Kemarin-kemarin Jerman pulang kampung dengan air mata. Kini semua orang tidak bisa menampik kalau drama korea benar-benar tahu cara menguras air mata. Dua gol dari Korea Selatan yang super nyebelin bagi Jerman dan para pendukungnya terjadi di menit-menit paling ujung pertandingan. Sungguh tega oppa-oppa itu.

Sementara itu isu politik kita berpusar di kemenangan Ridwan Kamil dan UU dan receh-recehnya.  Sedang di Purwakarta kemenangan Anne dan Aming mendapat sambutan meriah para pendukungnya dan tentu saja kekecewaan pendukung lawan. Salah satu kru nyimpang mengaku takut keluar rumah karena ada tumpukan massa pendukung lawan Anne-Aming di dekat tempat tinggalnya.

Pemilu sudah selesai, tapi di internet dan beberapa tongkrongan topik pembicaraannya masih menyisakan sisa-sisa bara kompetisi. Pemilunya sudah beres, tapi kitanya ternyata masih jauh dari kata ‘dingin’.

Well, hal-hal tertentu sedang terjadi. Semuanya akan berarti baik bagi sebagian orang, juga bikin kzl sebagian yang lain. Sementara itu, jauh dari hiruk pikuk media sosial, di Bojong Purwakarta, daerah adem yang jaraknya tiga hari berkuda dari planet Mars, sekelompok anak muda berniat menggelar gigs musik sekaligus pameran senirupa, dengan nama The Outskirt.

The Outskirt sendiri digelar di kafe Hollow Peace 97. Hmm… Sungguh nama-nama yang mewah dan mengundang rasa penasaran.

Jika biasanya Bojong kerap identik dengan wisata-wisata alam dan tempat tujuan kencan yang romantis, kini dari dua nama itu kita tahu bahwa di daerah yang lebih dekat ke planet Mars daripada pusat kota Purwakarta ini, ternyata ada anak-anak muda yang sedang melakukan hal selain pacaran dan jadi timses kandidat Pilkada. Wqwq.

Berikut ini wawancara kami dengan si empunya hajat. Biar penasaran kita tuntas sekarang juga.

Oh iya, wawancara ini dilakukan oleh kru kami yang begajulan, Devon Sucker (DVN), bersama si Akbar Rakab a.k.a Ahong (AH) si narasumber sekaligus orang di belakang hajatan ini.

 

DVN: Hai, Kang. Abdi Devon, ti nyimpang.com, mau ngawawancara soal The Outskirt, boleh?

AH: Oh, siap. Boleh, boleh, brader.

 

DVN:  Btw. Sudah tahu nyimpang.com belum, nih?

AH: Duh. Belum, A. Hehe.

 

DVN: Haddeh, si akang mah. Yaudah sama Devon kasih tahu ya.. hehe. Jadi nyimpang.com adalah media onlinenya barudak ngora anu nyeni dan indie dan begajulan. Intina mah iyeu teh media anu panghadena sajagat raya.

AH: Oh heu’euh nyah? Wqwq.

 

DVN: Henteu sih kang. Loba media nu leuwih hade mah. Nya kitu weh pokoknya mah. Hehehe. Jadi mulai nih, ya. Kenapa nama even ini The Outskirt?

AH: Hahaha. Siap, siap. Kin abdi bakal rajin buka nyimpang.com.

Jadi The Outskirt itu bahasa inggris dari “perbatasan”.  Nah karena acara ini tuh selain berada di daerah yang agak jauh dari pusat kota. Acara ini juga ajang silaturahmi antara anak-anak musik di Purwakarta dan Bandung.  Ngomong-ngomong aku juga tinggal di perbatasan Purwakarta dan Bandung.  Gitu.

 

DVN: Oh gitu. Jadi bisa dong cerita lebih lanjut soal The Outskirt ini. Sekalian ada apa saja di sana nanti?

AH: Jadi The Outskirt ini teh gigs musik metal. Meskipun sebenarnya kami nggak membatasi genre apa saja nanti yang tampil. Cuman karena kebetulan kebanyakan yang datang nanti band-band indi bergenre metal, jadi weh kesan metalnya yang ditonjolin.

Untuk acaranya sendiri meliputi panggung musik, terus pameran artwork dari teman-teman di ‘Koalisi Tengkorak’, terus ada Sablon on The Spot juga nantinya. Jangan lupa bawa kaos polos ya, ntar, Von. Ajak teman-teman nyimpang juga.

 

DVN: Siaap. udah berapa kali acara yang kaya gini teh. udah pernah nyoba buat acaranya d

sekitaran kota. Sekaligus pngen ngewadahin band-band lokal dulu sih tadinya jadi biar lebih ke eksplore gitu.

AH: Kalo di kafe Hollow Peace 97 alhamdulillah dalan 10 bulan ini kamu sudah bikin tujuh acara. Kalo di kota blm pernah, soalnya masih sulit masalah perijinan

 

DVN: wihh produktif pisan euyy. Selama buat acara ini gimana respon pengunjung dan warga sekitar?

