

“Idealisme adalah kemewahan bagi mereka yang memilikinya.”
Pesan gelisah ditinggalkan George Orwell melalui novel Keep the Aspidistra Flying, yang merupakan sebuah karya yang mengungkap paradoks mencolok dalam hidup.
Semakin keras seseorang memerangi sistem uang, semakin dalam mereka terperangkap dalam perbudakan finansial, kira-kira begitu lah bunyinya.
Gordon Comstock, seorang penyair muda yang berusaha membebaskan diri dari “dewa uang” modern, justru menjadi ilustrasi sempurna orang idealis tidak boleh miskin (Orwell, 1982: 2). Bukan karena ketidakmampuan mereka menjadi mulia, melainkan karena kemiskinan mengubah kemuliaan menjadi keputusasaan yang membunuh secara perlahan.
Upaya Gordon untuk hidup di luar sistem moneter adalah sebuah deklarasi perang yang pada akhirnya terbukti adalah bunuh diri ekonomi. Dengan gaji tiga pound per minggu sebagai asisten penjual buku di sebuah toko bernama McKechnie, Gordon bukan sekadar memilih hidup sederhana, dia memilih untuk menjadi martir dari sebuah cause yang mustahil (Orwell, 1982: 16).
Namun, Orwell menunjukkan bahwa martyrdom tanpa sumber daya adalah sebuah kebodohan murni, bukan kemuliaan. Sebab idealisme Gordon adalah tulisan. Dia bermimpi untuk menjadi penyair sejati, menciptakan karya sastra yang akan mengubah generasi, namun, ada satu hal yang Orwell tegaskan dengan kejam, bahwa uang menulis buku, dan uang menjualnya. Maka dari itu, penyair tanpa uang bukanlah penyair, melainkan seorang pemuja yang terduduk di depan altar kosong (Orwell, 1982: 5-8).
Buku puisinya, Mice, gagal total di pasaran, kegagalan ini bukan karena kualitas, melainkan karena Gordon tidak memiliki ketenangan pikiran yang diperlukan untuk menciptakan karya berkualitas. Bayangkan saja, seorang seniman yang harus memilih antara membeli tembakau untuk menyegarkan pikiran atau membeli kerosin untuk menerangi kamarnya saat malam tiba. Maka dari itu, idealisme Gordon mati saat dia harus menghitung setiap pence untuk kebutuhan dasar (Orwell, 1982: 14). Aspirasi kreatifnya yang ambisius, yakni proyek besar bernama London Pleasures, menjadi proyek yang selamanya tergantung dan lengket dengan kebosanan, tidak karena kurangnya ide, tetapi karena pikirannya terlalu lelah untuk berpikir (Orwell, 1982: 16).
Orwell menyentuh kebenaran yang pedih soal intelektualitas, daya cipta, energi, kecerdasan, gaya, dan pesona sebagai komoditas yang harus dibayar dengan uang tunai. “Binatang-binatang muda kaya” dari Cambridge dapat menulis dengan penuh wibawa hampir dalam tidur mereka, sebab mereka memiliki apa yang Gordon tidak miliki yaitu kebebasan dari kekhawatiran finansial (Orwell, 1982: 21). Tanpa kebebasan itu, Gordon hanyalah seorang pensiunan dari impiannya sendiri, sebelum impian tersebut sempat lahir.
Ketika Gordon bertemu Rosemary, seorang perempuan muda yang mencintainya dengan tulus, dia memiliki sesuatu untuk yang pertama kalinya dalam hidup yang keras, yakni sebuah alasan untuk keluar dari lubang miskinnya. Namun, cinta pun tidak aman dari kekuatan uang (Orwell, 1982: 6).
Orwell membedah masalah ini dengan presisi yang menusuk soal uang dan pesona, dan siapa yang bisa memisahkannya? Oleh karena itu, Gordon merasa menjadi tidak bisa dicintai unlovable, karena kemiskinannya.
Bagaimana seorang pria yang tidak memiliki masa depan finansial dapat menerima cinta?
Bagaimana dia dapat membangun hubungan ketika setiap hari adalah pertarungan untuk bertahan hidup?
Idealisme Gordon untuk menjadi penyair sejati, untuk tidak menjadi budak sistem uang, membunuh kemampuannya untuk mencintai dan dihati. Cinta menjadi kemewahan yang dia tidak bisa mampu, seperti asap tembakau bagi pemuda yang hanya tersisa sedikit di kantongnya.
Simbol tragis muncul dalam bentuk “Joey,” kepingan tiga pence usang itu, Gordon merasa bahwa semua orang tahu bahwa itu adalah uang terakhirnya, bahwa mereka bisa melihat keputusasaan dalam cara dia memegang koin itu.
Malu ini, malu ekonomis yang menghancurkan kapasitasnya untuk menjalin hubungan manusia yang bermakna. Idealisme yang seharusnya membuatnya bebas justru membuatnya terisolasi dan membenci dirinya sendiri (Orwell, 1982: 7-8).
