Usia 25 atau 18 Ternyata Sama Saja

71

Malam ini, saya gabut. Saya memikirkan tentang ulang tahun ke-25  yang akan jatuh beberapa hari lagi dan merasa rusuh sendiri. Biasalah, gejala-gejala utama over-thinking.

Beberapa orang yang menginjak usia 25 tahun di lingkaran pertemanan saya sudah melakukan hal-hal fantastis. Seperti, kuliah di luar negeri, menikah, bahkan punya anak. Hal ini tiba-tiba saja menjadi concern saya selama beberapa hari belakangan.

Selain itu, kehidupan saya di tahun ini juga tidak begitu mulus. Hey, siapapun merasakan hal yang sama, kan?

Okay, skip. Karena mengisi kegabutan sebelum tidur, saya mencoba browsing mengenai usia 25 tahun. Tentunya sebelum menjalani umur ini di satu tahun ke depan, saya harus mengenalinya lebih baik.

Kalian pasti bisa menebak isinya. Halaman pertama google dipenuhi artikel-artikel mengenai kondisi mental orang-orang di usia 25 tahun. Selain itu, saya juga menemukan video mengenai tips bebas finansial.

Namun, bukan itu yang ingin saya bahas di sini. Dari sekian banyak artikel, saya menemukan satu kutipan menarik dari Sarah Jayne-Blakemore, seorang Neurosaintis.

Katanya, usia remaja seseorang “meluas” hingga usia 25 tahun. Saya semakin penasaran dengan pernyataannya yang dikutip di dalam salah satu situs berita.

Karena rasa penasaran, saya mengumpulkan informasi lebih dari beberapa artikel lainnya. Kemudian, saya memutuskan menonton video TedTalk Sarah Jayne-Blakemore. Video ini dibuat pada tahun 2012, sudah cukup lama di internet.

Dalam videonya, Sarah menjelaskan mengenai karakteristik otak remaja. Informasi-informasi seperti prefrontal korteks yang baru berkembang di usia remaja hingga volume gray matter yang akan mengalami penurunan di usia 22.

Karakteristik inilah yang membuat remaja tampak seperti suka mengambil resiko, memiliki kontrol impuls yang buruk, dan sadar terhadap dirinya. Inilah letak keutamaannya sehingga pendidikan, intervensi, dan rehabilitasi akan berimplikasi mendalam bagi remaja.

Singkatnya, usia remaja merupakan usia yang paling tepat untuk eksplorasi diri.

Nah, justru saya tertarik untuk membahas mengenai versi lite otak kita saat usia remaja. Khususnya, betapa Amygdala mengambil kontrol yang kuat dalam pembuatan keputusan. Mungkin saat membaca ini, kita akan mengingat kejadian bolos sekolah, makan di saat jam pelajaran, hingga memaksakan diri untuk diterima dalam kelompok pertemanan. Semua karena kerjaan Amygdala.

Saat ini saya hampir 25, tapi penjelasan soal umur 18 ini malah terasa nyata menggambarkan saya yang hampir 25 ini. Well, ini yang membuat usia 25 tampak terasa seperti versi standar dari usia 18.  Menurut Sarah Jayne-Blakemore, bagian prefrontal korteks otak akan berkembang hingga akhir 20-an dan awal 30-an.

Hal inilah yang menjadi pembeda remaja dan dewasa. Sehingga, pada masa remaja kita cenderung emosional dalam mengambil keputusan. Sementara, saat menginjak usia 25 tahun, kita akan mencoba lebih rasional.

Informasi ini cukup membuat saya agak tenang. Saat nanti saya di usia 25 tahun, secara alamaiah daya akan mempunyai keunggulan dibanding saya di usia 18 tahun, prefrontal korteks.

Saya yakin dengan prefrontal korteks yang sudah matang, keputusan-keputusan yang akan diambil lebih rasional. Hanya saja, melihat 25 tahun ini, saya cuma merasa seperti 18 tahun untuk kedua kalinya. Sedih.

Leave A Reply

Your email address will not be published.