

“Berhenti masturbasi dan nonton bokep,” kata seseorang di sebuah grup “Stop PMO (Porn, Masturbation, Orgasm)” di Facebook. “Saya sudah coba berhenti berkali-kali,” kata yang lain, “ … Tapi tiap kali gagal rasanya kayak jijik sama diri sendiri.” kata yang lain.
Membaca itu semua membuat saya takjub: dampaknya bisa terasa semenyiksa itu. Hidup mereka seolah dikutuk karena kebiasaan masturbasi dan nonton bokep.
Namun, yang lebih menakjubkan lagi, yang paling membuat mereka merasa tersiksa ternyata bukan karena dampak itu. Justru yang membikin mereka merasa lebih tersiksa adalah karena pergulatan emosional dan penghakiman moral yang muncul di pikiran setiap kali mereka gagal menahan diri untuk PMO.
Dengan kata lain, mereka tidak hanya berjuang melawan kebiasaan masturbasi dan pornografi. Ada hal lain!
Saya melihat, di grup Stop PMO itu, banyak orang melakukan perjuangan untuk berhenti dari kebiasaan tersebut dengan memikul beban penghakiman moral yang begitu berat di pikiran mereka. Bahwa pornografi, masturbasi, dan orgasme adalah sesuatu yang “kotor” atau “berdosa”.
Ya meskipun tentu saja saya tidak menampik satu tindakan buruk akan memunculkan tindakan buruk lainnya.
Sehingga, setiap kali mereka gagal menahan diri dari PMO, muncul reaksi emosional yang sama beratnya dengan beban penghakiman moral itu. Mereka menjadi merasa bersalah atas perbuatannya, merasa malu, merasa jijik terhadap diri sendiri, dan merasa menyesal yang begitu mendalam, yang mungkin akhirnya memang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, dan mereka meyakini bahwa hal itu karena kebiasaan PMO.
Tapi menurut saya keyakinan itu agak keliru.
Apa yang seseorang alami seperti “nolep” (merasa jauh dari kehidupan sosial), atau “ansos” (canggung dan gugup saat berinteraksi dengan lawan jenis), atau “pemalu belibet” (merasa sering salah tingkah tanpa alasan jelas), saya rasa bukan berasal dari kecanduan PMO itu secara tunggal, tetapi berasal dari keyakinan negatif yang terus-menerus ditanamkan di kepalanya.
Dalam psikologi, hal semacam ini disebut sebagai efek placebo negatif, atau nocebo.
Yaitu ketika seseorang begitu yakin bahwa suatu hal akan membuatnya buruk, tubuh dan pikirannya benar-benar memunculkan gejala itu. Keyakinan itu bekerja seperti ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy). Seseorang percaya bahwa kebiasaan PMO membuatnya rusak, sehingga tubuh, emosi, dan reaksi sosialnya benar-benar mengikuti keyakinan itu.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kebiasaan PMO sama sekali tidak memiliki dampak. Yang saya tekankan adalah: sebagian dari penderitaan mereka tidak berasal dari perilaku itu sendiri. Tetapi berasal dari keyakinan negatif dan penghakiman moral yang mereka bangun dan terus diulang-ulang di kepala, yang kemudian menambah beban dan memperdalam penderitaan yang sudah ada, setiap kali mereka gagal menahan diri.
Dan, keyakinan itu memperkuat rasa bersalah, memperdalam rasa malu, jijik, juga menyesal. Emosi-emosi semacam itu, seiring waktu membentuk pola yang sulit diputus.
Psikologi menyebut pola ini sebagai guilt-shame cycle atau siklus rasa bersalah dan malu, yang saling memperkuat serta memicu emosi-emosi lainnya yang berkaitan. Polanya selalu kurang lebih sama. Seseorang melakukan sesuatu yang dianggap salah, lalu merasa bersalah, malu, bahkan mungkin muak dengan dirinya sendiri.
Untuk meredakan semua perasaan itu, dia justru kembali pada perilaku yang sama, sebagai bentuk pelarian. Perlahan, terbentuk lingkaran setan antara rasa bersalah, malu, jijik, penyesalan, pelarian, dan kembali ke rasa bersalah lagi.
Itulah sebabnya perjuangan mereka bukan sekedar melawan “kebiasaan buruk”, tetapi juga pergulatan emosional dan penghakiman moral di pikiran mereka sendiri atau bagaimana mereka menilai diri setiap kali “gagal”. Dan itu membuat mereka justru merasa semakin tersiksa. Tapi ngomong-ngomong, bukankah coli juga hak semua orang?