Tontonan Wowo

Minggu pukul 7.00 pagi, Wowo terbangun dari tidurnya yang lelap, beranjak mandi, dan bersiap-siap menonton serial kesukaannya, Upin & Ipin. Minggu itu ia nikmati dengan sepiring nasi goreng, menatap serius layar kaca di hadapannya. Kali ini pisodenya bertajuk “Minyak Sawit Luar Biasa”. Ia terus menonton episode tersebut dengan saksama, sambil menyantap nasi gorengnya dengan lahap. Tetapi, semakin ia menonton, semakin ia merasa kesal.

Lama-kelamaan, melihat apa yang disampaikan episode tersebut membuatnya sangat kesal. Ia selalu berpikir bahwa kampungnya lah yang terbaik.

Ego bocah berumur 8 tahun pun meledak.

PRANGG!

Ia pun menendang nasi gorengnya hingga terhambur di lantai. Dengan kaki gemoynya, ia berjalan keluar tanpa peduli pada nasi goreng yang baru saja ia tendang.

Siapa yang peduli pada sepiring nasi goreng? Toh, esok ia masih bisa membeli dan itu bukanlah kemewahan.

Bagi Wowo, nasi goreng tetaplah sebuah kesederhanaan. Meski ayahnya hanya seorang RT, Wowo diketahui telah bepergian ke beberapa negara dengan keluarganya, di antaranya Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, hingga Mesir. Tak diketahui secara pasti sumber dana hingga mereka bisa bepergian ke luar negeri.

Di luar, ia langsung berteriak histeris.

“Tanam segera sawit sebanyak-banyaknya! Ini demi kejayaan kampung kita!”

Anehnya, warga yang terkenal patuh dan malas berpikir langsung saja mematuhi perintah si Wowo. Meski ia terlihat sebagai bocah 8 tahun yang gemoy, di kampung, ia dikenal sebagai bocah yang cerdik.

Tak butuh waktu lama, lahan kosong di kampung telah dipenuhi pohon sawit. Awalnya, semua baik-baik saja, sesekali Wowo merayakannya dan berjoget imut dengan para warga, hingga hujan deras pun mengguyur kampungnya setiap hari. Tanpa akar pohon yang kuat, banjir bandang langsung menerjang kampung tersebut. Nahas, banjir menelan korban sekitar 190 jiwa, menyisakan hanya beberapa warga, termasuk Wowo dan keluarganya.

Tarian imut yang menyoraki kampung kemarin dalam sekejap beralih menjadi rintihan duka. Para warga kampung beramai-ramai menuju rumah Wowo, meminta penjelasan dan pertanggungjawaban atas kejadian ini. Namun, dengan lantang, Wowo keluar rumah dan berkata dengan percaya diri.

“Bapak-bapak, ibu-ibu …. Mohon tenang, karena musibah ini adalah bagian dari perjuangan. Kematian mereka merupakan perjuangan menuju kejayaan ekonomi kampung kita, jasa mereka akan kita kenang selamanya. Jangan lemah.”

Termakan oleh retorika manis Wowo, amarah dan tangisan yang terukir di wajah mereka seketika sirna, menyisakan anggukan atas ucapan Wowo. Di sisi lain, di balik jendela, ayah Wowo melihatnya sambil menghitung uang di mejanya, tak acuh dengan urusan anaknya.

 

Beberapa bulan kemudian, ketika banjir mulai surut, kampung mulai tenang dan pulih. Ia kembali bersiap-siap untuk menonton TV di ruang tamu, menantikan episode yang akan tayang. Sayangnya, episode kartun yang ia nantikan sudah terlewat, menyisakan berita-berita yang membosankan. Wowo pun kesal dan hampir menendang nasi gorengnya lagi. Sekejap, ia mengalihkan pandangannya ke berita di depannya. Sontak, ia merasa iba. Berita pagi itu menunjukkan beberapa siswa yang sedang kelaparan. Oleh sebab itu, para siswa tak bisa fokus dalam kegiatan belajar.

