Wednesday, April 24, 2024
Cart / Rp0
No products in the cart.

Tiga Jawaban Buat Pepi Semesta Literasi

Semua setara. Semua adalah pekerja. Rebuut~

Ada tiga jawaban yang akan saya jabarkan kepada Faizol Yuhri atas tulisannya berikut: Dari Karawang, Semesta Literasi Tanggapi Pak Sebul. Terutama pada bagian yang kurang lebihnya seperti berikut: … Kamerad Egi Polontong dan serikatnya berupaya melawan kapitalisme internasional, meski akhirnya kalah juga.

Berikut jawaban saya.

(Ini bakal panjang. Jadi siapkan rokok dan kopimu)

Pertama, kami bukan kalah, kami hanya belum menang.

Sebagai seorang yang terlibat dan menyaksikan secara langsung bagaimana kaum buruh hari ini babak belur oleh kebijakan pemerintah, saya mengamini jika gerakan buruh mengalami penurunan kuantitas dan kualitas.

Meskipun begitu, setidaknya kemenangan kecil dari pengorganisasian buruh untuk turun ke jalan menuntut kenaikan UMK (Upah Minimum Kota) 2023 di Karawang masih bisa dirasakan bahkan juga dirasakan oleh pembaca Nyimpang sekalian di angka 5,18 juta untuk yang bekerja di bawah 1 tahun. Dan secara intern, kami pun sedang melakukan upaya perbaikan, evaluasi, dan menyusun ulang strategi taktik.

Lima koma delapan belas juta. Angka kecil itu cukup memberikan harapan untuk melanjutkan upaya mengais kemenangan-kemenangan kecil lain di saat Konsolidasi Oligarki di Indonesia telah melahirkan kebijakan-kebijakan anti buruh dan rakyat seperti Omnibus Law Cipta Kerja yang digantikan oleh PERPPU No. 2 tahun 2022 dan juga disahkannya aturan yang mengikis hak demokrasi rakyat yaitu Undang-undang KUHP terbaru.

Pepi, kami memang sedang mengalami penurunan kuantitas dan kualitas di aksi-aksi massa dan kebijakan pemerintah yang menguntungkan kaum pemodal pun masih antre berbaris untuk disahkan. Tapi, kami bukan kalah. Kami hanya belum menang. Karena keyakinan yang diajarkan kawan-kawan Organisasi Serikat Buruh yang menjadi tempat saya mempraktekan teori-teori untuk perubahan itu tidak mengajarkan untuk menyerah apalagi putus asa.

Perlu kau ketahui, Pep. Kemenangan bagi Kaum Buruh adalah juga kemenangan bagi Rakyat Klas tertindas lainnya. Dan kemenangan Besar semacam itu sudah pernah terjadi dalam sejarah semenjak “Kaum Pemodal” berkuasa di seluruh dunia.

Kau bisa lihat yang terbaru, bagaimana Rakyat Chile telah mengubah konstitusi lama mereka yang merupakan warisan dari rezim pro pasar bebas Pinochet yang telah memberangus Gerakan Kiri di negaranya. Kini dengan konstitusi baru, mereka menjamin kesejahteraan rakyatnya, menjamin kesehatan gratis, pendidikan gratis, melindungi masyarakat adatnya, dan melindungi kaum perempuan bahkan menghapuskan diskriminasi bagi LGBTQ+. Itu terjadi setelah kemenangan pemilu berhasil mengangkat Gabriel Borick yang merupakan seorang aktivis dari kaum pelajar.

Kemenangan di Chile tidak seperti Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan, Pep. Tapi hasil dari upaya panjang, sejak adanya kolaborasi gerakan pelajar (mahasiswa) dengan gerakan buruh di tahun 1980-an. Para pelajar dengan pandangan teoritis yang mendalam, sementara itu organisasi buruh dengan praktek pengorganisasian dan aksi massa yang serius.

Selain itu, di Pemilu Brazil yang baru juga telah menaikan kembali mantan presiden lamanya yang memiliki sejarah progresif yaitu Lula Da Silva. Dan masih banyak contoh-contoh lain. (baca aja sendiri dah!)

Kita, Klas Buruh ini seringkali terlalu merendahkan diri sendiri dengan menganggap diri sebagai keset ataupun sekrup dari kekuasaan modal (kapitalisme). Dan memang seperti itulah yang akan terjadi ketika klas yang mengeksploitasi buruh melancarkan serangan persuasif melalui dogma dan moralitas palsu yang mengatakan kemiskinan adalah “takdir”.

