Tradisi Ketukan An-Nahdliyah di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin Purwanegara, Banyumas

Tulisan ini pernah dimuat di BILFest.id : https://bilfest.id/2026/07/10/mengenal-metode-ketukan-cara-seru-santri-banyumas-mengaji-al-quran/ ditulis dengan beberapa gubahan oleh penulis langsung

 

Di sela lantunan ayat suci selepas Magrib, terdengar bunyi ketukan yang berulang dari jari-jari para santri Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin Purwanegara, Banyumas. Tangan mereka bergerak naik turun menepuk paha atau meja kayu mengikuti setiap harakat yang dibaca.

Bagi orang yang baru pertama kali menyaksikannya, pemandangan itu mungkin terasa tidak biasa. Namun, di balik gerakan sederhana tersebut tersimpan sebuah tradisi pembelajaran Alquran yang telah lama dipertahankan, yakni Ketukan An-Nahdliyah. Melalui metode ini, ketepatan bacaan tidak hanya dijaga dengan memahami teori tajwid, tetapi juga dilatih melalui keteraturan ritme yang menyatu dengan gerakan tubuh. Selama membaca ayat, tangan mereka bergerak naik turun, menepuk paha atau permukaan meja kayu secara berirama. Gerakan itu bukan kebiasaan spontan, melainkan bagian dari metode Ketukan An-Nahdliyah untuk menjaga ritme sekaligus ketepatan bacaan Alquran. Metode An-Nahdliyah merupakan metode pembelajaran membaca Alquran yang dikembangkan oleh LP Ma’arif NU Cabang Tulungagung sejak awal 1990-an. Ciri khas metode ini adalah penggunaan ketukan sebagai pengatur ritme agar panjang-pendek bacaan sesuai dengan kaidah tajwid. Melalui tahapan pembelajaran yang sistematis, metode ini membantu peserta didik membangun keteraturan bacaan sekaligus membiasakan penerapan tajwid secara konsisten.

Mempertahankan kelancaran membaca Alquran secara tartil tidak hanya bergantung pada penguasaan hukum tajwid, tetapi juga kemampuan menjaga tempo bacaan. Dalam praktiknya, kesalahan yang paling sering terjadi saat mengaji bukan terletak pada pelafalan huruf, melainkan pada ketidakteraturan ritme yang menyebabkan panjang-pendek harakat menjadi kurang tepat.

Kesadaran akan pentingnya ritme bacaan itulah yang membuat Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin Purwanegara tetap mempertahankan tradisi Ketukan An-Nahdliyah. Di pesantren yang didirikan oleh K.H. Drs. Ibnu Mukti, M.Pd.I. bersama Dra. Permata Ulfah ini, ketepatan bacaan tidak hanya dipelajari melalui teori tajwid, tetapi juga dilatih melalui keselarasan antara suara dan gerakan.

Sebagai seorang santri sekaligus mahasiswa, penulis secara langsung merasakan bagaimana ketukan fisik ini bekerja. Di awal beradaptasi, menyelaraskan hafalan tajwid dengan tempo ketukan tangan bukanlah perkara mudah. Menjaga ritme lisan agar tidak terburu-buru membutuhkan koordinasi tubuh yang konsisten. Dalam praktiknya, kesalahan mengaji sering kali bukan karena lupa hukum tajwid, melainkan ketidakmampuan lidah meredam ego kecepatan saat melafalkan ayat demi ayat. Di sinilah satu ketukan fisik yang bertepatan dengan satu unit bunyi memaksa lisan untuk patuh pada durasi harakat yang sebenarnya.

Penerapan metode ini pada santri dewasa berbeda dengan pembelajaran di tingkat dasar. Pada kelas pemula, ritme bacaan umumnya dipandu oleh ustaz menggunakan tongkat ketuk. Sementara itu, di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin, pengendalian tempo sepenuhnya dilakukan oleh santri. Jari tangan mereka berfungsi sebagai penanda ritme; setiap satuan bunyi diikuti satu ketukan sehingga tempo bacaan tetap terjaga dari awal hingga akhir.

