Turun Ranjang

Di setiap pagi, piring pecah itu berserakan hampir di setiap ruangan. Ketika suaminya marah, Ia acap kali bersembunyi di balik tembok, lemari dan pintu. Suaminya tak peduli benda apa yang ada di tangannya. Pernah suatu kali, Della hampir terkena mata pisau di tubuhnya. Della berlari kencang keluar rumah dengan napas yang tersengal-sengal.

“Mau lari ke mana kau setan alas?!” ujar suaminya.

“Ampun, Mas … Ampuuun!” pekik istrinya.

Anak-anaknya bersembunyi di bawah tempat tidur sambil menutup telinga dan memejamkan mata. Pagi itu terasa panas. Setan terus membisiki telinga kiri sang suami. Ia berjalan perlahan menuju istrinya. Tangan terkepal dan urat di leher dan kepala telah muncul. Matanya seolah-olah hendak keluar. Bunyi gereget giginya sampai ke telinga istri. Suaranya begitu keras dan lantang. Sang istri tak tahu harus lari kemana lagi.

Ibu-ibu sedang asyik menggunjing di tempat tukang sayur. Suara baskom yang keluar dari pintu mengagetkannya. Mata para ibu itu melihat kea rah rumah yang sedang bertengkar itu. Mereka mengernyitkan dahinya dan saling berbisik satu sama lain.

“Eh … si Ria gimana ya nasibnya?” tanya ibu-ibu satu.

“Pasti babak belur Bu dipukulin suaminya,” seloroh ibu-ibu lainnya.

“Aku kasihan sama si Ria, hidupnya mengenaskan”

“Aku sih setuju si Ria digituin, soalnya dia sering nerima tamu laki-laki tanpa sepengetahuan suaminya”

“Ah yang bener, Bu … Tahu dari mana?”

Yeee dibilangin gak percaya … makanya up to date dong, hari gini ketinggalan gosip di kampung ini?”

Di kampung Surjati, televisi seolah tak memberikan informasi yang update. Ibu-ibu memilih mendapatkan informasi dari gerobak sayur, Mang Ono. Informasi terasa lengkap saat pagi datang. Rasanya, sebuah makanan akan terasa enak jika bumbu yang dicampur di makanan itu tercampur rata dan tak ada yang ketinggalan. Mang Ono seringkali mengingatkan para ibu-ibu itu supaya jangan terlalu sering menggunjing seseorang nanti berakibat fatal jika orang yang digunjing itu mendengarnya.

Awalnya, Hasan sangat mencintai Ria. Hasan bekerja sebagai TKW di Jepang. Ketika ia pulang kampung, Hasan langsung meminang Ria. Mereka sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Dua tahun pertama masih bersama Ria, selebihnya hubungan jarak jauh. Hal tersebut membuat Ria menunggu cintanya kembali ke kampung halamannya.

Sang ibu seringkali menasihati Ria supaya jangan terlalu berharap pada sesuatu yang tak jelas dan pasti tentunya. Tapi keputusan Ria menunggu Hasan adalah Keputusan akhir. Ia tak mau menjalin kasih pada siapa pun. “Cintaku telah habis padamu, Hasan,” kata Ria sebelum Hasan terbang ke Jepang.

Hubungan jarak jauh memang ada enak dan tidaknya. Enaknya ketika saling mengabari dan selalu video call setiap malam tapi sebaliknya ketika rindu ingin bertemu tak mungkin terjadi. Hal itu yang mengganjal tiap kali Ria rindu dengan Hasan. “Sudah, sabar ya beberapa tahun lagi juga aku akan pulang,” tukas Hasan dalam video call-nya.

“Iya, Sayang … Aku sabar kok nunggu kamu,” kata Ria sambil sesenggukan dalam tangisnya. Setiap malam, Ria selalu menunggu telepon dari Hasan. Malam adalah waktu yang ia paling ditunggu-tunggunya. Ria duduk di atas kasur, menatap layar atas, berharap ada notifikasi dari Hasan akan tetapi Hasan tak mengabarinya.

Pada malam itu, Hasan tak mengabari Ria. Ria sangat cemas, ia tak tahu harus menghubungi Hasan lewat apa. Semua sosial medianya sudah tak chat tapi percuma, tak ada balasan dari Hasan. Ria mulai curiga dengan tingkah laku Hasan,”Apa jangan-jangan semua aktivitasnya diprivate, ya dan aku dikecualikan oleh Hasan.

“Wah..sialan, ini tak bisa dibiarkan. Jangan-jangan Hasan selingkuh!” Ria mulai geram dengan situasi yang membuat dadanya panas.

 

Dua tahun telah berlalu, Ria telah menjalin kasih dengan seorang laki-laki penjudi dan pemabuk. Keluarga Ria ragu akan keputusan Ria terhadap pilihannya. Sudah berkali-kali, kerabat maupun keluarganya bertanya pada Ria. “Apakah kamu benar memilih laki-laki itu sebagai calon suamimu kelak?” Jawaban Ria selalu membela laki-laki itu bahwa ia akan mengubah kehidupan laki-lakinya akan lebih baik. Jadi percayakan padanya soal itu.

