

Setiap Hokky ada masanya, setiap masa ada Hokkynya~ Anjay
Dulu saya sempat kesal jika ada yang membandingkan-bandingkan Struick dengan Hokky. Pasalnya orang tidak memberi kritik membangun, melainkan mencacinya. Bayangkan saja, anak umur 19 tahun, membela panji negara, bukannya didukung malah dihujat.
“Banyak gaya, golnya nol!”
“Pemain kayak gini kok bisa dipanggil timnas!”
Begitulah umpatan-umpatan yang keluar dari kritikus tak ber-iba.
Jika kalian masih ingat, timnas di era Shin Tae-Yong (STY) mengandalkan pemain muda pada posisi striker. Sebut saja seperti Rafael Struick, Ramadhan Sananta, Dimas Drajad, dan Hokky Caraka. Nama yang terakhir paling nahas. Ia selalu dicemooh oleh para fans: dianggap beban tim, tidak memberi kontribusi, dan lain sebagainya
Para fans saat itu lebih merestui Rafael Struick dan Ramadhan Sananta jadi penyerang timnas dibanding Hokky. Seandainya Hokky berada di line up daftar pemain yang diturunkan sejak awal pertandingan, maka fans akan pesimis duluan. Menurutnya, kemenangan adalah keajaiban dunia yang kedelapan kalau Hokky ada di line up.
Selain alasan tersebut, kekesalan saya pada pengkritik Hokky karena saya kebetulan penggemar PSS Sleman, dan saat itu Hokky bermain di PSS. Melihat pemain sendiri dicaci tentu saya gak ridho. Meski saat itu saya juga mengamini performa Hokky yang mengecewakan.
Namun kondisinya kini justru berbanding terbalik. Hokky sekarang lebih baik dari Struick, dan saya pastikan tidak ada perdebatan akan hal ini karena sekarang saya yang gantian akan membandingkan Hokky dengan Struick!
Perbandingan Hokky Caraka dan Rafael Struick (menurut saya)
Saat ini keduanya bermain di BRI Super League. Jika dulu Struick masih bermain di ADO Den Haag dan Brisbane Roar, saya setuju Struick di atas Hokky. Sebab keduanya bermain di liga yang berbeda dan saat itu level liga Struick berada di atas Hokky.
Namun kini keduanya bermain di liga yang sama, yakni BRI Super League. Kasta teratas dari Liga Indonesia. Hokky bermain di Persita Tangerang sementara Struick di Dewa United. Maka membandingkan keduanya dengan statistik adalah perbandingan yang apple to apple.
Di musim ini gol Hokky lebih banyak daripada Struick. Berdasarkan data statistik, Hokky telah mencetak empat gol dan satu assist. Sedangkan Struick baru mengemas satu gol tanpa assist. Dari segi kontribusi gol (jumlah gol dan assist), Hokky lebih banyak daripada Struick. Kontribusi gol Hokky sudah lima, sedang Struick masih satu.
Memang, menit bermain Hokky jauh lebih banyak daripada Struick. Justru banyaknya menit bermain adalah bukti tingginya kepercayaan peltih pada sang pemain. Artinya Hokky lebih menjanjikan daripada Struick. Hokky Caraka sudah lebih dulu meyakinkan Carlos Peña di Persita. Sedangkan Rafael Struick masih dalam tahap meyakinkan Jan Olde Riekerink.
Mentalitas Hokky sudah Teruji dan Berhasil Bangkit!
Saat masih aktif bermain di timnas, Hokky sering dicaci, dibully, dan dikritik secara pedas terutama di media sosial. Singkatnya Hokky lebih sering menerima cacian daripada pujian.
Namun bocah ini punya mental yang kuat. Alih-alih drop, Hokky malah membuktikan bahwa netizen salah menilainya. Ia mentahkan semua komentar negatif dengan performa ciamik di lapangan. Gol demi gol dicetaknya untuk bantu Persita Tangerang raih kemenangan.
Sedangkan Struick saat ini mengalami masa-masa yang sulit. Ia jarang diturunkan bersama Dewa United FC. Dari awal kedatangannya sampai sekarang, Struick belum menunjukkan kontribusi maksimal bagi timnya.
Hokky sudah Mencetak Gol lewat Salto
Dari keempat gol Hokky, ada satu gol yang bagi saya memukau. Yakni gol salto akrobatiknya saat Persita melawan Persik Kediri. Gol yang bukan sekadar tendangan biasa. Tapi aksi akrobatik yang bikin orang melongo dan berkata,
“Kok iso yo?”
Saat itu dua gol Hokky Caraka mengantarkan Persita raih kemenangan atas Persik.
Setahu saya gol salto di Liga Indonesia itu jarang karena membutuhkan keterampilan teknis tinggi. Pemain di Liga Indonesia cenderung jarang melatih diri mencetak gol salto. Lha wong passing aja masih sering salah.
Hokky Dipanggil Timnas lagi, sedangkan Struick Tidak
Dari tiga pelatih terakhir timnas, Hokky selalu dipercaya membela timnas. Mulai dari STY, Patrick Kluivert, dan John Herdman. Sedangkan Struick pada tahun ini tidak dipanggil timnas. Entah karena performanya yang anjlok atau yang lain saya kurang tahu. Yang jelas ini semakin membuktikan bahwa Hokky lebih baik dari Struick.
Saya harap kedepannya netizen lebih bijak lagi dalam menberi kritik. Karena kedua pemain tersebut adalah aset berharga timnas. Semoga keduanya (terkhusus Struick) dapat kembali ke performa terbaiknya. Dan memberikan kontribusi bagi timnas.