Sejak akhir tahun 2016 Perpustakaan Jalanan Karawang (PJK) memulai pengabdiannya sebagai Street Library, sebuah komunitas yang dirintis oleh tiga orang pengangguran: Izal, Rizki Andika, dan Hilman. Ajaib wadah ini bertahan hingga sekarang. Baguslah status pengangguran mereka tidak ikut bertahan. Saya sendiri ikut PJK berkat si Eki sekitar setelah 1 bulan PJK lahir.

Si Rizki Andika alias Iyan sering bilang kalau PJK pada merupakan ‘Ritual Penebusan Dosa’ masa lalu. Berkat ‘Ritual Penebusan Dosa’ ini saya menjadi paham bahwa PJK semata-mata bukan hanya untuk kepentingan pribadi melainkan untuk semua makhluk hidup. Di mana untungnya coba membuka perpustakaan jalanan?

PJK sempat beberapa kali diusir oleh pedagang kaki lima karena lahan tempat mereka mengais rejeki tidak sengaja PJK tempati, akhirnya PJK bergeser kesana-kemari.

Karangpawitan menjadi tempat favorit untuk menjalankan misi. Di tempat itulah saya lumayan dekat para pedagang dan para pengamen yang betah berlama-lama membaca “Brutal” juga “Kukila”-nya Aan Mansyur.

Sampai pada akhirnya PJK bertemu kawan-kawan Das Kopi. Berkat itulah PJK berjejaring dengan beberapa Perpustakaan Jalanan dan pegiatan literasi di berbagai wilayah lainnya.

Menurut kaca mata awam saya, perpustakaan jalanan (selanjtnya kita sebut saja ‘Perjal’) dan pegiat literasi dari berbagai daerah juga bervariasi dalam pola gerakannya. Artinya mereka tidak hanya sekedar berkutat pada kegiatan pustakawan: pengadaan, peminjaman dan pendataan buku saja, melainkan mempraktikan apa yang telah mereka baca. Maka tidaklah aneh jika beberapa Perjal dianggap bagus tapi juga sekaligus berbahaya bagi sebuah rezim, baik dari segi gerakan maupun tulisan.

Hal itu barangkali sejalan dengan yang Yona Primadesi tulis, bahwa literasi bukan hanya perkara baca-tulis-hitung belaka. Literasi menyangkut banyak aspek salah satunya baca-tulis yang nantinya musti dikembangkan menjadi kaji, hitung, nalar, budaya kritis dan komunikatif.

Di sisi lain beberapa pihak pemerintah juga kerap mengakui dengan malu-malu, bahwa kehadiran Perjal bagimanapun telah membangun kesadaran masyarakat untuk menumbuhkan benih-benih kepekaan akan masalah sosial dan ingkungan melalui gerakan-gerakan kolektif, kebudayaan, dan kewirausahaan. Sebab pemerintah (melalui dinas terkait) juga tidak perlu capek-capek turun masyarakat untuk melaksanakan pekerjaan, toh sudah ada anak-anak muda seperti Perjal ini.

Namun sayangnya gerakan kolektif ini juga sering dianggap sebagai ancaman. Mengapa demikian? Sebab gerakan kolektif seperti ini mampu menghimpun kesadaran masyarakat di wilayah-wilayah konflik agraria. tak peduli segila apapun manuver elit politik dan partai yang tengah berlangsung di sana.

Perjal dan Pembubaran

Disitat dari kompas.com (2016) Indonesia mendapat rangking ke 60 dari 61 negara gemar membaca buku, maka misi pertama PJK adalah melakukan penyadaran kepada masyarakat terhadap pentingnya membaca, terlepas dari apa yang PJK suguhkan, berbobot atau tidak bagi pembaca.

Saya masih ingat, di tahun 2016, masa-masa awal ikut PJK adalah saat sedang hangat-hangatnya pembubaran Perjal oleh sejumlah aparat di kota besar seperti Bandung dan Jakarta karena buku-buku yang mereka suguhkan terindikasi memuat tema-tema komunisme. Bahkan tidak sedikit buku yang disita–belakangan mulai ramai lagi. Jelas itu memacu ardenalin lantaran PJK pun punya beberapa buku jenis serupa meski tidak banyak.

Secara tidak sadar, ternyata keberadaan PJK adalah protes halus terhadap Perpustakaan Daerah (Perpusda) Karawang. Bagi PJK Perpusda Karawang terlalu eksklusif dan kurang berbaur dengan masyarakat. Ia tidak punya program yang mensosialisasi soal pentingnya membaca buku dan pelbagai macam permasalahan lain—selain koleksi buku-bukunya yang kuno, boro-boro lengkap.

Di tengah-tengah wacana pembredelan buku-buku (yang terindikasi) kiri seperti saat ini, Perpustakaan Daerah ternyata tidak mampu menjadi filter supaya masyarakat tidak phobia simbol-simbol dan alergi terhadap pengetahuan. Bukankah para pustakawan di sana harusnya dapat membuka jalur-jalur seperti itu?

Namun, masalah yang lebih mengerikan belakangan ini adalah kami mulai merasa bosan. Sebagai manusia normal dan senang akan hal-hal mewah, saya rasakan kejenuhan yang luar biasa pada akhir tahun 2017. Hal ini juga dirasakan oleh kawan PJK yang lain.

Bukan karena sudah satu tahun bertempur dengan debu jalanan, digilas aspal jalan PJK, kok tidak diundang ke Mata Najwa. Bukan juga karena missquen walau benar adanya. Melainkan karena saya sadar, melapak buku di tengah orang-orang tidak suka buku itu sesuatu yang membosankan.

Seminggu dua kali atau sekali menggelar-ngampar dengan orang yang itu-itu saja. Kadang tidak ada di antara mereka yang melimpir untuk membaca berlama-lama.

Tak ayal saya sering menganggap PJK sebagai tugu. Jika tidak hanya dilihat, mereka akan mengabadikan momen di sebelah lapakan. Lalu mengucapkan semangat dan selamat tinggal. Meski begitu, tak apalah. Toh PJK semakin eksis di dunia maya. Ehehe.

Kini PJK sudah masuk ke tahun ketiga. Kami sungguh ingin bertahan lebih lama lagi. Soalnya Senartogok bilang “bertahan adalah bentuk cinta paling liar.” Tapi siapa sih yang ngerti soal cinta?

Profil Penulis

Fahad Fajri
Fahad Fajri
Lahir 28 Januari 1996 di Karawang. Sedang menempuh pendidikan strata satu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Singaperbangsa Karawang. Menyenangi bacaan bergenre prosa fiksi dan puisi. Dapat dihubungi melalui fahadfajri26@gmail.com .