Seminggu setelah pernikahannya, Ria masih menikmati masa-masa bahagianya. Ria rajin bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Suaminya adalah seorang pengangguran yang tiap kali bangun kesiangan. Ia berkata bahwa akan mencari kerja tapi kenyataanya, ia selalu tiduran di sofa sambil memandangi layar gawainya.

Sebulan pun berjalan, sang suami tak juga mendapat pekerjaan. Kebiasannya main judi slot tak juga hilang. Ia sering marah-marah sendiri. memukuli apapun yang ada di sekitarnya bahkan ia hampir melempar gelas ke muka istinya. Namun, hal itu tak terjadi Ria menjerit sejadi-jadinya. Amarah sang suami tak juga terkontrol. Ria bingung untuk mengatasi hal tersebut. Jika berada di rumah seolah-olah ia berada di neraka, tak nyaman tuk di singgahi.

Suatu pagi, Ria pergi pasar. Ia berniat membangunkan suaminya untuk mengantarkannya. Meskipun ia tahu bahwa ia akan kena marah karena membangunkan suaminya. Niat itu ia urungkan kembali, ia memilih naik ke angkutan umum saja.

Setibanya di pasar, ia melihat kiri dan kanan, begitu banyak lalu-lalang orang. Ia berjalan sambil melihat-lihat bahan makanan yang hendak ia beli. Dari arah selatan, ia bertabrakan dengan seorang lelaki tinggi besar dan berotot. Ria masih mengembil barang belanjaannya yang jatuh. Setelah melihat lelaki itu, ia adalah Hasan. Laki-laki yang telah lama ia rindukan dan ia cari kabarnya. “HHHASAAAN…!” kata Ria sambil memandangnya dengan tidak percaya.

“Kamu kemana aja? Nggak ada kabar sedikit pun!”

“Maafkan aku, Ria. Aku harus pergi”

“Pergi ke mana lagi? Kamu udah lama pergi meninggalkanku dan sekarang, kamu mau pergi lagi?”

“Ngga Hasan, ngga beri aku alasan kenapa kamu mau pergi lagi?”

Hasan pergi begitu saja, ia terlihat terburu-buru dengan langkah kakinya yang begitu cepat. Hasan tahu bahwa Ria sudah menikah. Ia tak mau merusak rumah tangga orang karenanya. Maka, ia menghilang begitu saja. Tangis ria pun pecah, melihat Hasan ada di hadapannya dan pergi begitu saja.

Ria dan Hasan bertemu di pasar. Ria ingat Hasan akan melamar dan menikahinya setelah ia pulang dari Jepang. Tapi harapan itu kandas setelah Ria kehilangan kabar dari Hasan. Ria pun patah hati, ia tak tahu harus marah pada siapa. Harapannya putus setelah ia tanam sekian lama.

Ria pun pulang dari pasar, dengan membawa banyak barang bawaanya. Ria memanggil-manggil sang suami tapi suaminya tak mengindahkan panggilan istrinya. Ia masih fokus pada layar gawainya, menunggu keberuntungan itu ada padanya. Ria merasa lelah dan duduk di teras, ia membuka botol minuman dan segera meminumnya.

Tak berselang lama, Hasan lewat di depan rumahnya. Pandangan Hasan lurus ke depan sehingga tak melihat Ria ada di teras rumahnya. Ria bergegas menghampiri Hasan dan memluk Hasan dari belakang. “Hasan! Kenapa kamu pergi, ayo jelaskan padaku sekarang juga!” kata Ria sambil mengeluarkan air matanya. Hasan pun terdiam. Ia tak tahu harus bilang apa pada Ria perihal masa lalunya.

Dari belakang, sang suami berteriak “Riaaaa! Ternyata kau selingkuh dengan laki-laki lain! Dasar pelacur!” ujar suaminya sambil mengepalkan tangannya. Hasan pun menoleh dan melepaskan pelukan dari Ria.

Hasan pun mendekat ke suami Ria untuk menjelaskan kejadian yang sesungguhnya tapi ia tak punya waktu. Suami Ria pun memukul wajah Hasan. Hasan tersungkur sambil memegang wajahnya yang terkena pukulan.

“Sudah, sudah, Mas. Ini salah paham. Jangan diteruskan. Ayo kita masuk rumah!”

“Lepaskan aku Ria. Itu mantan kekasihmu, kan yang selalu kau banding-bandingkan denganku.”

“Ngga, Mas. Ngga. Sudah lupakan. Ayo kita masuk rumah!”

Setiap kali aku berada di ranjangmu, kau selalu mengigau memanggil-manggil nama Hasan. Sebenarnya siapa Hasan itu. Setiap kali aku tanya padamu kau selalu menutupinya. Dan sekarang aku tahu Hasan itu siapa. Jadi, begini saja Ria. Kita tentukan siapa yang berhak turun ranjang. Aku atau Hasan. Kita bertarung sampai mati di antara kita. Ria masih menarik-narik tangan suaminya supaya berhenti melakukan hal konyol tersebut, Hasan berdiri dan segera meninggalkan sepasang suami istri itu karena ia tahu tidak semua masalah diselesaikan dengan kekerasan.

Syamsul Bahri seorang guru bahasa inggris di Yogyakarta. Selain kesibukannya menjadi guru, ia juga kadang-kadang menulis, esai, cerpen, puisi resensi dan hal lainnya yang sia-sia. Bisa disapa lewat Instagram: @dandelion_1922

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!