Beberapa tahun belakangan Karawang mengalami pembangunan yang cukup cepat dan masif. Tak heran jika citra kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara ini juga menjadi magnet bagi para pekerja dari berbagai daerah. Entah domestik hingga mancanegara.

Orang-orang pindah ke Karawang dan bekerja, meningkat pula jumlah penduduk yang tidak berdasarkan pada angka kelahiran. Bukan saja lahan industri yang meningkat, kebutuhan-kebutuhan utama seperti tempat tinggal dan proyek-proyek perumahan juga sama meningkatnya. Kita bisa lihat di mana-mana di Karawang sedang membangun. Pusat-pusat perbelanjaan merentang dari sisi utara ke selatan, barat ke timur. Kawasan-kawasan pemukiman seperti Galuh Mas, Resinda, Grand taruma, Summarecon Emerald. Tidak heran jika lahan-lahan pertanian dan pemukiman  di desa-desa mulai berubah menjadi lahan-lahan perumahan dan pabrik.

Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City mengatakan:

“…identitas kota adalah citra mental yang terbentuk dari ritme biologis tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu (sense of time), yang ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktivitas sosial-ekonomi-budaya masyarakat kota itu sendiri.”

Maka dengan melihat gaya pembangunan yang didominasi oleh pusat perbelanjaan dan komplek Pemukiman elit, alih-alih perpustakaan, museum, dan gedung kesenian, saya merasa ada yang salah dengan citra mental pembangunan Karawang ini.

Sampai sejauh ini di kota yang begitu pikuk dan besar ini tidak ada ruang yang bisa kami gunakan untuk pameran atau melakukan pertunjukan seni tanpa perlu membayar harga sewa dengan harga yang bikin kami kelabakan mencari dana ke mana-mana, padahal gedung dan fasilitas yang sudah dibiayai oleh uang belanja daerah.

Bukanlah semua ini perlu ada, bila ingin membangun kota yang memiliki identitas yang tidak sekadar akumulasi kapital saja?

Tak heran jika Karawang menjadi kota yang sepi meski ramai, ramai tetap terasa sepi. Sepi dari kesenian yang digarap warganya sendiri, sepi dari ruang-ruang belajar yang membangun kebudayaan dan kesenian kami sendiri, dan sepi dari ruang bermain yang membangun ekosistem ceria untuk kami sendiri.

Melawan sepi di Karawang: membangun kota dan peradaban bersama

Tapi keresahan itu nyatanya menipis setelah tumbuh satu-persatu ruang untuk pertunjukan seni dan diskusi untuk kami merumuskan sendiri permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar kota, yang tentu saja tidak dibangun oleh pemerintah atau pihak swasta yang berorientasi pada akumulasi kapital belaka.

Alangkah menyenangkannya kehadiran DAS Kopi yang dikelola oleh kang Yuda Febrian dkk, menjadikan tempat sederhana ini sebagai ruang yang ramah dan sedia untuk menjadi ruang bermain bagi komunitas-komunitas yang ada di Karawang, yang satu-persatu dari mereka tumbuh untuk turut meramaikan khazanah persilatan karya seni dan budaya Karawang, sebut saja komunitas seperti Semesta Literasi dan Perpustakaan Jalanan Karawang, yang beberapa waktu lalu mengadakan sebuah acara bedah buku “Aku Radio Bagi Mamaku” dan mendatangkan langsung penulisnya yang hebat yaitu Abinaya. Dan kabar bahagianya hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk melawan sepi tadi.

Beberapa pekan yang lalu juga Das Kopi menghadirkan Das Market vol 3 yang digarap kang Yuda bersama rekan-rekannya dengan jargon “Revolusioner” dan tagline “Karya Ga Tau Batas”.

Saat gelaran tersebut pun saya menangkap moment-moment yang jarang ditemui, yang semoga saja dapat mengubah wajah Karawang ke depannya. Di hari ketiga contohnya, kulihat tiga perempuan paling berbahaya yaitu Neng Mayang dan Adis dari Karawang bertemu dengan Yayu NH dari Purwakarta. Mereka terlibat dalam diskusi singkat yang cukup intens, entah wacana apa yang akan mereka perbuat nantinya, mungkin saja mereka ingin sesegera mungkin meruntuhkan sistem yang dirasa masih patrialki ini. Di hari ke-4 setelah acara penutupan Das Market usai, saya, Raga, dan Zul dari teras buku, bersama Jojon, Rafi, dan kawan-kawan lainnya dari Perpustakaan Jalanan Karawang, sambil melinting-linting tembakau yang ada, kami terlibat dalam obrolan santai seputar pengalaman ngelapak buku, dan sepakat untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi untuk nantinya akan menjalankan beberapa program bersama.

Tentu saja upaya menghidupkan kota mesti menjalar hingga ke sudut-sudut nya. Di Cikampek saya memiliki tempat bermain yang lain namun serupa, kedai Authentic yang dikelola Bule, Ewok, dan Anjas. Kedai Authentic selalu memberikan ruang bagi saya dan teman-teman di Cikampek untuk membuat acara/ event, seperti acara pembacaan puisi “Suara Sudut Kota” dan “Youth Local Movement Vol 1” yang digarap secara kolektif bersama komunitas-komunitas yang ada di Cikampek, mulai dari Teras Buku, Rumah Warna Kolektif, Standup Comedy Cikampek, dan lainnya, yang sama-sama ingin membangun taman bermainnya sendiri, konsep yang mirip dengan Das Market, event dengan tagline “Muda Karya Raya” itu pun akhirnya berjalan.

Untuk menghadirkan sebuah perubahan, dalam hal ini melawan sepi di kota sendiri, kita tidak harus berharap pada pemerintah, meskipun itu memang tanggung jawabnya. Terkadang perubahan mesti kita ciptakan dengan tangan kita sendiri. Dengan karya yang menghidupkan kita dan kota tempat kita hidup.

Das Market dengan “Karya Ga Tau Batas nya”, atau Youth Local Movement dengan “Muda Karya Raya” adalah upaya untuk menghidupkan kota yang ramai dari pembangunan, tapi hakikatnya sepi itu.

Efek Rumah Kaca menyanyikan: “Kami ingin lebih bergizi, bukan hanya yang mal nutrisi, substansi. Menembus rimba dan belantara sendiri, membangun kota dan peradaban sendiri, pasar bisa diciptakan”.

Keinginan membangun peradaban itu harus terus diupayakan, untuk terus membangun ruang bersenang-senang, hingga menarik mereka yang tersudut sendiri di kamarnya, bergulat dengan rasa sepinya, agar yang sepi bertemu dengan yang sepi di ruang sepinya yang ramai, hiduplah kawan!.

Profil Penulis

Egi Irawan
Egi Irawan
Aktif di Terasbuku