Tuhan-Tuhan Kecil

Tuhan-Tuhan Kecil

Kepada para pengerat yang berkelakar untuk mengukur hidup dengan mistar murahan, para pedagang moral, para penjual nilai yang murka pada lengkung, belok, dan pembangkangan arah mata angin. Berenanglah di kedangkalan kubangan lumpur berlumuran haus sorot mata dengan adiksi tetesan drama yang tak lagi mengalirkan makna. 

Ketahuilah, akan kami bakar ayat-ayat yang berisi pasal-pasal tentang:

  1. Peta moral yang dicetak tebal.
  2. Label dan stempel busuk yang kalian sematkan.
  3. Hasutan usang tentang dosa dan doa.
  4. Rantai besi, belenggu nurani.
  5. Kompas arah; sesat akar, hilang akal.

Serupa Zion, Ramses II, dan kemunafikan yang kami sebut negara, terus mewariskan kebencian yang diteguk oleh Musa, lalu disemai dengan tinta pena, frasa, dan kasih semu yang merawat luka, membasuh lara. Kami lahir bukan dari sasana, gelanggang, ataupun mimbar, tetapi dari batu, lumpur, dan bara. 

Barangkali di bawah langit ini, berjalan pincang adalah dosa kecil
yang tak pernah diampuni.
Satu per satu menghilang,
mencari tenang.
Sisanya tetap bertahan
di persembunyian.

Maka, kelak, tunjukkan. Tunjukkan padaku soal baik dan buruk, benar atau salah, dan seluruh parameter yang disetubuhi oleh kenyataan jalanan. Tunjukkan padaku bedanya doa dengan dusta; mana yang kau sebut benar-benar benar? Adakah yang suci di antara sadar, di antara darah dan nanah, di antara lapar dan kenyang yang terus merongrong di setiap denyut aliran napas, di setiap langkah menuju kehancuran, di setiap terpejam dan terbukanya mata.

 

Jatinangor, 2025

 

 

 

Satan in the Wait

Tu(h)an, ingatlah, akan kuundang Kau dalam pesta perayaan kematian-Mu!
Akan kubacakan selembar sajak di atas pemakaman-Mu!
Atas nama seluruh penghuni neraka di antara kutukan juga penderitaan, nihil bahagia hanya lara. surga-Mu hanya sebuah kesia-siaan belaka. 

Atas nama api yang kekal nan abadi, telah kupersembahkan darah serta seluruhnya atas kesadaran pada keagungan Sang Maha dan Sang Segala.

Ia akan datang bersama hujan dengan tatanan dan kebahagiaan!
Ia akan datang bersama hujan dengan tatanan dan kebahagiaan!
Ia akan datang bersama hujan dengan tatanan dan kebahagiaan!

 

Jatinangor, 2022

 

 

 

Manifesto

Puisiku tidak ditulis;
ia ada mengudara bersama es teh manis, warteg Bahari, bus Primajasa, dan bubaran pegawai Kahatex. 

Puisiku tidak ditulis;
ia ada pada bunyi yang terembus lewat bulir air mata — di timur dan di barat, antara tenggara atau dekat kiblat.

Puisiku tidak ditulis dalam bentuk kata;
ia ada menggema dengan rintih derita dalam rentetan upaya bertaruh nyawa
ia ada dalam ratapan dinding impian dan selokan penuh keputusasaan.

Puisiku tidak ditulis atau dibacakan di kantin sastra;
ia ada bergelora dengan warga kampung kota
ia membara dengan masyarakat adat atas hutan yang diembat oleh para autokrat
ia berduka atas mereka yang gugur dibunuh oleh lintah penjilat tiran.  

Puisiku tidak ditulis atau bahkan menari-nari di atas perenggutan nyawa;
ia bersama jerit tangis bayi yang dibakar menjadi bunga.

 

Jatinangor, 2024

 

 

 

Nirwana

Seumpama telah sampai nirwana,
akankah nestapa terbang tanpa jeda?
Kala sepasang irama menggerayangi sepi,
aku hanya ingin lantang tanpa sekata.

Tak ada aku dalamku.

“Apakah kita masih saling membunuh?” tanyaku padaku.
“Apa bedanya aku dengan Adam yang dikutuk ke bumi?” (Sama-sama pembangkang.)

Memasung mimpi-mimpi tinggi.
Ingat! Mimpiku se-Tuhan!
Dan apa yang kalian sebut “bahagia”
hanya ketika kematianku dirayakan.

Mendarah mendaging.

Kini menua harap pada “bahagia”,
sebab terbenam pada lebatnya lamun.
Kian dalam terperangkap nyaman pada pusaran waktu,
kian larut hidup dalam lembar masa lalu.

merangkai abadi dalam lara.

 

Bandung, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!