Sambil ngisep rokok, saya jadi ingat, Pep. Ketika kau mempublikasikan ungkapan Mantan Ketua APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) tentang banyaknya perusahaan yang hengkang dari Karawang karena upah terlalu tinggi dengan mengadopsi data jumlah perusahaan yang sudah usang dan menjadi viral di mana-mana. Sayang, waktu itu mood saya sedang jelek dan terlalu sibuk untuk membantahnya. Dan lagi pula Kenaikan UMK di Tahun 2023 tetap kami dapatkan.

Saya berikan sedikit gambaran historis bagaimana sistem Ekonomi-Politik sepanjang sejarah kita. “Manusia” atau kalau kata saintis Favorit Kekasih Khayalan Ahmad Farid (Mayang) yaitu Yuval Noah Harari adalah Sapiens, alias kita ini (yang kini suka mabuk kawa-kawa saat sedang merasa kesepian karena alienasi lalu terlempar dari dunia yang tidak berpihak kepadanya) berbeda dari kondisi dulunya.

Dulu kata Yuval, kita adalah pemburu-pengumpul yang hidup dengan alat sederhana dalam prinsip kolektivitas (kebersamaan). Bahkan patriarki yang kini dilawan Yayu dan kawan-kawannya belum ada sama sekali. Semua setara. Semua adalah pekerja. Lalu sebagian dari mereka ada yang menjadi jagoan dan mulai menaklukkan kelompok yang lainnya sehingga kelompok yang berhasil dikalahkan menjadi budak para jagoan itu. Muncullah kemudian sistem ekonomi-politik menindas pertama yaitu perbudakan, dan yang menjadi pertentangan pokoknya adalah para budak dan tuan budak. (Tonton Serial Viking sebagai gambaran).

Lalu, kata Yuval lagi. Muncul sistem pertanian dan muncul pula peradaban-peradaban besar seperti Mesopotamia dan lain-lain. Di sana, hidup seorang raja dan para bangsawan yang menganggap diri mereka adalah titisan dewa. Sehingga hasil dari tanah-tanah yang dikerjakan para petani harus disetorkan kepada tuan tanah yaitu raja dan bangsawan tadi. Sistem ekonomi-politik itu adalah sistem feodalisme yang muncul dan menggantikan sistem perbudakan.

Dalam feodalisme, pertentangan yang paling pokoknya adalah antara kaum tani dengan tuan-tuan tanah. Feodalisme juga merupakan sistem yang berkuasa cukup lama hingga di abad ke 17-an mulai digugat oleh kaum borjuis yang belum berkuasa kala itu.

Setelah itu, ditandai dengan Revolusi Perancis dan industrialisasi karena penemuan mesin uap di Inggris (yang kemudian segera menyebar di Eropa). Singkat kisah feodalisme ditumbangkan dan borjuasi mulai berkuasa dengan bantuan kekuatan kaum tani. Dengan menganut ideologi liberal, mereka mengekspansi Eropa dan seluruh dunia termasuk Indonesia (dulu Imperialis Inggris dan Belanda) dan melahirkan suatu klas baru yaitu Klas Buruh yang ke sana ke mari menjajakan tenaganya.

Intinya buruh pun lahir karena sumber-sumber penghidupan di desa dirampas oleh borjuasi dengan kekuatan negara, dan di kota-kota pengrajin-pengrajin kecil hancur karena Industrialisasi menghasilkan komoditas yang melimpah dan murah. Di sisi perkembangan teknologi dan pengetahuan yang tumbuh pesat, tapi kehidupan Klas baru ini (Klas Buruh/Proletariat) semakin terdesak.

Nah, jadi maksud saya, Pep. Ekonomi Politik itu terus berubah, berkembang atau bahkan berganti dengan sistem yang ter-update. Termasuk Kapitalisme yang kini mulai usang, dan kelak akan melahirkan Sosialisme (baca: Why Sosialism?; Albert Einstein).

Menurut keyakinan yang saya pelajari karena mengamini Dialektika, kemenangan besar bagi Klas Buruh pasti akan terjadi meskipun bukan dalam waktu dekat ini. Kemenangan Klas Buruh, artinya kemenangan bagi rakyat juga yang di antaranya kaum perempuan, kaum tani, masyarakat adat, buruh migran, nelayan, pedagang kecil, seniman, mungkin juga penulis dengan upah murah di Nyimpangdotcom.

