1996

Aku menyaksikan dahi perempuan kurus itu berdarah, mengucur deras berwarna merah gelap bercampur borok yang mengelupas. Kali ini, gelas yang ke tiga mendarat di bagian ubun-ubunnya. Ibu menangis sampai tersedak, sedangkan lelaki yang kupanggil  bapak itu masih memukuli ibu dengan binal. Berkali-kali ibu berteriak sambil menyebut “Gusti Allah…” suaranya parau, air matanya hampir habis. Tapi kuping bapak seakan tertutupi, matanya merah kesetanan.

“Gusti Allaaaah…” ibu berteriak lagi ketika bapak hendak melayangkan ikat pinggang pada punggung ibu. Aku menahan napas, menangis tak bersuara, hatiku benar-benar hancur. Kulihat betapa jahat bapak, aku tak sempat menyumpahi atau meneriaki kalimat-kalimat kotor, tapi bapak keburu melayangkan tamparan keras di pipi ibu. Kini ibu terlihat lemas, badannya babak belur. Ibu, pingsan…..atau bahkan mati.

Duk! Duk!

Pintu ruang tamu diketuk keras, kudengar suara sekitar 6 orang memanggil nama bapakku dengan nada marah.

“Rohmat bajingan! Kaluar sia!” (keluar kamu!)

kali ini bisa kutebak, yang berteriak adalah Wak Jumad, dia terus berteriak begitu. Bapak cemas, lututnya gemetar. Bagaimana tidak, Wak Jumad yang juga kakak dari ibu adalah jawara desa yang paling ditakuti warga. Mulut bapak terlihat berkomat-kamit, barangkali menyebut nama Tuhan. Aku tak yakin masih ada nama Tuhan di hatinya. Aku bersembunyi di bawah meja makan, bapak melihatku sambil menangis. Matanya terlihat kosong dan kabur, aku masih duduk dengan Alif di pangkuan. Bayi merah itu terbangun mendengar teriakan warga, lalu tersenyum gemas. Alif tak pernah tahu kejadian naas ini, Alif tak pernah tahu ibunya masih hidup atau mati, Alif hanya tahu ia kini berada di pangkuan kakaknya. “Nak….sini sama bapak…” bapak menangis sambil berusaha memelukku, aku beringsut ketakutan—seperti sedang berhadapan dengan monster yang selalu ibu ceritakan sebagai pengantar tidur.

Brakk!! Pintu berhasil didobrak.

Bapak tak kabur, dia hanya menelan ludah sambil berusaha tersenyum getir ”Rohmat sia kumahakeun adi aing hah?!” (Rohmat kamu apakan adik saya?) Wak Jumad menggertak, ia melayangkan tinjunya tepat di mata bapak. Bapak tak melawan. “Gusti nu Agung, Lis!!” Para tetangga berteriak histeris melihat keadaan ibu, termasuk Bibi, semua menangis sambil mengangkat ibu ke ranjang. Kulihat Bapak diseret kedalam mobil polisi, matanya mengarah padaku dan mulutnya berucap lirih “Maaf…….”

“Rena, kamu nggak apa-apa?” Bibi meraba-raba wajahku, aku  menggeleng karena memang bapak tak menyakiti fisikku. Lalu bibi menggendong Alif, sesekali Alif diciuminya sambil menangis.

“Alif sayang sabar nak, sabaaaar…..” Bibi terus menangis, meratapi nasib kami. Aku masih terdiam, memandangi ibu yang belum siuman. Napasnya tak teratur, sesekali terlihat seperti tak bernapas. Kini, kami terlihat seperti bocah paling menyedihkan di muka bumi. Semua tetangga melemparkan tatapan iba.

Aku benci situasi seperti ini.

“Rena, keluar dulu ya, ibumu mau diperiksa Pak dokter.” Bibi membelai rambutku lembut.

“Kenapa tidak ke rumah sakit saja, Bi?” kukira ini ide bagus, jika memang mereka ingin ibu untuk tetap hidup. Bibi menggeleng.

“Rumah sakit jauh, di kota. Kami takut ibumu tak tertolong, yang penting kamu banyak berdoa saja nak…” Bibi menenangkan, hidungnya memerah karena berusaha menahan tangisan, matanya bengkak persis seperti mata ibu yang kulihat akhir-akhir ini.

Dokter datang, sepatunya berderap cepat di atas papan rumahku. Wanginya semerbak, rambutnya rapih tak berubah jika ditiup angin. Lalu hilang di balik pintu kamar.

Pernah suatu ketika, ibu bertanya cita-citaku jadi apa, kujawab dengan semangat; aku ingin jadi dokter.

“Kamu mau jadi dokter nak? Kenapa?”

“Rena mau ibu sehat, nggak sakit-sakitan kayak gini.” Jawabku lirih, ibu tersenyum, lalu membelai rambutku lembut.

“Ibu nggak sakit, bapakmu yang sakit.”

“Bapak sakit apa bu?”

Ibu memiringkan telunjuknya tepat di depan dahinya. Baru setelah esok, aku tahu bahwa itu adalah isyarat untuk orang sakit jiwa. Wati yang memberitahu.

