Treat Me Like a Princess bukan Feminisme

Mengapa hanya ada kalimat ibu rumah tangga? Mengapa tidak ada kalimat bapak rumah tangga?

Banyak narasi berlalu di media sosial “Perempuan hanya dianggap jika dia bernilai.”

Mengapa tidak narasinya menjadi laki-laki dianggap ada jika bernilai? Dan mengapa perburuan penyihir pada masa abad ke-15 dilakukan pada perempuan? Mengapa tidak dilakukan perburuan penyihir pada laki-laki? Dalam karya sastra pun perempuan digambarkan secara seksual.

Tak hanya itu, seperti musik video para penyanyi, tak jarang pula menggambarkan perempuan melalui sudut pandang laki-laki atau the male gaze yang hiperseksual dan erotis. Praktik seperti video call sex juga menunjukkan terjadinya eksploitasi dan objektifikasi perempuan.

Pada sistem patriarkal, perempuan selalu memiliki nilai transaksional. Di pernikahan, pekerjaan, reproduksi, dan aktivitas seksual. Dalam berbagai kasus perbudakan seksual seperti Epstein Case, para gadis direkrut, dipersiapkan lalu diedarkan. Tanpa menihilkan yang terjadi pada anak laki-laki, apakah dunia sudah menganggap perempuan sebagai sejatinya manusia?
Jawabannya adalah barangkali tidak.

Sistem dalam dunia ini menjadikan perempuan sebagai industri. Bahkan sebenarnya kita berdekatan dengan industri tersebut. Perbudakan perempuan baik anak, remaja maupun dewasa. Baik perbudakan seksual, domestik maupun perbudakan ekonomi.

Di era modern saat ini, daya tarik visual, seksual dan pesona perempuan acap kali ditukar dengan status, validasi sosial, dan pekerjaan. Media sosial pun semakin memperkuat pendapat bahwa perempuan dianggap menarik jika secara visual, baik di depan layar maupun di depan mata. Semakin nyata terjadi Erotic Capital yang digagas oleh Catherine Hakim.

Ia berpendapat bahwa daya tarik seksual, visual, pesona dan kecantikan perempuan dianggap sebagai aset yang dapat ditukar dengan jabatan, kekuasaan dan pekerjaan. Hal ini diperparah juga oleh narasi yang disampaikan oleh para influencer.

Namun, bukan hanya sistem yang menjadi penyebab. Sering kali, sesama perempuan pun tanpa sadar ikut memperkuat logika ini. Dari cara kita menilai penampilan perempuan lain, mengukur nilai melalui seberapa banyak barang luxury yang dimiliki, seberapa banyak nominal di rekening, atau ikut menyebarkan standar kecantikan yang sempit di media sosial.

Perempuan bisa jadi agen pengembangbiakan patriarki, bukan karena mereka semua setuju, tapi karena mereka tumbuh dalam budaya yang terus-menerus menanamkan bahwa tubuh dan kecantikan adalah mata uang utama.

Terjadilah paradoks, yakni perempuan yang seharusnya saling mendukung justru kadang terjebak dalam lingkaran saling mengobjektifikasi, bahkan saling menyerang. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena sistem sudah begitu meresap hingga terasa biasa. Meskipun ada juga yang memang sudah jahat saja 🙁

Dari komentar ringan “Kok gendutan” hingga yang menampar “Dia bisa sukses karena deket sama bos atau jual tampang”, semua dapat diucapkan perempuan ke perempuan lainnya. Tak jarang pula korban perempuan berubah menjadi pelaku.

Bukankah seharusnya women supports women? Tapi nyatanya hal itu sulit dicapai, terlebih munculnya kelas-kelas dan ketimpangan sosial.

Penyebabnya jelas, yaitu misogini yang mengakar. Sejak kecil, perempuan hidup dalam atmosfer patriarki yang selalu membisikan secara halus bahwa nilai mereka diukur oleh standar laki-laki. Sehingga perempuan akan merasa terancam jika melihat perempuan lain yang tidak tunduk pada standar sosial yang ada.
Selain itu, fenomena treat like a princess sering digaungkan di media sosial. Ini merupakan repackaging dari patriarki. Yang sayangnya, banyak digaungkan perempuan juga.

Dikemas ulang menjadi lebih halus dan terkesan indah. Dalam narasi princess treatment tersembunyi suatu transaksi, di mana perempuan memberikan pesona, kecantikan dan kepatuhannya dengan gantinya laki-laki membiayai hidupnya. Ini adalah cara patriarki menindas perempuan bukan lagi dengan kekerasan, tetapi dengan memanjakannya. Sama, beda bentuknya saja.

Sudah saatnya menjadi perempuan dengan sejatinya manusia. Menjadi manusia yang tidak perlu bernilai untuk dianggap ada, tidak perlu cantik jelita untuk didengar dan tidak perlu menjadi patuh untuk dicintai. Marilah memandang perempuan yang kita temui dengan penuh kasih. Mereka adalah kawan seperjuangan dalam sistem yang sama. Perlahan kita eja kembali identitas jati diri. Jangan mau ditipu patriarki dalam bentuk-bentuk yang seperti itu!

Perempuan harus berdaya semuanya! Jangan menunggu diratukan lelaki! Ratukan dirimu sendiri!

 

 

Daftar Pustaka

Rebecca Nagel. (2026). The Body as Currency: Power, Patriarchy, and the Economics of Exploitation. Gender Gazette. https://gendergazette.com/news/the-body-as-currency-power-patriarchy-and-the-economics-of-exploitation (diakses pada 31 Maret 2026)

Cacho Lydia. (2021). Bisnis Perbudakan Seksual. Tangerang: Marjin Kiri.

Hakim Catherine. (2010). Erotic Capital. European Sociological Review 26 (5), 499-518. http://www.catherinehakim.org/wp-content/uploads/2011/07/ESR-Erotic-Capital-Oct-2010.pdf

Author

  • Stefhani Swastika

    Seorang mahasiswa akhir yang nggak wisuda-wisuda, peduli dengan isu sosial dan kaum marjinal. Sering nulis esai tapi yang baca cuma diri sendiri dan Tuhan YME. Eh, sekarang dengan Para Penyimpang, deng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | betnano | ultrabet | ultrabet | جلب الحبيب | jojobet | jojobet giriş | جلب الحبيب | roketbet | roketbet giriş | romabet | romabet giriş |