(Semoga pandangan saya ini ilmiah, aaammmiinnn).

Kedua, “Meningkatkan minat baca masyarakat bukan tugas kita, tapi tugas pemerintah!” terdengar rebel tapi tolol.

Pepi, kau ini gak paham politik atau karena terlalu dekat dengan Bupati, sih?

Negara, Pep. Kata Mr. X, merupakan perpanjangan tangan dari Klas yang berkuasa. Kekuasaan negara hari ini, dipegang oleh segelintir kaum pemodal yang telah terkonsolidasi di Rezim Jokowi-Ma’ruf. Kita bisa cek bukti-buktinya dari tataran eksekutif, legislatif ataupun yudikatif di Indonesia. Sederet nama pengusaha-pengusaha bukan kaleng-kaleng duduk bercokol di sana dan sebut saja yang berkaitan dengan minat baca adalah Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan. Bos Gojek yang menganggap para Ojol itu sebagai mitranya tapi tidak pernah dilibatkan untuk menentukan kebijakan PT. Gojek Indonesia. Sementara diksi “mitra” hanyalah dalih untuk mengeksploitasi para ojol yang bermodal sendiri untuk membeli motor, handphone, bahkan atribut, dan kuota yang menjadi sarana kerjanya.

Pep, boro-boro meningkatkan minat baca, pemerintah kita hari ini sedang mengupayakan agar pendidikan bisa semakin mudah dikomersialisasi dan diliberalisasi melalui RUU Sistem Pendidikan Nasional. Artinya pendidikan formal dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi akan semakin sulit dijangkau oleh para penulis dan staf-staf Nyimpangdotcom yang merokok aja masih lintingan. (Editor: Egi Bangsaaaat!)

Salah satu kepentingan klas yang berkuasa yang mengeksploitasi klas lainnya yang lebih lemah seperti buruh (yang merupakan masyarakat yang mungkin dimaksud Pepi) jelas-jelas tidak ingin kita menjadi cerdas, berpikiran kritis, berwawasan luas, juga berpandangan objektif dan ilmiah, yang bisa didapat salah satunya melalui aktivitas membaca.

Sebagai bukti, coba tanya anak SMK yang baru lulus sekolah itu tentang undang-undang ketenagakerjaan atau hak-hak dasar dari pekerja atau buruh. Pasti plahak-plohok kayak abis mendengar ucapanmu itu. Padahal mereka dididik dengan orientasi bekerja di suatu perusahaan setelah lulus sekolah.

Kenapa bisa begitu? Karena sistem pendidikan, membangun moralitas sesuai dengan keinginan dari klas yang berkuasa yaitu pekerja/buruh harus tunduk, nurut, dan manut. Kalau gak terima diperlakukan keji paling banter cuma gugurutu alih-alih menyiapkan pemberontakan dan mengambil alih kekuasaan. Jadi kalau minat baca masyarakat itu tinggi, bakal bahaya untuk stabilitas keamanan negara apalagi kalau yang dibaca adalah teori-teori yang mendorong perubahan tatanan masyarakat lama ke masyarakat baru.

Mengatakan “Meningkatkan minat baca masyarakat bukan tugas kita, tapi tugas pemerintah!” memang membuatmu terlihat keren dan rebel kayak anak Hexa Space, Pep. Tapi naif bahkan cenderung tolol kalo kita sudah tahu pemerintah tidak akan melakukan itu untuk kita.

Di organisasi kami, tidak pernah berhenti menjalankan tradisi membaca (pendidikan) dan diskusi. Ini hampir setiap minggu dengan beragam tema dan issue lalu dilanjut dengan “aksi” di pabrik-pabrik secara persuasif atau aksi massa turun ke jalan yang selalu jadi bahan kau menulis berita, Pep. Itulah tradisi kami sebagai Serikat Buruh Merah dan menularkan kebutuhan membaca menjadi kebutuhan utama bagi kami agar bisa menemukan jalan keluar secara bersama dari problematika yang setiap hari kami hadapi.

Dari kalimat semacam itu setidaknya ada dua interpretasi tentang kau yang bisa saya tangkap, Pep. Pertama, kau frustasi melihat kondisi sosial masyarakat hari ini yang tidak sesuai dengan imajinasimu dan tidak sanggup untuk mengubah kondisinya. Kedua, kau ingin mempertahankan status quo.

Ketiga, percuma terus tumbuh komunitas literasi jika perspektifnya tidak menggugat status quo.

