Tunmat: Senja Menumbuk Doa pada Lesung Angin

Bara Suci yang Menuliskan Kidung pada Abu

 

1//

Di tungku itu 

bara suci menulis kidung pada abu 

sementara tubuh senja 

mengenakan tenunan leluhur 

yang telah menjadi angin.  

Ibu mengaduk sunyi 

seperti lumpur 

melahirkan sepotong sagu bagi langit 

dari air mata pohon rumbia 

yang tak pernah selesai 

bermazmur 

dan berdoa.

 

2//

Belanga tua ibu 

ialah cawan keabadian 

sedia menadah hujan 

yang menetes dari telapak Tuhan 

ke bibir bumi yang renta. 

Asapnya mengudara 

bagai dupa

membawa nama-nama leluhurku 

menjadi burung putih kecil 

yang pulang ke altar cahaya.

 

3//

Tatkala malam menutup pundak bumi 

dengan mantel bayangan abadi

tungku itu tetap bernapas 

sebagai jantung rumah 

yang tak mengenal keabadian. 

O, ibu: dalam heningmu 

yang lebih tua daripada waktu 

engkau ikhlas menjahit kasih 

pada bara hingga fajar lahir 

sebagai anak doa. 

 

Atambua, NTT, 10 Juli 2026

 

 

 

Puisi yang Tersungkur di Bibirmu: Kekasih 

 

Aku melihat mata air 

di bibirmu 

yang dilahirkan

tersembunyi 

di dada batu-batu pamali 

agar mentari tak kehilangan syukur.

 

Kekasihku: 

engkau adalah sehelai Tais 

yang ditenun jemari ibu 

dengan benang-benang kehidupan 

warna cendana 

dan puji-pujian 

yang dipinjam 

dari denyut bumi. 

 

Kekasihku: 

bibirmu yang adalah ladang jagung 

belajarlah untuk mencintai tanah 

seperti yang disabdakan bumi 

pada telingamu.

 

Pada suatu senja, aku datang 

bagai embusan dari telaga

membawa kisah sunyi 

yang mengembara 

di antara tubuh-tubuh ilalang 

lonceng sapi 

berdetak perlahan 

di dada petang 

mengantar puisiku 

jatuh pada bibirmu.

 

Puisiku 

adalah burung-burung kecil 

yang pulang ke dahan kemiri 

setelah mengangkut cahaya 

di bukit-bukit dan telaga. 

 

Kekasihku: 

aku ingin mengecupmu 

dengan bahasa cinta yang telah tua 

diucapkannya kepada Tuhan, 

batu, mata air, pohon 

dan akar beringin 

yang bersumpah 

tak meninggalkan manusia.

 

O, kekasih: 

jika pada malam 

segala nyala dimakamkan 

biarkan bibirmu menjadi pelita 

bagi setiap napas puisiku

sebab di sanalah 

cintaku menjelma doa 

yang diberi Tuhan 

dan leluhur 

yang menitipkan restu. 

 

Atambua, NTT, 10 Juli 2026

 

 

 

Tunmat: Senja Menumbuk Doa pada Lesung Angin 

 

Di Tunmat:

terdengarlah doa ibu 

di saat senja perlahan tunduk 

pada nyiur kelapa  

menumbuk doa pada lesung angin 

dan para perempuan kampung 

sibuk menimang 

juga menyusui anak-anaknya. 

 

Jalan-jalan kecil 

menjadi saksi nyanyian 

lagu-lagu anak gembala 

sementara para lelaki 

memikul air mata 

dari telaga 

menuju rumah. 

 

Sebab di sanalah 

nyanyian tak pernah selesai 

dan malam 

adalah selendang langit 

tempat berkanjang 

setiap lelah 

dan tangis.    

 

Atambua, NTT, 10 Juli 2026

 

 

 

Daun-Daun yang Gugur

 

Ketika kokok si jago 

memanggil mentari 

janganlah 

engkau menyebut namaku.

Sebab embun masih menyembah 

di telapak dedaunan 

dan bayi-bayi sedang menyetem 

lagu-lagu pada ibunya. 

 

Angin sibuk menyimpan ratapan 

pada setiap ruas 

yang menengadah harapan

dan akan diperbincangkan 

dalam bahasa sunyi 

kepada setiap daun-daun 

yang gugur. 

 

Sebab yang jatuh 

memeluk tubuh karang 

adalah penghormatan 

bagi manusia 

untuk tetap saling menyapa 

dan menemukan jalan Tuhan  

pada setiap hati yang hidup. 

 

Atambua, NTT, 10 Juli 2026

Guru, penulis, Founder Sahabat Pena Likurai, Komunitas Pensil, Pengurus FTBM Kabupaten Belu, anggota aktif FTBM Propinsi NTT dan Penggiat Literasi Perbatasan.Karyanya sudah terbuat dalam berbagai buku dan antologi. Buku yang terakhir dirilis adalah Diverse Voices: The Poetry of Human Rights and the Pursuit of Peace (2026).Tinggal di Kota Perbatasan Indonesia -RDTL, Atambua-NTT. Instagram @silivester_kiik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!