AH: Alhamdulillah brader di sini tanggapannya positif. Yang punya kafenya ngedukung banget sama acara-acara seni kayak gini. Begitu juga respon pengunjung, sama baiknya. Mungkin karena dipusat kota Purwakarta lagi jarang bnget gigs kayak gini. Kalo dari masyarakats ekitarnya sih ada yang pro dan juga yang kontra. Biasa lahh.

 

DVN: Wah gitu yaa.. Ngomong-ngmong sumber dananya bagaimana nih? Apa jangan-jangan kalian semua orang khaya? Hihi.

AH: Ahahaha kita mah biasa aja anaknya. Ya kalau Cuma buat rokok-rokok sama OT-mah ada aja laah. Tapi yang jelas ya selama ini yang kita lakuin itu ya kolektif. Dikerjainnya bareng-bareng, jadi ya ngedanainnya juga bareng-bareng aja.

 

DVN: Oh iya. Soal masyarakat sekitar yang kontra nih. Bagaimana kalian menanggapinya?

AH: Ya kalau mengenai itu sih biasa yaa… kalau yang negurnya baik-baik ya kita turutin nasihatnya. Kita ngejaga saja agar acaranya berjalan lancar dan aman. Tapi kalau yang resek gitu kayak yang minta ini lah itu lah, gak pernah kami tanggapin.

Lagian kan maksud kita begini-beginan ini kan karena ingin berkawan dengan banyak orang dan bisa silaturahmi antar pegiat kesenian. Soalnya kalau ngomongin materi, ya, jauh banget. Buat dana kolektif saja malah sering habis buat sewa alat, sound, sama sewa tempat. Kalaupun ada tips atau dana lebih ya kita pake buat makan-makan di akhir acara bareng sama semua band yang berpartisipasi di gigs kami ini.

 

DVN: Wah asoy nih. Nah, kalau boleh tahu, kolektif yang ada di balik The Outskirt, yang Ahong buat bareng temen-temen ini ada namanya tidak? Terus kolektif inifokus dalam hal apa selain musik?

AH: Gak ada namanya sih. Yang jelas aku dan teman-teman pingin banget memperbanyak gigs-gigs seperti ini untuk mengangkat band-band musik lokal. Dan yang jelas, ya, silaturahmi. Penting. Siapa tahu dari banyak silaturahmi gini yang digampangkan jodohnya, kan?

 

DVN: Ya Ampun. Meuni kitu. Hehe.

Btw, menurut Ahong gimna nih soal perkembangan band dan musik yang ada di Purwakarta, dan selama ini sudah ada berapa band yang kira-kira terpantau dari gigs-gigs yang Ahong buat?

AH: Eumm… sebenernya di Purwakarta tuh banyak bnget talent musiknya. Dari kesenian yang lain juga banyak. Dan sejuah yang aku lihat, jumlahnya terus naik. Artinya ya perkembangannya Alhamdulah maju banget. Lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya.

Masalahnya mungkin bukan jumlah. Tapi ya karena kurangnya gigs-gigs seperti ini. Yang mana itu berpengaruh pada publikasinya yang sedikit dan jarang-jarang.

 

DVN: Oh gitu ya… harusnya dengan adanya nyimpang ini pasti membantu ya kang? Hehe.

AH: Iya dong. hehe

 

DVN: Oke deh. Nah, kalau misalkan ada yang mau berkerja sama dengan kawan kawan ahong dan membuat projekan bareng gimana?

AH: Ya kalo kita sih welcome trus brader selama itu positif. Tinggal kontak saja. hehe

 

DVN: Ada berapa orang di balik semua kekerenan ini teh, Kang?

AH: Banyak sih. Kita juga sering dibantu sama anak-anak Hollowpeace, komunitas Stoned Lembur.

 

DVN: terakhir nih setelah ngobrol ngalor ngidul. Kasih pesan terakhir donk buatpara penyimpang yang berkecimpung dalam dunia kesenian, yang kadang tak berdaya ini. Xixi~

AH: Hmmm… ya intinya semangat trus, berkarya trus, dan jangan minder. Oh iya dan jangan lupa, jam 16:00 sore, hari Sabtu, tanggal 30 Juni ini, ya!  Kita senang-senang di Bojong, sambil melupakan urusan politik yang aduh panasnya itu. Hehe.

 

DVN: Mantaap surantaap. Hatur nuhun atas waktu dan keramah tamahannya, Kang Ahong. Sampai bertemu di tanggal 30 Juni nanti.

AH: Siap, juga. Eh punten kang Devon, ai korek abdi tadi di mana nyak?

 

DVN: ………

 

Catatan Redaksi: Begitulah keahlian kru kami. Ahli menghilangkan korek orang lain.

Oh, ya, untuk teman-teman yang mau bareng kami ke sananya, kami tunggu di kantor nyimpangdotcom, di Panorama. Kuy, ngadem di Bojong!