Melakukan penelitian lapangan selalu memiliki cerita yang sulit untuk dilupakan. Hal ini tentu dirasakan banyak ilmuwan sosial yang pernah melakukan penelitian dalam waktu lama dan tinggal bersama dengan suatu komunitas. Roanne van Voorst merekam waktu-waktu kerja lapangannya itu, lalu menuliskannya dalam sebuah buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca.

Buku ini berjudul Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta. Roanne sebenanrya menuliskan buku ini dalam Bahasa Belanda yang kemudian diterjemahkan oleh Martha Dwi Susilowati lalu diterbitkan oleh Marjin Kiri. Meskipun bukan dalam bahasa aslinya, penerjemahan buku ini luar biasa serius dan benar-benar tidak membuat pembacanya bingung. Sesuatu yang sering sekali ditemukan dalam karya terjemahan, terutama pada karya non-fiksi.

Roanne menghabiskan waktu lebih dari satu tahun tinggal bersama orang-orang yang menghuni kawasan rawan banjir. Memang Roanne sendiri bercerita bahwa tujuannya datang ke Indonesia pada saat itu adalah untuk melakukan penelitian lapangan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Doktoral yang sedang ia tempuh. Menariknya, Roanne memutuskan untuk menggunakan metode etnografi dalam penelitiannya karena ia merasa banyak literatur mengenai banjir Jakarta kurang “merasakan” bagaimana kehidupan sehari-hari dari masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Ketika membaca buku ini, saya sebagai pembaca dapat menangkap bagaimana kehidupan masyarakat di bantaran sungai yang selalu siaga kapan pun itu.

Adanya tokoh dengan karakter “kuat” yang dimunculkan dalam suatu karya non-fiksi boleh jadi sering dilakukan oleh antropolog pada karya etnografinya. Penulisan yang dilakukan Roanne mengingatkan saya pada karya “klasik” dari Anna Tsing yang terbit pada dekade 1990-an berjudul Dibawah Bayang-bayang Ratu Intan (terjemahan). Tsing memunculkan sosok Uma Adang yang begitu fenomenal dalam bukunya, sebagai “tempat” bagi Tsing belajar berbagai hal tentang Orang Meratus di Kalimantan Selatan. Hal ini juga dilakukan oleh Roanne dengan memunculkan Enin sebagai seorang yang selalu mengisi hari-hari kerja lapangannya. Enin menjadi tokoh yang memiliki identitas cukup kompleks dan digambarkan kontradiktif, seperti sering memberikan larangan terkait “yang seharusnya” tetapi disisi lain juga membicarakan hal “tabu” bagi masyarakat sekelilingnya.

Secara umum buku ini memiliki alur waktu yang sangat jelas. Bagian awal pembaca akan disuguhkan dengan perjalanan Roanne sampai menemukan kampung Bantaran Kali lewat perkenalan dengan seorang pemuda bernama Tikus. Kemudian Roanne mulai masuk dalam bagian “kerawanan” dan “kesiagaan” orang-orang Bantaran Kali menghadapi banjir yang sewaktu-waktu akan datang. Selanjutnya Roanne mulai membahas dari sisi kehidupan sehari-hari di mana ada stereotip yang disematkan pada orang-orang di kampung Bantaran Kali sehingga seringkali ini menyulitkan mereka untuk mendapatkan pelayanan seperti contohnya dalam bidang kesehatan. Roanne kemudian menunjukkan bagaimana masyarakat yang seperti menjadi bagian buram perkembangan kota Jakarta ini memiliki strateginya masing-masing untuk dapat tetap bertahan dalam berbagai tekanan, seperti mencari peluang untuk tetap menabung atau berinvestasi dengan mekanisme yang berbeda dengan cara menabung “formal” di bank. Kemudian ada bagian yang, bagi saya, terkesan meromantisasi tetapi disuguhkan dengan cara yang berbeda oleh Roanne. Ini adalah bagian dimana Roanne bercerita tentang budaya komunal yang menurutnya sangat berbeda dengan kehidupannya di Belanda. Kesan untuk “tidak membiarkan seseorang sendiri” disuguhkan oleh Roanne dengan pengalamannya ketika hendak “meliburkan diri” dari rutinitas kerja lapangannya dan membutuhkan waktu untuk sendiri yang ternyata benar-benar tidak ia dapatkan meskipun sudah keluar dari lokasi penelitiannya. Bagian akhir adalah bagian yang menurut saya paling sentimentil. Roanne menceritakan komunikasi yang tetap berjalan meskipun ia sudah selesai melakukan kerja lapangannya dan juga gelar Doktor sudah ia dapatkan. Ketika Roanne kembali ke Indonesia, ia menyempatkan kembali ke kampung Bantaran Kali dan mendapati bahwa kampung itu hampir sudah tidak dapat dikenali lagi karena adanya penggusuran dan hanya beberapa orang tetangganya yang masih tinggal di sana. Roanne juga menggambarkan bagaimana orang-orang yang ia kenal selalu ceria kini lebih pendiam dan terlihat kurang bersemangat.

