

Ada sebuah template bernada simpati yang telah dibagikan ratusan ribu kali pada story Instagram–mungkin sekarang sudah sejutaan. Semua orang memakai itu untuk turut menyatakan duka pada hal-hal yang terjadi pada ibu bekerja, mulai dari daycare yang gak becus di Yogyakarta sampai kecelakaan kereta di Bekasi beberapa hari silam.
Jujur, sebagai ibu beranak satu dan bekerja, saya tidak merasa simpati tersebut benar-benar sampai kepada perempuan yang menjadi korban. Saya saja tidak ikut merasakannya. Tidak karena di banyak kesempatan, saya merasa “ditolak”.
Misalnya saja, saat wawancara kerja dengan pengalaman kerja yang relevan dan mumpuni, sang interviewer membubuhkan catatan khusus untuk perempuan yang mengaku sudah punya anak. Coba hitung-hitung lagi, berapa banyak kesempatan dan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh perempuan punya anak–hitunglah dari 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan.
Dalam urusan keluarga besar pun, saya disisihkan dengan alasan,
“Kamu tidak usah ikut, fokus saja mengurus anak.”
Perempuan punya anak dianggap lebih baik di rumah saja. Tidak perlu ada kontribusi yang aiueo, padahal punya atau tidak punya anak, ia bisa jadi mampu melakukan sesuatu. Alasan ini lah yang membuat saya jadi paham mengapa saat kasus daycare di Yogyakarta terkuak, malah banyak orang yang berkomentar meminta para ibu bekerja untuk resign saja.
Seolah-olah saat seorang perempuan telah melahirkan dan punya anak, dunianya berhenti.
Saat ada pejabat yang meminta “tukar gerbong”, alih-alih merasa terharu dengan simpati yang disampaikan, saya malah tertawa kecut. Suara batin saya mulai meremehkan,
“Cuma sampai sini aja nih yang dipikirkan?”
Bukannya bisa ya dipikirkan bagaimana membuat sistem lalu lintas yang lebih terukur dan minim risiko? Membuat aturan dan pengawasan tentang daycare itu juga bukan sesuatu yang muluk-muluk, kan? Boleh juga dipikirkan tentang bagaimana membuat UMR Yogyakarta menjadi lebih masuk akal sehingga para ibu bekerja mendapat kompensasi yang sepadan untuk mendapatkan daycare yang lebih aman dan berkualitas. Atau, ya sudah, minimal sampaikan pernyataan duka mendalam, solusinya sampaikan belakangan. Titik.
Tadinya, saya mau berpikir hanya pejabat-pejabat saja yang asbun. Nyatanya setelah melihat banyak hal di sekeliling saya, ternyata pejabat juga cerminan masyarakatnya. Berkaca pada pemikiran Reinhold Niebuhr bahwa individu cenderung bermoral, tetapi kelompok sosial (bangsa, kelas, dan serikat) sering kali tidak bermoral.
Secara emosional, seseorang bisa merasa sedih, lalu bersimpati melihat bentuk gerbong KRL yang tragis. Namun, secara ideologis, mereka masih memegang nilai-nilai kolektif yang patriarkis. Ada diskoneksi antara emosi sesaat dan ideologi jangka panjang. Itulah mengapa mereka bisa menangisi seorang ibu bekerja, tetapi besoknya kembali menuntut istri atau anak-anak mereka untuk “di rumah saja”.
Orang sering kali tidak menyadari bahwa dua pikiran mereka bertabrakan. Mereka merasa simpati pada perempuan punya anak yang menjadi korban karena itu adalah respons kemanusiaan yang umum. Namun, mereka masih menyimpan keyakinan patriarkis sebagai “kewajaran”. Ditambah lagi, media sosial memungkinkan seseorang untuk mempertahankan disonansi ini karena di sana mereka hanya perlu menunjukkan satu sisi–sisi yang peduli–tanpa harus mempertanggungjawabkan sisi lainnya dalam tindakan sehari-hari.
Akibatnya, yang muncul di permukaan adalah semacam simpati estetis. Yang penting membagikan template. Yang penting berbicara sesuatu.
Di era yang hyper-communication ini, segala sesuatu harus di-posting, dibagikan, dan diberi like. Sesuatu yang tidak dikomunikasikan dianggap tidak ada. Simpati menjadi “template” karena perasaan yang kompleks disederhanakan menjadi gambar atau slogan yang bisa langsung dikonsumsi. Pejabat asal berkomentar agar terlihat bekerja tanpa mau repot memikirkan beban hidup warganya lebih mendalam.
Tidak ada larangan sebenarnya untuk menyampaikan simpati. Kita semua manusia biasa yang tentu bisa merasakan sedih saat membayangkan kemungkinan bahwa bagaimana jika hal buruk itu juga terjadi pada kita. Dan membagikan template adalah tindakan instan yang bisa dilakukan. Namun, jangan sampai kehilangan kemampuan untuk berkontemplasi secara mendalam. Jangan sampai kita tidak pernah benar-benar merenungkan akar permasalahannya, seperti beban ganda perempuan bekerja, regulasi yang tidak jelas, dan sebagainya.
Jika tidak sanggup, tidak usah pura-pura baik dengan perempuan yang punya anak dan ibu bekerja.
Lahir di Banyuwangi 35 tahun silam. Sudah gemar memintal kata-kata, bahkan sebelum menjadi sarjana sastra. Sila ngobrol via Instagram di @asya_azalea
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!