

Sementara ini tak ada yang menarik di sana selain sepasang kekasih yang asik bercumbu di bawah lampu. Jika bisa bicara mungkin lampu itu mengeluhkan dirinya malu pada sepasang kekasih di bawahnya, sayangnya ia hanya bisa menunduk. Malu mengakui ia menyinari cumbuan dosa di bawahnya. Malu berdiri di antara orang-orang yang tak mengerti apa itu Tuhan. Malu menjadi bagian yang menetap di ranah tak paham arah.
Sepatu merah dengan hak setinggi lima senti dipakainya mulai beralih dari jejak sebelumnya. Sorot matanya lurus. Tak menanggapi sorotan tajam orang-orang di sekitarnya. Langkah kaki berhasil menciptakan irama yang presisi di atas trotoar yang retak.
Tik, tok, tik, tok.
Suara itu terdengar seperti detak jam dinding yang sedang menghitung sisa usia dunia—mungkin juga sisa kesabaran Jena. Ia melewati sepasang kekasih di bawah lampu jalan tadi tanpa sekalipun menoleh. Baginya, cumbuan itu hanyalah sirkus kecil yang menyedihkan.
Jena terus berjalan menuju sebuah bangunan dengan lampu neon yang berkedip gelisah di atas pintu. Cahaya merah muda dan biru elektrik berebut tempat di aspal basah oleh sisa hujan hingga memantulkan remahan cermin. Di depan pintu yang melapisi kulit sintetis hitam itu, seorang lelaki berbadan tegap dengan pakaian serba gelap berdiri melipat tangan. Wajahnya keras, selaku beton-beton gedung di persimpangan.
Langkah Jena terhenti tepat di hadapan lelaki itu. Dentum musik dari dalam mulai merayap keluar, menggetarkan dadanya, namun sorot matanya tetap sedatar garis cakrawala. Tanpa perlu diminta, ia membuka tas kecilnya, mengambil selembar kartu plastik dan menyodorkannya.
Lelaki itu menerimanya, menyalakan senter kecil, lalu membaca deretan huruf di sana di bawah temaram cahaya.
“Sila cari surgamu, Nona Jena.”
Jena menerima kembali kartunya lalu melangkah masuk ke dalam kegelapan yang bising. Di dalam sana, Sabda sedang menunggunya.
Di dalam, udara terasa pekat oleh aroma yang membusuk, asap rokok yang menggantung seperti kabut tipis di langit-langit, dan sisa-sisa parfum murah yang saling bertabrakan. Lampu strobo menyayat kegelapan dengan warna kuning dan ungu yang ganjil, membuat gerakan orang-orang di lantai dansa tampak seperti potongan-potongan film biru yang rusak.
Jena berjalan lurus. Ia tidak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang ia cari.
Di sebuah sudut yang remang, agak menjauh dari dentum speaker, Sabda duduk dengan gelas kristal di tangannya. Ia tampak tampan, seperti biasa. Namun, yang membuat langkah Jena sedikit melambat bukan karena ketampanan itu, melainkan karena pemandangan di sampingnya. Seorang perempuan pirang bergaun satin hijau sedang tertawa, kepalanya bersandar di bahu Sabda, sementara tangan Sabda melingkar protektif di pinggangnya.
Jena berhenti tepat di depan meja mereka. Bayangannya jatuh menutupi wajah Sabda.
Laki-laki itu mendongak. Sedetik, ada kilat kepanikan yang melintasi matanya—sebuah reaksi refleks dari seorang maling yang tertangkap basah. Namun, dengan kecepatan seorang aktor profesional, Sabda segera menggantinya dengan senyum lebar yang dipaksakan.
“Kamu datang lebih cepat dari perkiraanku,” ucap Sabda. Suaranya agak meninggi agar bisa mengalahkan musik.
Perempuan di sampingnya berhenti tertawa. Ia menatap Jena dengan tatapan menyelidik, penuh rasa percaya diri yang hanya dimiliki oleh mereka yang merasa dicintai.
“Siapa dia?” tanya perempuan itu. Suaranya manja dan tatapannya menegaskan wilayah kekuasaannya.
Sabda tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia justru bangkit, meraih tangan Jena yang dingin, dengan naif membisikkan sesuatu yang dianggapnya sebagai mantra penenang.
“Hanya teman lama, jangan khawatir,” bisik Sabda pada perempuan itu, sebelum kemudian berpaling sepenuhnya pada Jena. “Kami teman di kantor, kamu jangan salah paham.”