Penyebutan nama dan aktivitas harian saya di Serikat Buruh dalam Tulisan Pepi akhirnya ikut menarik saya ke dalam pusaran keramaian yang tidak terlalu saya pahami tentang Literasi di Karawang dan Purwakarta yang dilatarbelakangi oleh kemunculan Sebul atau apalah itu. Tentang apa itu Sebul dan siapa nama di baliknya saya tidak paham, tapi bukan pokok itu yang perlu saya sampaikan.

Meskipun aneh, tapi Pembentukan kelompok baru lalu berbeda pandangan lalu pecah dan muncul kelompok baru lainnya seperti itu menjadi hal yang umum di Indonesia di bidang apapun khususnya bidang yang berkaitan dengan intrepretasi suatu pandangan atas suatu kondisi sosial seperti komunitas literasi misalnya yang dianggap perlu dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu.

Hal itu juga sering terjadi di dunia Serikat Buruh. Sebagai contoh, kawan-kawan mesti tau ada 11 Serikat Buruh berdiri di PT. Chang Shin Indonesia. Yang pertama berdiri adalah SPSI yang dulu dinilai kompromis lalu muncul KASBI yang menjadi alat bagi buruh di PT. Chang Shin Indonesia untuk melawan kebijakan penangguhan upah sekitar tahun 2013 yang tidak digugat sama sekali oleh SPSI.

Singkat cerita, setelah beberapa orang mulai hebat mulailah memisahkan diri dari Serikat Buruh yang sudah ada dan membentuk oraganisasinya sendiri sampai kini ada 11 Serikat berdiri. Dari 11 serikat yang muncul, apakah kesemuanya berkepentingan untuk penguatan buruh PT. Chang Shin Indonesia dalam melawan kebijakan perusahaan? Belum tentu, bahkan saya bisa buktikan untuk mengatakan tidak.

KASBI sendiri membuktikan konsistensinya dengan menolak dan melawan kebijakan pemotongan upah bagi buruh yang diliburkan setiap hari Sabtu di akhir tahun kemarin. Di saat yang 10 lainnya menandatangani kesepakatan dengan mengkhianati anggotanya. Artinya, membentuk kelompok baru belum tentu bertujuan untuk mengembangkan teori dan praktek yang baru pula, bisa jadi hanyalah ego dan untuk kepentingan elite kelompok semata.

Kini perlu kita cek dari setiap lahirnya suatu kelompok yaitu latar belakangnya dan tujuannya. Banyak tumbuhnya Komunitas Literasi di Karawang dan Purwakarta dalam perspektif umum tentu sangat bagus untuk menghidupkan ekosistem kreatif di kota kita yang pinggiran ini. Tapi dalam perspektif tertentu, ia bisa dilihat lain. Bisa bagus atau buruk.

Sebelum itu, saya akan sedikit beri gambaran  dari Antonio Gramsci dalam teorinya tentang Hegemoni yang mengatakan, bahwa salah satu sarana bagi kelas penguasa untuk menanamkan hegemoninya kepada mereka yang dieksploitasi adalah melalui kebudayaan. Kebudayaan yang mereka ciptakan alih-alih membuat klas pekerja mau berjuang untuk mewujudkan kesejahteraannya justru malah membantu untuk melanggengkan kekuasaan yang bejad itu sendiri (status quo).

Literasi adalah salah satu wadah untuk penyebarluasan suatu ide, dan ide tidak pernah netral. Setiap ide memiliki perspektif tersendiri mengenai kebenaran tergantung dari tujuannya. Jika komunitas literasi tumbuh semakin banyak untuk sama-sama menggugat status quo melalui kebudayaan (sastra dll), maka tentu itu bagus dan sesuai dalam perspektif yang saya paparkan di bagian sebelumnya.

Tapi jika komunitas literasi hanya sekedar ruang untuk kesenangan individu-individu yang ada di dalamnya tanpa mau bertanggung jawab terhadap ide-ide yang disebarluaskannya apalagi hanya untuk mempertahankan status quo, usaha Bakso Moera itu jauh lebih baik menurut saya. Tapi tenang, perspektif bisa dibangun asal kita mau berdiskusi dengan orang yang tepat, kok.

Sebagai penutup, saya ingatkan, kebaikan setiap individu akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir. Maka organisasikanlah dirimu. Kaum Buruh Se-Karawang Purwakarta, Berserikatlah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Login dulu, lur~

Nyalakan Mimpimu!