“Raden Mandasia adalah kabar baik,” tulis Sabda Armandio, penulis fiksi milenial kesayangan kita semua di blognya Maret 2016 silam. Raden Mandasia yang dimaksud adalah novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi besutan Yusi Avianto Pareanom. Sabda tak keliru. Raden Mandasia pun akhirnya menyabet penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016.

September 2017, Paman Yusi—begitu beliau biasa disapa—menerbitkan buku terbarunya, kumpulan 21 cerpen berjudul Muslihat Musang Emas. Saya memang tak mendengar Sabda Armandio atau siapa pun secara eksplisit bilang, “Muslihat Musang Emas adalah kabar baik.” Tapi, percayalah, Muslihat Musang Emas adalah kabar baik. Ia serupa oase di dunia cerpen Indonesia yang gersang dan menjenuhkan.

Saya rasa saya tak keliru. Muslihat Musang Emas hampir membuat Paman Yusi meraih Kusala Sastra Khatulistiwa untuk kedua kalinya dalam rentang tiga tahun. Sayang, ia hanya lolos lima besar. Seandainya tidak ada Kura-Kura Berjanggut—novel yang keparat bagusnya, kata banyak orang—dalam daftar nomine, rasa-rasanya Muslihat Musang Emas bakal meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2018.

           

Cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini bisa dirangkum dalam tiga deskripsi: unik, lucu, dan saya harap saya dan keturunan saya tidak mengalami nasib buruk serupa tokoh-tokoh dalam buku ini.

           

Unik. Cerpen-cerpen dalam buku ini tampak otentik dan lain dari kebanyakan cerpen-cerpen karya penulis Indonesia pada umumnya—sebutlah cerpen-cerpen koran.

Misalnya Benalu Tak Pernah Lucu, berkisah tentang seorang pelawak tunggal beserta kemalangan-kemalangannya. Pelawak tunggal atau stand-up comedian menjadi tren di Indonesia belakangan ini, namun masih jarang (atau tidak ada?) yang menggarapnya sebagai cerpen.

Ada pula Penyair yang Meninggalkan Ibadah Puisi, tiap si tokoh bepergian untuk baca puisi selalu ada tetangga atau kerabatnya mati. b.u.d, kisah orang yang gandrung dengan palindrom (yaitu kata, frasa, angka, susunan apa saja yang dibaca sama dari depan maupun belakang, misalnya kasur rusak). Kecerdasan dan Cairan Pekat, seorang tokoh yang tergiur berita khasiat sperma dapat meningkatkan IQ. Nasihat Bagus, mengulik kehidupan seorang buzzer politik. Ada nasihat bagus di ujung cerpen Nasihat Bagus ini, “Sebentar lagi 2019, siap-siap saja. Ingat, muka badak.”

Keunikan dalam kumpulan cerpen ini bukan hanya pada tema, tetapi juga pada gaya bercerita dan penamaan tokoh.

Alfion misalnya, menggunakan alur mundur yang rumit dan ciamik. Pengelana Waktu, cerita terpendek (hanya satu halaman) dalam buku juga memakai gaya penceritaan yang unik.

Nama-nama tokoh yang Paman Yusi buat bisa dibilang semacam kamus nama-nama penulis muda. Terutama dalam Samsara, Paman Yusi mencatut begitu banyak nama penulis muda sebagai karakter cerita. Ada Sabda Dhani Wibisono (gabungan Sabda Armandio, Arman Dhani, dan Nuran Wibisono), Irwan Anugrah (gabungan Irwan Bajang dan Dea Anugrah), Satryo Beni (kebalikan Beni Satryo), dan masih banyak lagi.

Lucu. Beberapa kali saya ngakak sepanjang membaca Muslihat Musang Emas. Tetapi sesungguhnyalah kelucuan dalam cerita-cerita di buku ini adalah kelucuan yang ironis. Seringkali kelucuan itu datang bersamaan dengan tragedi-tragedi yang dialami si tokoh. Fotografer yang jatuh cinta pada perempuan yang ternyata transgeder (ketika ia sudah menerima ketransgenderan si perempuan, ternyata si transgender seorang lesbian), si cebol yang mati diinjak gajah, hingga tokoh yang berganti nama dan berganti tempat tinggal berkali-kali tetapi tetap saja ketiban sial melulu.

Dalam Benalu Tak Pernah Lucu, ada bagian begini: “Humor dewasa andalannya, yang nyaris selalu bisa mengecoh pendengar baru, berkisah tentang seorang pemuda bernama Heru yang oleh karena kelicinannya bisa berpacaran dengan sepasang saudara kembar sekaligus. Humor itu melibatkan pertanyaan Berto kepada pendengarnya: Bagaimana cara Heru membedakan dua saudara kembar yang menjadi pacarnya? Para pendengarnya muncul dengan berbagai jawaban, tapi tak pernah ada yang tepat. Setelah mereka menyerah, Heru berkata, ‘Gampang saja. Si Mulyani susunya besar, sementara si Mulyadi…. ’ Biasanya, Berto tak perlu melanjutkan dengan menyebutkan ukuran peranti vital Mulyadi karena pendengarnya sudah terbahak. Dari semua orang kantor yang mendengar humor itu, hanya kepala bagian keuangan yang tak kunjung paham di mana letak lucunya sehingga Berto frustrasi sendiri.”

Sepanjang membaca cerpennya, saya cuma berdoa agar saya dan keturunan saya tidak mengalami nasib buruk serupa tokoh-tokoh dalam buku ini. Bisa dikatakan, Muslihat Musang Emas adalah antologi penderitaan umat manusia yang berlapis-lapis. Hampir semua tokoh dalam cerpen ini kedapatan nasib buruk, yang sialnya, nasib buruk tersebut datang berderet-deret seperti rangkaian kereta.

           

Dua cerpen terbaik dalam buku ini, Samsara dan Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia, menggambarkan secara gamblang nasib buruk tokoh yang serupa rangkaian kereta. Paman Yusi seolah mengamalkan betul kata-kata seorang penulis, “Jangan pernah kasihani tokoh dalam ceritamu.”

           

Singkatnya, cerpen-cerpen dalam buku ini dapat membuat kita (setidaknya saya) kagum, tertawa, dan menangis dalam waktu berdekatan. Persis seperti kehidupan sehari-hari. Penuh dengan hal-hal yang mengagumkan, kocak, sekaligus menyedihkan. Intinya, Muslihat Musang Emas adalah kabar baik. Sebagaimana umumnya kabar baik, kadang membuatmu berbinar, tersenyum, atau melinangkan air mata haru. (*)

            Data Buku:

            Judul: Muslihat Musang Emas

            Penulis: Yusi Avianto Pareanom

            Penerbit: Banana

            Tebal: 246 halaman

            Tahun: 2017

          

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.
Hosting Unlimited Indonesia