Jena menatap bibir Sabda saat laki-laki itu bicara. Ia melihat bagaimana kata-kata itu keluar dengan lancar, begitu rapi, tak terputus sebagaimana orang gugup berbicara, seolah-olah sudah dipersiapkan di sebuah gudang kebohongan yang sangat luas. Jena teringat pada lampu jalan di persimpangan tadi. Lampu itu malu karena menyinari dosa, sementara Sabda sama sekali tidak merasa malu menyemburkan sumpah palsu di tengah bisingnya bar.
“Menurutmu, apa yang kupahami sekarang?” tanya Jena, matanya mulai menelisik pakaian ketat perempuan di sisi Sabda.
Sabda tertegun mendengar perkataan Jena yang terdengar seperti sebuah tantangan. “Pengkhianatan?” tanyanya.
Jena menggeleng. “Hah, sayangnya bukan. Otakku terlalu mahal untuk hal itu, Sabda.” Jena menatap perempuan di samping Sabda, ia mengulurkan tangan pada perempuan itu. “Namaku Jena.”
Perempuan itu mengernyit, namun tak ayal ia menerima uluran tangan Jena. “Maya.” Ujarnya.
Jena tersenyum tipis lantas mengangguk, Maya merasa janggal dengan senyuman itu. “Namaku Jena. Kau bisa panggil aku Je atau Jena. Ingatlah aku sebagai orang yang membuatmu tenang.”
Sabda mengulang kembali, menelisik penampilan Jena yang lebih anggun malam ini. Malam-malam sebelumnya dia belum pernah melihat Jena semenawan ini. Diam-diam, Sabda menyeringai.
“Jadi, kapan kita memulai permainannya?” Sabda beranjak lebih dekat dengan Jena, mengusap pinggang perempuan itu dengan gerakan sensual. “Seperti katamu kemarin, ini malam kita.”
Jena memiringkan kepala, sepasang matanya yang tertutup lensa abu-abu itu seolah mengunci pergerakan Sabda. Ia memberikan sinyal-sinis nakal, semacam undangan visual yang menyesatkan, seolah sedang berbisik: aku adalah tuanmu malam ini. Sabda, yang kehilangan kewaspadaannya akibat alkohol dan gairah, mulai bergerak liar. Tangannya merayap sensual di pinggang Jena, sementara Maya yang semula membeku, perlahan ikut terseret dalam magnetisme dingin yang dipancarkan perempuan di hadapannya.
“Kemari,” desis Jena hampir tanpa suara, namun ketegasannya menuntut patuh untuk menipiskan jarak.
Sabda dan Maya kini seperti laron yang merubung api; keduanya mendekat, menyandarkan kepala di bahu Jena. Di tengah dentum musik yang kian gila, Jena menikmati bagaimana dua orang itu mulai meraba tubuhnya dalam pemujaan yang buta. Persis seperti lampu jalan yang menunduk di persimpangan tadi, Sabda dan perempuan pirang itu kini bersimpuh di lantai, bertekuk lutut di bawah kuasa Jena yang berdiri tegak.
“Aku Tuanmu malam ini,” bisik Jena tepat di telinga Sabda, namun senyumnya tidak lagi menggoda.
Suasana yang semula panas mendadak mendingin saat Jena menarik sesuatu dari balik tas kecilnya. Gerakannya sehalus tarikan napas. Belum sempat Sabda mencerna perubahan ekspresi itu, sebuah tarikan kasar dari arah belakang tiba-tiba memutus kontak fisik mereka. Ruangan yang bising itu sejenak kehilangan iramanya bagi Jena saat lehernya dicekik dan tubuhnya diseret paksa mundur oleh sosok bayangan yang muncul dari kegelapan bar.
Pekikan mulai pecah dari meja-meja sekitar, mengalahkan dentum speaker. Jena tidak melawan; ia justru terkekeh pelan di tengah sesak yang menghimpit tenggorokannya. Ia mengangkat tangannya yang gemetar ke depan wajah, menatap lekat aliran cairan merah kental yang mulai merembes, mewarnai lengan putihnya dengan pola yang tidak beraturan. Dalam kabur pandangannya yang kian menggelap, ia melihat Sabda dan Maya yang masih terpaku di lantai dengan wajah pucat pasi.
“Ah,” gumam Jena dengan sisa napas yang kian menipis, “Aku melupakan cumbuanku.”
Biasa dipanggil Nirmala atau Lala. Lahir 2006 di Surabaya. Saat ini Sastra Indonesia di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Berdomisili di Sidoarjo dan bisa disapa melalui akun Instagram @nirmalaaa.dz
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!