Gerakan sederhana itu tidak hanya berfungsi sebagai penanda irama, tetapi juga membantu membangun kebiasaan membaca yang teratur. Saat jari menepuk paha, satu harakat dimulai, dan ketika jari kembali terangkat, durasinya berakhir.

Richard A. Schmidt dan Timothy D. Lee dalam Motor Learning and Performance menjelaskan bahwa latihan gerak yang dilakukan secara berulang membentuk procedural memory (memori prosedural), sehingga suatu keterampilan dapat dilakukan secara otomatis melalui kebiasaan yang terus dilatih. Prinsip tersebut tampak selaras dengan praktik Ketukan An-Nahdliyah yang diterapkan para santri untuk membangun keteraturan dan konsistensi bacaan Alquran.

Pengalaman nyata mengenai bekerjanya procedural memory ini paling terasa ketika rasa lelah atau kantuk mulai menyerang di penghujung malam setelah seharian beraktivitas di kampus. Ketika konsentrasi melonggar, pola ketukan tangan biasanya melambat atau bahkan melompat. Di titik ini, sistem self-correction (koreksi mandiri) beroperasi secara otomatis. Lidah akan mendeteksi kejanggalan karena suara yang keluar tidak lagi sesuai dengan detak jari di atas paha. Sensor fisik ini membuat penulis dapat menyadari dan memperbaiki kesalahan bacaan secara mandiri, bahkan sebelum ustaz atau ustazah di depan sempat memberikan koreksi lisan. Dalam praktiknya, efektivitas metode ketukan terlihat dari kemampuannya membantu santri menjaga keteraturan tempo membaca.

Penelitian Muhamad Hizbullah dan Wahyu Dian Saputri menunjukkan bahwa Metode An-Nahdliyah menekankan kesesuaian dan keteraturan bacaan melalui penggunaan ketukan sebagai bagian dari proses pembelajaran, sehingga peserta didik lebih mudah menerapkan kaidah tajwid secara konsisten.

Seiring berjalannya waktu, latihan berulang ini berubah menjadi refleks fisik yang fleksibel. Dampaknya tidak hanya terasa saat pengajian sorogan, tetapi juga ketika penulis melakukan muraja’ah mandiri di kamar pondok. Tanpa disadari, jari tangan refleks mengetuk permukaan meja atau paha mengikuti alur harakat yang dibaca. Metode tradisional ini terbukti tidak sekadar mengendap sebagai hafalan teori yang kaku di dalam kepala, melainkan melekat menjadi bagian dari kedisiplinan tubuh dalam menjaga kemurnian bacaan.

Penggunaan metode Ketukan An-Nahdliyah dalam pengajian sorogan di Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin menunjukkan bahwa warisan lokal tetap relevan di tengah perkembangan berbagai metode pembelajaran Alquran. Tradisi ini tidak sekadar mempertahankan cara belajar yang diwariskan para ulama, tetapi juga membuktikan bahwa pendekatan sederhana dapat terus memberikan manfaat ketika diterapkan secara disiplin dan berkesinambungan.

Di tengah berkembangnya berbagai teknologi pembelajaran Alquran, para santri Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Amin tetap setia menjaga ritme melalui ketukan sederhana di atas paha atau meja kayu. Setiap ketukan merupakan upaya untuk menjaga ketepatan bacaan, melatih kedisiplinan, sekaligus merawat mata rantai keilmuan yang diwariskan para ulama. Tradisi Ketukan An-Nahdliyah mengingatkan kita bahwa kemajuan pendidikan tidak selalu lahir dari teknologi yang canggih saja, cara-cara yang sederhana juga bisa, kok. 

Lahir pada Agustus 2007. Saat ini, belajar di prodi Tadris Matematika di Kampus Hijau Purwokerto. Instagramnya @vie_vi021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!