakit, Pria Kerempeng balas menjawab, “Justru ini lagi kepikiran kamu. Lihat aksi demo anak muda gitu, aku berasa nostalgia. Jadi ingat pertama kali kita ketemu.”

“Masa?”

Pria Kerempeng menggangguk. “Siang itu di lokasi aksi lagi terik-teriknya, terus kamu datang nyodorin es mambo kacang ijo ke aku, padahal kita belum kenal. Perhatian banget.”

“Matamu perhatian! Orang aku emang lagi jualan es di situ,” sergah Wanita Cebol, “Dan kamu kelihatan udah mau mati kepanasan. Jadi kutawari, lah!” Ia mendesah. “Ternyata malah nolak. Es tiga ribu doang gak dibeli.”

“Loh? Waktu itu, kan, situasi mulai kacau. Gas air mata ditembakkin ke kerumunan. Mending menghindarlah.” Pria Kerempeng menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Lagian masa mataku lagi perih malah nyeruput es?”

“Menghindar, sih, menghindar. Tapi kamu malah dorong aku sampe jatuh semua es jualanku. Diinjak-injak orang pula. Rugi, deh!”

“Masih aja kamu ungkit itu.” Pria Kerempeng mengusap kasar mukanya. “Kan, aku dorong kamu biar kamu nggak terjebak di situ.”

“Iya, deh, iya.” Wanita Cebol mengipasi lehernya dengan centong nasi. “Udah nggak usah bahas masa lalu,” desisnya, “sana cari penumpang. Dari tadi nggak jadi-jadi berangkat.”

Pria Kerempeng melongo, tampak tidak percaya. Sambil menelengkan kepala ia berucap, “Barusan gempa, loh.”

“Terus kenapa?”

“Bisa jadi ada susulan.”

“Ya, terus?” 

“Kamu pengen aku tetap pergi?”

“Kamu pengen aku nahan kamu?”

“Kamu mau aku mati di jalan?”

“Kamu mau anakmu mati lapar?”

Pria Kerempeng mengentakkan napas pasrah. Telapak tangan kanannya bertumpu di lantai, kemudian mendorong tubuh berdiri. Namun, perhatian pria itu kembali terpancing ketika sebuah iklan layanan masyarakat muncul di wajahku. Ia menyimak dengan tatapan anti. “Malah selipin propaganda begitu,” cibirnya. “Gini nih kalo masyarakat salah pilih-”

Perkataan Pria Kerempeng seketika terputus, kalah cepat dengan telunjuk Wanita Cebol yang dengan gusar mematikanku.

Menangis pertama kali pada bulan Mei 2003. Saat ini aktif di komunitas Area Penjelajah Sastra. Instagram @grizetha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!