

Upeti untuk Kota yang Tuli
jamur tumbuh di dalam bangkai ilalang
payung besar menjadi contoh kerja kasar
mengarungi samudra tanpa awak kapal
turun ke jalan mencoret-coret bangku taman
mengacak-acak pagar pembatas
saku celana robek, kaki pincang, sandal beda sebelah
menenggelamkan wajah di meja guna meneduhkan segala kekacauan
yang melanda kawasan tanpa tujuan bebas
mewakili pergulatan etika
keadilan mati, empati mati, harapan mati
suara, komentar, teriakan sudah tidak lagi relevan
mungkin semua yang ada disini hanya akan berjalan
sementara tidak untuk selamanya
Ketapang, 30 April 2026
Mengurai Busuk yang Tercium Lama
di tengah tekanan yang terus mengejar kegeraman
dendam terus tumbuh diam-diam
hal-hal buruk justru tumbuh subur dari tanah kematian
kutipan tajam mengenai hilangnya ruh kemanusiaan
merusak kebusukan yang telah lama tercium baunya
mencemari bahasa tubuh demi karya nyata
sebuah tamparan keras yang membangunkan waktu yang terbuang
mengenali ejaan kata per kata dari putus asa
Ketapang, 29 April 2026
Si Mata Kuning Penakluk Malam
bayangan berbulu hitam legam berbaring malas di kaca jendela
mendekap malam dengan tenang
mata kuningnya menatap waspada
kadang manja, kadang mandiri
kadang manis, kadang histeris
aroma napas yang khas tak jarang membuat meringis
namun kotak pasir selalu higienis
suka berguling-guling di atas genting
tak lupa meninggalkan jejak kaki yang jelita
mengeong-mengeong di depan pintu rumah
pulang-pulang membawa oleh-oleh seekor ikan
mendekat jika ada maunya
Ketapang, 1 Mei 2026
Lahir di Banyuwangi. Kini mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi. Karya-karyanya telah dimuat di media cetak, media online, dan antologi. Instagram @amll_fxyy
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!