Aspek paling menyedihkan dari perjuangan Gordon adalah bahwa dia bukanlah satu-satunya korban dari idealismenya. Saudara perempuannya, Julia, bekerja dua belas jam sehari sebagai pramugari untuk sekali lagi menyelamatkan mimpi saudaranya dari tenggelam.
Keluarga Comstock digambarkan sebagai keluarga yang kekurangan vitalitas, seolah-olah kehidupan telah dihisap keluar dari mereka oleh mesin kehidupan modern, seperti kita-kita saja.
Julia mengorbankan tabungannya yang merupakan harapan terakhirnya untuk melarikan diri dari kehidupan yang membosankan dan membatasi, demi membiayai kecerdasan Gordon. Inilah ironi yang menyesakkan karena Gordon, seorang idealis yang membenci uang dan sistem yang mengaturnya, hidup berkat uang yang dikumpulkan Julia melalui kerja yang menguras jiwa (Orwell, 1982: 9-11).
Idealisme Gordon adalah parasit yang menyedot darah kehidupan orang-orang yang mencintainya. Disinilah Orwell menunjukkan bahwa cita-cita mulia yang didanai oleh penderitaan orang lain adalah cita-cita yang sudah kehilangan mulianya sejak awal. Gordon tidak bisa menjadi penyair sejati sambil hidupnya didukung oleh pengorbanan Julia. Dia bukan martir bagi seni, tetapi merupakan penjahat yang menyembunyikan keegoisannya di balik selubung idealisme (Orwell, 1982: 23).
Bunga Aspidistra awalnya dibenci Gordon, karena baginya, tanaman itu mewakili segalanya yang dibenci, seperti kehormatan kelas menengah yang membosankan, stabilitas yang membunuh semangat, dan kompromi yang menjadi tiara kesuksesan palsu (Orwell, 1982: 2-4).
Namun, pada akhir novel, Gordon menerima bahwa tidak akan ada revolusi di Inggris selama masih ada aspidistra di jendela-jendela. Oleh sebab itu, bunga itu adalah simbol dari penyerahan atau penerimaan bahwa seseorang harus bekerja, harus memiliki uang, harus berkompromi dengan sistem untuk bertahan hidup (Orwell, 1982: 5).
Aspidistra adalah bukti bahwa idealisme murni adalah kemewahan yang akhirnya akan disapu oleh realitas ekonomi yang kejam. Mereka yang tahan lama dalam sistem ini bukan mereka yang paling idealis, melainkan mereka yang bersedia untuk berkompromi, untuk menerima pekerjaan yang membosankan, untuk menjaga aspidistra di jendela mereka.
Akhirnya, Gordon pun menerimanya, dia tidak bisa menjadi penyair tapi akan menjadi pegawai toko lagi, dan menikahi Rosemary, serta membeli rumah kecil dengan aspidistra di jendela. Cita-citanya mati, tetapi setidaknya dia akan memiliki tempat tidur yang hangat, makanan di meja, dan ketenangan pikiran yang cukup untuk tidak membenci hidup setiap pagi. Aspidistra menang. Sistem menang, idealisme kalah (Orwell, 1982: 12-13).
George Orwell memberikan pesan yang tidak nyaman namun mutlak, bahwa orang idealis tidak boleh miskin karena kemiskinan bukanlah keadaan yang membawa kebebasan, itu adalah perbudakan total terhadap kebutuhan fisik, karena, ketika seseorang hidup dengan tiga pence terakhir, maka setiap pemikiran mereka tercuri oleh perut yang lapar. Tidak ada ruang untuk berfilsafat tentang keluhuran seni, dan tidak ada kapasitas untuk menciptakan karya monumental, serta tidak ada kebebasan untuk mencintai atau disukai.
Gordon Comstock adalah ilustrasi dari idealis yang dipilih oleh sistem ekonomi, seorang penyair yang hatinya telah dibekukan oleh keputusasaan finansial. Dia ingin melarikan diri dari uang, tetapi semakin dia mencoba melarikan diri, semakin dalam dia terjebak. Karena pada akhirnya, untuk melarikan diri dari uang, seseorang harus memiliki uang. Hal ini merupakan suatu paradoks yang menghancurkan setiap orang idealis yang tidak mempersiapkan diri dengan asas finansial yang kuat.
Mungkin inilah yang Orwell ingin kita mengerti, bahwa jangan pernah menjadi idealis tanpa dompet yang terisi, karena idealisme tanpa sumber daya adalah sebuah senjata yang membunuh pemegangnya lebih dulu sebelum dia bisa melukakan sistem yang diperangi. Satu-satunya cara untuk tetap ideal adalah dengan memastikan Aspidistra tetap berkibar di jendela kita, karena tanpa itu, idealisme hanya omong kosong di tengah dunia yang digerakkan oleh uang.
Sumber
Orwell, G. (1982). Keep the Aspidistra Flying (J. R. Hammond (ed.)). Palgrave Macmillan UK. https://doi.org/10.1007/978-1-137-10710-7_7
Sumber Terjemahan:
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!