Sexy Killers, film dokumenter garapan Watchdoc itu berhasil membuat mata terbelalak dan membuka banyak perbincangan. Dengan banyaknya informasi baru yang agak mengegetkan, Sexy Killers telah mengisi lubang informasi penting yang selama ini hilang. Melihat karya tersebut, kita rakyat Indonesia seperti sedang terkena hantaman pendulum yang begitu besar, yang berayun memantul tiap waktu, hingga menyisakan satu kata: geram dan rasa tak percaya.

Sexy Killers mengupas seluk beluk usaha pertambangan batu bara di Indonesia. Bukan masalah untung dan rugi yang menjadi permasalahannya, melainkan ada fakta yang selama ini disembunyikan. Fakta besar yang sengaja tidak diperlihatkan itu sungguh menyita perhatian publik.

Karya besutan Dandhy Dwi Laksono dari Watchdoc Documentary tersebut secara komprehensif membeberkan soal bagaimana saling-silang perusahaan tambang batu bara menautkan para elite negeri ini. Sejak dirilis offline 29 Maret lalu, sudah tercatat 476 titik di Indonesia mengadakan nonton bareng. Setelah diunggah di youtube, 7,8 juta penonton terpikat dalam waktu dua hari. Entah berapa sekarang ini.

Otomatis, para penonton setelah itu dibuat menyalak bak anjing perumahan yang mengendus niat busuk maling. Amarah, makian, hujatan, hingga hilanggnya kepercayaan mencuat ke mana-mana. Belum lagi, investigasi tersebut hadir di sela panasnya demokrasi politik. Yang paling berbahaya dari semua itu ialah hilangnya rasa percaya dan hadirnya amarah. Itu efek nyata dan besar dari Sexy Killers.

Semua tahu, batu bara menjadi bahan paling murah untuk dikonvensi menjadi listrik. Tetapi permasalahnnya, ada fakta lapangan yang tidak semanis manfaatnya. Ada harga sosial dan ekologis yang mesti dibayar. Sexy Killers memaparkan beberapa fakta besar perihal itu.

Salah satu harga ekologis yang mesti dibayar ialah sebuah PLTU mengangkang di kawasan konservasi perairan yang kaya akan ikan dan terumbu karang. Disebutkan dalam laporan Greenpeace, PLTU Batang menjadi pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Asia Tenggara yang dibangun di tanah seluas 226 hektar dan “memangsa” lahan pertanian dan perkebunan produktif.

Dari segi harga sosial, Sexy Killers menunjukkan bahwa ada ratusan warga yang tenggelam di bekas galian tambang, puluhan warga terserang penyakit pernapasan, hingga kekerasan aparat saat pengambilalihan lahan. Semua dijelaskan di Sexy Killers.

Berdasarkan data, sepanjang 2014-2018,  ada 115 nyawa terenggut akibat bekas galian tambang yang tak terurus sebagaimana mestinya. Permasalahan itu yang membuat publik merasa telah dibodohi. Puncaknya, wacana golput saat pilpres menjadi isu terpenting yang harus disebarkan. Dalam hal ini, hilangnya rasa kepercayaan pada kekuasaan menjadi poin utama.

Dengan keberaniannya, Sexy Killers menyeret beberapa nama besar yang notabene sedang duel di RI-1. Jokowi, Prabowo, Ma’ruf Amin, Sandiaga Uno, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP), Erick Thohir, dan hampir semua nama-nama elit tak ada yang luput. Di sanalah letak meradangnya para pendukung kedua belah kubu. Sebab, investigasi tersebut membongkar seluruh keborokan yang selama ini disembunyikan. Dan yang paling meradang atas semua itu ialah para penonton Sexy Killers itu sendiri (publik).

Bagian terseksi dalam Sexy Killers ialah saat ditampilkan adanya keterlibatan para pejabat dan purnawirawan. Itu jelas bagian terseksi dari keseluruhan masalah. Para penonton meradang, nama-nama besar itu terlibat secara aktif sebagai direksi, komisaris, pemilik saham dan sebagainya. Keterlibatan para pejabat ini secara tidak langsung menjadi alasan mengapa pemerintah seakan tidak menunjukkan komitmen yang kuat dalam kelestarian alam dan isu energi.

Ephitumia dan Kekuasaan

Dalam bahasa Platon, nafsu akan kekayaan secara tak terbatas adalah epithumia (bagian jiwa manusia yang terletak di perut ke bawah, yang bertanggung jawab atas nafsu-nafsu makan, minum, dan seks, atau singkatnya nafsu dan uang).

Setelah melihat Sexy Killers, kondisi epithumia yang digambarkan oleh Plato itu mungkin yang paling pas untuk merangkum semuanya. Para elit di negara ini dari dulu selalu begitu. Nafsu berkuasanya sebanding dengan nafsu akan uang.

Rezim demokrasi di mata Ranciere adalah rezim oligarkis, salah satunya dalam bentuk oligarki modal. Sedangkan menurut Platon, oligarki sebagai rezim uang (epithumia) merupakan pendahuluan bagi munculnya demokrasi yang anarkis. Akibatnya nanti, hukum dan ikatan hidup bersama hilang karena masing-masing secara suka-suka mencari tujuan hidup masing-masing. Baik pemimpin atau rakyatnya, semua sibuk mencari jalannya sendiri-sendiri. Pemimpin lalai, rakyat golput.

Selain itu, rezim epithumia adalah rezim yang tidak peduli pada upaya pencarian bonum commune (kebaikan bersama). Setiap individu mencari sendiri-sendiri apa yang ia sukai, setiap kelompok menjadi kumpulan-kumpulan yang tak ada kaitannya satu dengan lainnya. Masing-masing mencari keinginan partikularnya yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan yang lainnya. Tidak ada prinsip penyatu yang bisa menjadi pegangan.

Itu bakal efek yang diterima oleh masyarakat bila sampai kepercayaan pada pemimpin hilang, dan sementara pemimpin juga tidak merasa harus menyelesaikannya. Seperti kehancuran yang tinggal menunggu waktu. Sexy Killers memberi banyak gambaran informasi perihal tanda-tanda akan terjadinya rezim yang mengerikan itu (epithumia).

Lanjutnya, dalam Republik (Plato), dinyatakan bahwa epithumia hanya mengikuti satu hukum: mencari yang nikmat dan menghindari yang menyakitkan. Tidak mampu berpikir kritis dan menimbang track-record pemimpin. Betapa gampangnya kita diperdaya memilih calon pemimpin yang berkhotbah manis bahwa “ia mencintai rakyat”.

Sexy Killers menurut saya, menyiratkan betapa Pemilu 2019 tidak menjanjikan pemimpin yang ideal. Siapapun yang menang, rakyatlah yang kalah.

Profil Penulis

Dwi Alfian Bahri
Dwi Alfian Bahri
Pengajar di SMP Swasta di Surabaya. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lahir dan tinggal di Surabaya 29 April 1993. Mengisi waktu luang dengan pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta kegiatan literasi dan seni di komunitas Surabaya.. Menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018).
Hosting Unlimited Indonesia