Sebelum bapak memukuli ibu habis-habisan, aku sering mendengar ibu dan bapak bertengkar. Ibu yang mengenakan kostum tari jaipong, bibirnya masih ranum oleh gincu. Mereka saling berteriak, dari balik pintu kudengar bapak tidak terima ibu bekerja menjadi penari, tapi ibu tidak menggubrisnya dengan alasan uang belanja yang diberi bapak tidak pernah cukup untuk makan sehari-hari. Bapak marah, dan pernah kabur dari rumah seminggu.

Sejak saat itu, aku berpikir untuk takkan menikah seumur hidupku.

Dokter keluar dari kamar, raut wajahnya penuh wibawa seakan telah menerima amanah yang sangat besar. Lalu membisikkan sesuatu pada telinga Bude Parni.

Ekspresi bibi terlihat berubah, matanya melotot lalu berteriak menyebut nama Tuhan. Dia berlari ke dalam kamar dan memeluk ibu yang masih terpejam, tangisnya pecah. Para tetangga membawaku keluar rumah lalu memelukku dan Alif satu persatu.

Baru kutahu saat itu juga Tuhan memvonisku menjadi piatu, ditambah mendapat predikat bocah piatu yang menyedihkan di dunia. Tujuh hari, empat puluh hari atau bahkan selamanya, aku akan tumbuh jadi bocah yang dikasihani.

Bapak memang masih hidup, tapi suatu saat aku ingin dia mati juga.

 

2018

Jalanan trotoar gelap saat waktu menunjukkan pukul sebelas, lampu-lampu jalanan menggantung redup, tinggal menunggu untuk padam bergantian. Aliran got mengucur deras berwarna hitam menambah seram suasana pinggiran ibu kota. Seorang gadis berjalan tertatih, tangan kanannya menggenggam alkohol murahan, mulutnya berkomat-kamit seperti merapal sebuah kutukan.

“Ren?” suara itu menggema, memanggil si gadis yang kini berusaha terbangun setelah jatuh berkali-kali.

“Rena?” suara itu menggema lagi, suaranya halus dan kadang diselipkan gumaman menyedihkan.

Gadis yang dipanggil menoleh, mencari asal suara sambil meraba halusinasi yang kini berterbangan di atas kepalanya. Jemarinya mencoba menggapai langit, namun tak pernah sampai. Ia malah mendapati darah dalam hidungnya, baunya anyir dan mulai mengering. Telapak tangannya dingin, bercampur aroma kebencian yang menyeruak seisi gang, Rena masih tertawa namun batinnya tetap terluka.

Ia terus berjalan jauh, sampai ia berhenti pada sebuah kontrakan kecil tak terurus, warna catnya mengelupas, orang-orang yang lewat akan mengira ini adalah rumah hantu. Padahal, lebih dari itu.

Rena masuk tanpa melepas sepatu heels-nya, baju yang sedari ia pakai disingkap hingga tak menyisakan kain sehelaipun. Untuk apa dia berbalut menutup tubuh? Toh, pakaian yang ia senangi hanyalah tubuh-tubuh lelaki bajingan yang menggerayanginya setiap malam. Dinyalakannya shower, air dingin menyerang dirinya, ia menikmati setiap bulir air yang hinggap pada setiap lekuk tubuhnya. Sesaat kemudian ia membayangkan saat-saat ia bekerja pada club malam—dengan dress merah selutut, ia berdiri di antara gemerlap lampu diskotik, tak seperti gadis lain, Rena selalu memakai topeng pesta saat bekerja.

Seorang paruh baya memeluknya dari belakang, mengendus leher jenjang rena dengan binal. Matanya gelagapan seperti kucing kelaparan. Rena berbalik dan terbelalak, topeng masih menempel di wajahnya, ia mendelik dan tersenyum licik.

Ditariknya si paruh baya itu pada salah satu kamar sewaan yang lebih mirip seperti ranjang yang ditaruh di gudang. Pintunya ia kunci, tua Bangka itu mendekat, rena berjalan dan memeluknya. “Aku Rena.” Bisiknya pelan, darah mengucur di atas ranjang sprei putih kusam, si paruh baya terkulai menjemput ajal. Rena keluar lewat jendela membawa sebotol alkohol dan pisau pada tangannya, lalu berlari dan hilang.

Tubuhnya kini masih basah, ia ingin berlama-lama bermain air, tangannya kini tak berdarah. Dalam ingatannya ia sedang bermain dengan Alif di depan Televisi, melihat ibu menyisir rambut sambil merapikan peralatan untuk menari jaipong. Ibu terlihat bahagia.

“Bu, bapak sudah mati. Ibu boleh balas pukul dia di sana.”

Rena berbisik, lalu tertawa.

 

 

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Penulis adalah perempuan biasa yang menemukan Komunitas Swara Saudari sebagai wujud kepedulian terhadap isu-isu perempuan. Senang menjadi fasilitator Kelas diskusi dan sesekali menulis berbagai isu gender di beberapa media online. Selalu ingin disapa duluan, silakan coba di akun twitter @owyaaay sampai jumpa di sana, ya.