Karena berita tersebut, ia mulai menghargai nasi goreng di hadapannya. Tanpa tayangan kartun, ia memilih melahap nasi gorengnya dengan tenang. Sambil makan, berita tersebut terus mengganjal di kepalanya. Sejenak ia terdiam, hingga muncul ide cemerlang di benaknya. Ia memiliki rencana membangun program Makanan Bergizi Gratis untuk tiap sekolah. Demi kesejahteraan kampungnya, ia buru-buru menyampaikannya pada sang ayah. Mendengar ide Wowo, ayahnya menerima dan menyerahkan semuanya pada Wowo.

“Atur sajalah, Wo, kamu kan cerdas.”

Dengan antusias, ia merancang program tersebut hingga programnya mulai berjalan. Beberapa hari kemudian, program tersebut mendapat banyak pujian dari warga. Dengan perasaan bangga yang terukir di wajahnya, ia menjawab satu per satu pujian tersebut.

Sayangnya, euforia tersebut tak bertahan lama. Tiba-tiba, banyak kasus bermunculan: beberapa pelajar keracunan akibat MBG ini. Warga kembali marah dan bersiap meminta penjelasan dari Wowo. Wowo sempat gugup terkait hal ini. Namun, dengan kecerdikan yang Wowo miliki, ini adalah masalah mudah baginya. Dengan santai ia menanggapi.

“Bapak-bapak, ibu-ibu. Mohon tenang, ini hanya reaksi awal terhadap MBG. Kan MBG belum berjalan cukup lama, Wowo berharap bapak-bapak dan ibu-ibu mengerti tentang ini.”

“Selain itu, jika ingin kualitas MBG yang lebih baik, sebaiknya bapak-bapak dan ibu-ibu membayar pajak kampung lebih banyak. Dengan itu, Wowo jamin kualitas MBG akan selalu baik.” Wowo melanjutkan.

Menatap wajah Wowo yang imut dan santai dalam menjawab, mereka kembali menerima penjelasan tersebut dan menganggapnya masuk akal. Mereka pun kembali pulang dengan tekad bekerja keras untuk membayar pajak kampung lebih banyak lagi, demi kualitas MBG yang terbaik.

 

Pagi ini, Wowo bangun sedikit terlambat. Tanpa mandi, ia buru-buru menuju depan TV dan siap menonton. Lagi-lagi, ia terlewat tayangan kartun favoritnya, menyisakan acara berita seperti kemarin. Dengan tubuh setengah sadar, ia berusaha meraih remot dan mematikan TV. Namun, tak sengaja, pandangannya tertuju pada berita, ia diam sejenak. Berita menunjukkan bahwa warga masih sulit untuk menjangkau harga kebutuhan pokok.
Wowo pun kembali merasa iba melihatnya. Setelah lama melongo, ide cemerlang kembali tumbuh di kepalanya.

“Aha! Aku punya ide,” serunya.

Ia terpikir membuat sebuah koperasi, Koperasi Merah Putih namanya. Sebuah koperasi kampung yang akan menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau. Dengan kaki yang terseret, Wowo berusaha berjalan membawa tubuhnya yang masih lemas demi mengusulkan ide ini segera kepada ayahnya. Setelah sang ayah mendengarnya, ayah Wowo pun menerima dan bertanya.

“Mau dibuka di mana, Wo?” tanya ayah sambil memberikan peta kampung yang luas pada Wowo.

Sambil mengucek mata, Wowo pun menunjuk peta dengan asal-asalan.

Beberapa hari kemudian, bangunan-bangunan koperasi tersebut berdiri di tempat yang sangat tak wajar: ada yang di tengah sawah, di dekat tempat pembuangan sampah, sampai tempat yang bahkan sulit dijangkau warga.

Warga kembali mengeluh dengan semua ini, bahkan menganggap bahwa program ini hanya menghabiskan anggaran kampung saja. Dengan amarah yang sudah memuncak, mereka semua kembali beramai-ramai menuju rumah Wowo bersiap menyampaikan protes yang telah terkubur jauh dalam lubuk hati mereka. Wowo yang telah segar di teras sudah siap menjawab mereka. Dengan wibawa yang tampak jelas pada dirinya, ia menarik napas dalam-dalam.

