

Aku adalah awal senyuman matahari.
Terkadang matahari juga enggan menemaniku
dan memilih bersembunyi di balik awan.
Banyak orang yang menanti kedatanganku,
pun banyak juga yang mengumpati datangku.
Hadirku membawa suasana tenang
bersamaan dengan hiruk pikuk menyambut perang.
Dan aku adalah akhir dari mimpinya malam.
Malam yang kerap membuatku cemburu
karena malam lebih tenang dibandingkan aku.
Kehadiranku sering mengusik orang banyak,
ini karena perubahan yang kubawa.
Aneh, padahal mereka juga makan siang bersamaku.
Banyak yang bersembunyi dan menghindar dariku.
Panas sering membuatku tidak percaya diri menjadi siang.
Meski kadang rintik hujan juga menemaniku,
mereka lebih sering menyandingkan aku dengan panas.
Tapi seisi dunia harus tahu,
aku adalah tonggak tertinggi
yang menjulang bersama matahari.
Aku Senja
Aku hadir sebagai penghujung hari
Aku hadir dengan warna emas lembut
yang membuat mata tenang melihatku.
Ketika aku datang orang-orang menghela nafas lega
karena aku adalah waktu akhir penyambut malam.
Terkadang mereka berhenti sejenak dan memotretku.
Tapi kegembiraanku hanya sebentar.
Hari hanya mengizinkan aku hadir sekejap,
mungkin untuk sekadar hadiah bagi mereka
atau penanda untuk melangkah pulang pada petang.
Gelap tanpa matahari,
itu adalah aku.
Sebenarnya tidak ada yang spesial dariku.
Aku hanya tempat istirahat yang dinantikan orang.
Aku sering sedih karena kesepian.
Mereka tidak banyak berinteraksi denganku
dan membiarkan sunyi menemaniku.
Aku ingin bertemu pagi
karena dia memiliki tawa secerah matahari.
Tapi aku tidak sanggup meminta cahaya pada matahari
karena gelap adalah aku yang sepenuhnya.
Lulusan S1 Sastra Indonesia. Lahir di sebuah desa kecil Sumatera Barat, membuatnya berkeinginan besar merasakan mengelilingi dunia dengan tulisan-tulisannya. Senang berbagi dan mendengar cerita lewat Instagram @dinyaprilisyanda
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!