“Katakan kepadanya, Ma. Katakan kepadanya masalahnya ada di kepalanya. Siapa pun yang tahu tentang itu akan bilang di situlah masalahnya.”

Begitulah salah satu kutipan di dalam buku kumpulan cerita pendek ‘Apa yang kita bicarakan saat kita bicara tentang cinta’ karya Raymond Carver yang dibuat pada tahun 1981. Tapi alangkah baiknya jika kalian sedikit berkenalan dulu dengan Pak Tua ini.

Raymond Carver (1938-1988) adalah cerpenis Amerika yang terus dipuja hingga setelah kematiannya. Sebelum menjadi penulis, ia pernah menjajal berbagai pekerjaan kasar sehingga dia sangat hapal daki-daki kehidupan. Dia juga dikenal sebagai peminum berat yang berkali-kali nyaris tewas akibat kebiasaan buruknya. Dia baru berhenti mabuk-mabukan setelah bertemu, jatuh cinta dan menikah dengan penyair Tess Gallagher usai perkawinan pertamanya bubar.

Raymond Carver dalam kumpulan cerpen When We Talk About When We Talk About Love mengajak kalian masuk ke dalam kehidupan sepasang kekasih yang sudah berumah tangga. Alih-alih di dalamnya kalian bisa menemukan dunia penuh wahana indah nan menyenangkan, Pak Tua ini malah melempar kalian ke dunia sebaliknya: kekecewaan, kesalahan, dan kejenuhan—terkadang berakhir dengan perselingkuhan. Raymond mengemas cerita secara detail dan lugas, memuat rahasia di balik peristiwa, tingkah laku dan percakapan para tokoh cerita akan membikin kalian penasaran dan pasti akan bertanya “terus masalahnya apa?”

Wiski dan Vodka akan menemani perjalanan kalian menelusuri setiap tragedi yang terjadi antara sepasang kekasih. Seolah-olah tanpa kedua barang itu para tokoh di dalam cerita belum tentu ngomong melantur dengan asyik dan menemukan barang berharga di dalam kepalanya. Namun setelah barang berharga itu ditemukan oleh para tokoh yang terjadi hanyalah sebuah kesia-siaan.

Cerita pendek yang berjudul ‘Gazebo’ misalnya. Menceritakan sepasang kekasih yang bertahun-tahun membangun rumah tangga sampai mendapat hal-hal mewah. Pada suatu hari sang istri mengetahui suaminya berselingkuh dengan seorang cleaning service kamar hotel tempat si istri bekerja. Di lain waktu, dalam keadaan depresi, sang istri memilih untuk minum wiski bersama suami. Saat itu sang istri membeberkan semua keluh kesahnya, kekecewaannya bahkan berniat bunuh diri di hadapan suami. Namun karena sang istri sudah dalam keadaan mabuk berat, ia sulit beranjak dari tempat tidurnya untuk terjun dari lantai atas lewat jendela. Sia-sia bukan?

Kalian boleh menduga apa yang menjadi permasalahan cerita lewat perilaku dan percakapan para tokoh. Misalnya, mengapa si suami itu berselingkuh padahal ia mempunyai istri yang cantik dan menjalani hidup yang tidak sulit. Lalu apa yang akan dilakukan sang istri ketika terbangun dari tidurnya. Barangkali memang itu yang Carver inginkan: menggiring logika si pembaca supaya terjebak dalam kekalutan peristiwa.

Gaya penulisan Carver sangat terpengaruh oleh historitas visualnya sewaktu masih menjadi pemabuk. Sehingga ia mampu membuat kisah secara mendetail dengan gerak-gerik si tokoh dalam cerita. Peristiwa dan latar menjadi pelengkap kisah-kisah membingungkan dalam karya Carver.

Bahkan di buku ini, dalam cerpen yang lain kalian akan menemukan suatu peristiwa yang absurd. Cerpen dengan judul ‘Mandi’ misalnya. Tentang seorang bocah yang tertabrak mobil di hari ulang tahunnya. Sang ibu cemas dan membawa anaknya ke rumah sakit. Sang ayah dengan segera pulang dari kantor menuju rumah sakit. Namun ketika berjam-jam menemani sang istri di rumah sakit—menunggu anaknya bangun dari tidur—ketakutan membuat sang ayah ingin cepat pulang karena ingin segera mandi. Di rumahnya ia meneguk wiski lalu mandi. Sang ayah segera kembali ke rumah sakit dan membujuk sang istri untuk pulang dan beristirahat. Setelah itu ada ketakutan lain yang membuat sang istri ingin segera pulang.

Akhirnya saya membuat dua spekulasi yang berlawanan. Spekulasi pertama bahwa sang suami takut karena tidak bisa membayar tagihan rumah sakit mungkin sebab ia pernah mengalami kejadian yang sama sebelum menikahi sang istri. Sedangkan sang istri takut jika anaknya tidak bisa bangun lagi.

Spekulasi kedua yaitu sang suami ketakutan sang istri berselingkuh dengan salah satu dokter tempat si bocah dirawat. Sedangkan sang istri ternyata benar berselingkuh dengan dokter itu dan takut ketahuan oleh sang suami. Maka dari itu sang istri ingin cepat pulang untuk menghindari dokter.

Setidaknya ada sesuatu yang membuat saya bingung di dalam cerpen yang berjudul ‘Mandi’ ini. Ada tiga penyebutan nama di dalam satu tokoh. Misalnya orang ke tiga (orang yang bercerita) menyebut ‘si ibu’, ‘si istri’ dan ‘wanita itu’, ‘si ayah’, ‘si suami’ dan ‘pria itu’ dalam satu peristiwa. Sekali lagi saya katakan, Carver menggiring logika si pembaca dalam kekalutan peristiwa.

Cerita pendek terakhir dengan judul ‘Satu Hal Lagi’ bercerita tentang seorang ibu mengusir suaminya dari rumah. Sepulang kerja sang ibu mendapati suaminya mabuk dan mengganggu anaknya di dalam rumah untuk yang kesekian kalinya membuat sang istri geram. Cekcok antara ayah dan anak dibantu seorang ibu tidak terhindarkan. Kondisi sang ayah kacau. Akhirnya sang suami pergi meninggalkan seorang istri dan satu orang anak.

Carver seolah berpesan bahwa mabuk tidak akan menyelesaikan masalah tapi setidaknya memberikan jawaban atas apa yang harus dilakukan selanjutnya meski pada akhirnya berhadapan dengan maut sekalipun. Maka percayalah bahwa What We Talk About When We Talk About Love adalah tragedi orang-orang mabuk.

Profil Penulis

Fahad Fajri
Fahad Fajri
Lahir 28 Januari 1996 di Karawang. Sedang menempuh pendidikan strata satu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Singaperbangsa Karawang. Menyenangi bacaan bergenre prosa fiksi dan puisi. Dapat dihubungi melalui fahadfajri26@gmail.com .
Hosting Unlimited Indonesia