“Sebagai manusia yang mulia, kita tidak boleh manja! Ini adalah sebuah tantangan bagi kalian! Koperasi sengaja terletak jauh karena aku tahu kalau warga kampung ini kebanyakan bertubuh atletis, tangguh, dan bukan pemalas!”

Mendengar ucapan tersebut, mereka saling menatap satu sama lain, meratapi kemalasan mereka selama ini. Akhirnya otot mereka yang lelah langsung saja merasa semangat, mereka pun kembali bersiap pulang dengan perasaan bangga untuk berjalan berkilo-kilometer.

Namun, satu dari warga berkata.

“Tidak bisa, kamu harus dihukum atas semua kelalaian yang kamu buat! Kamu lupa dosa apa saja yang kamu lakukan? 190 korban jiwa, pelajar yang keracunan, dan sekarang anggaran yang terbuang sia-sia hanya untuk bangunan yang sulit dijangkau.”

“Jangan selalu berlindung di bawah ucapan manismu! Kami muak! Dan mengapa kami harus terus bergantung pada bocah ingusan berumur 8 tahun? Mengapa kami harus percaya padamu? Semua ini tak masuk akal!” lanjut warga.

Mereka yang baru saja berjalan satu langkah menuju rumah, berbalik dan terpaku pada orang tersebut. Sadar akan ucapannya, mereka kembali melawan. Tapi, beberapa dari mereka tetap memilih berjalan pulang, dengan alasan malas untuk melawan.

Hati Wowo pun luluh, seluruh wibawa dan keberanian yang dimiliki Wowo perlahan pudar. Sedikit demi sedikit, ia mulai menangis. Ketika kondisi mulai kacau, dari belakang, sang ayah melangkah keluar. Dengan wajah murka serta licik, ia keluar dan mulai membela Wowo.

“Bapak-bapak, ibu-ibu. Mohon tenang, izinkan saya menjelaskan. Mohon maaf, pada saat perencanaan pembangunan, Wowo baru saja bangun tidur dan masih setengah sadar.”

“Akibatnya, ia menunjuk peta secara asal-asalan. Saya tahu ini tak masuk akal, tapi saya harap kalian mengerti bahwa ide cemerlang ini tak boleh dilewatkan. Jadinya, kami langsung membangun koperasi ini dan menerima usul Wowo sepenuh hati.”

“Saya yakin warga di kampung ini adalah orang-orang yang berhati mulia. Maafkanlah Wowo atas kelalaiannya, ia juga baru saja bangun pada saat itu. Lihatlah wajahnya yang menggemaskan, lagi pula ia masih berumur 8 tahun bukan? Maafkanlah kesalahan bocah yang imut ini, ya?”

Kali ini, rasa iba warga dimanfaatkan. Mendengar ucapan Pak RT, membuat mereka semua luluh dan mengasihani Wowo yang terus mengeluarkan air mata. Namun, beberapa warga masih tak menerima, bagi mereka, pertanyaan mengapa kampung ini harus bergantung pada bocah 8 tahun, belum terjawab. Mereka terlihat sudah siap melawan balik dan mengeluarkan argumen terbaik mereka. Sekejap, Saat bertatapan dengan tatapan tajam Pak RT, mereka pun tunduk dan menguburkan argumen itu dalam-dalam.

Mereka pun pulang ke rumah masing-masing seperti biasa. Mereka berpikir bahwa selama kampung terus bergantung pada Wowo, mungkin hal ini akan terus berulang. Di sisi lain, Wowo mengusap air matanya dan memeluk ayahnya dengan bangga. Ia pun masuk ke rumah, dan tertawa sepuas-puasnya. Perkataan salah satu warga tadi masih tertinggal di kepalanya, tapi bagi Wowo, kerugian warga tak penting baginya.

Tak ada yang peduli jika warga rugi, tak ada yang peduli jika warga menderita. Selama Wowo masih hidup dalam kemewahan, selama Wowo masih bisa mengusulkan ide-ide cemerlang, dan selama Wowo masih bisa terbangun esok harinya dan duduk menonton TV dengan sepiring nasi goreng, maka semuanya akan baik-baik saja.

Semuanya akan baik-baik saja.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!