Membaca buku ini saya katakan sangat menyenangkan karena kritikan terhadap suatu kebijakan ataupun kepengaturan yang dilakukan oleh pembuat kebijakan dikemas dengan cara yang sederhana dan tidak rumit. Memang ini bukanlah suatu karya akademis yang menitikberatkan pada bangunan teoritik dari penelitinya. Buku ini hanyalah memuat sebagian kecil kontradiksi-kontradiksi dalam praktik pembangunan sebuah kota metropolitan yang melibatkan aspek manusia dan non-manusia pada suatu kerangka kepengaturan, yang sebenarnya cenderung bersifat tidak mau ambil pusing.

Roanne mengemas karya ini dengan memadukan pengalaman dengan kutipan-kutipan wawancara serta penggambaran situasi yang membuat karya ini menjadi mudah untuk “dirasakan”. Karya seperti ini yang sebenarnya banyak dilakukan oleh para peneliti yang menggunakan metode etnografi. Roanne sendiri akhirnya mengalami apa yang sebenarnya dirasakan orang-orang di kampung Bantaran Kali meskipun hanya beberapa saat saja dibandingkan dengan mereka yang sudah puluhan tahun tinggal disana. Memang karya ini sangat cocok untuk dibaca sebagai suatu karya populer. Berbeda dengan buku yang berbicara tentang pembangunan lainnya, karya ini lebih menekankan dalam kehidupan sehari-hari “objek” kepengaturan dibandingkan untuk mengurai bagaimana suatu kebijakan pembangunan tidaklah berpihak pada mereka. Selain itu, Roanne juga tidak menyuguhkan narasi perlawanan atau pun wacana penggusuran sebagai suatu yang menakutkan bagi masyarakat. Ini menjadikan karya Roanne mendapatkan tempatnya sendiri sebagai narasi yang menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat di Bantaran Kali bukanlah sesuatu yang lain dari kehidupan masyarakat di sudut lain kota Jakarta.

Kamu kan gak kerja, Roanne… satu-satunya yang kau lakukan cuma minum kopi dan ngobrol dengan kami!” (van Voorst, 2018:121)

Itu adalah kutipan perbicangan Roanne dengan salah seorang tetangganya yang berpikir bahwa ia tidak sedang bekerja. Mungkin ini juga yang sering sekali dialami oleh para peneliti dalam kerja lapangannya. Banyak orang berpikir bahwa apa yang dikerjakan seorang peneliti, seringkali antropolog atau peneliti di bidang ilmu sosial, ketika sedang melakukan penelitian lapangan hanyalah mendengar cerita saja dan duduk sambil menikmati minuman hangat.

Kerja lapangan bukanlah sesuatu yang cukup mudah untuk dilakukan. “Akhir pekan, hari kerja, siang, malam, libur, dan saat kerja – semua berjalan tumpang tindih disini… sebagian besar kerja saya itu berupa kegiatan yang tak menyerupai pekerjaan formal” (van Voorst, 2018:121). Ini adalah bagian yang membuat saya berpikir bahwa pekerjaan seperti itu tidaklah mudah untuk dikerjakan. Bagian ini juga kemudian menjadikan kerja Roanne di kampung Bantaran Kali menggenapi adanya pembagian kerja dalam sebuah kota metropolitan seperti Jakarta yang kemudian cenderung mudah untuk mengeksklusi para pekerja di sektor “non-formal” tetapi lupa bahwasanya “orang-orang non-formal” juga turut aktif dalam menghidupi kota ini.

Buku ini sendiri menjadi pembuktian, setidaknya bagi Roanne sendiri, bahwasannya ilmu pengetahuan tidak seharusnya menjadi menara gading, tetapi harus dapat bermanfaat dan dapat membantu orang-orang yang “lemah”. Buku ini menyajikan kontradiksi dan sesuatu yang paradoks dalam setiap bagiannya, yang juga bagian dari kehidupan masyarakat di kampung Bantaran Kali. Akhirnya, buku ini patut dibaca sebagai salah satu rujukan untuk mengetahui bagaimana cara kerja penelitian etnografi dan juga ingin mengerti hubungan kausalitas antara formal dan non-formal bekerja.

Profil Penulis

Avatar
Andika Nur Prakasa
Peneliti dan penulis lepas. Tinggal di Bekasi. Aktif dalam kegiatan non-profit seperti membantu ibu dan nongkrong dengan teman-teman. Korespondensi: andikanurperkasa@gmail.com
Hosting Unlimited Indonesia