

Abu rokokku jatuh. Entah berapa lama Kirana dan aku saling terdiam, mengingat kilas balik yang sebenarnya tak ingin kulewati.
“De, emangnya kalau kamu udah lulus, mau ngejar apa?”
“Aku mau ngejar kebahagiaan Abang.”
Mendengar ucapan Kirana, aku hampir melebur dengan tanah. Nyatanya, tak hanya aku yang memikirkan dia, Kirana pun sama memikirkan aku. Namun, ada yang tersirat di pikiranku. Untuk Kirana yang masih belum banyak merasa, aku takut ia menekan kemauannya, mimpinya, harapannya, karena aku sebagai abangnya takut tak mampu untuk mendukungnya sampai tuntas, tergapai di depan mata.
“Makasih ya, De, udah mikirin kebahagiaan Abang. Tapi kenapa harus Abang? Kan kamu juga punya keinginan atau kebahagiaan sendiri.”
“Ngga, Bang. Ade udah cukup. Sekarang giliran Abang.”
Cukup belum tentu terpenuhi. Cukup adalah sifat menahan, di mana angan lebih itu pasti ada dan nyata, namun dipaksa berhenti karena keadaan.
“Tapi Abang suka sama semua masakan kamu.”
“Masa iya, Bang? Seenak itu memang?”
Kepala Kirana keluar dari balik pintu, menengok senang dengan senyum yang mengeluarkan aroma kebahagiaan. Karena senyumnya yang merekah, aku ikut terbawa senang.
“Jangan suka dilebih-lebihin, Bang. Emang bener enak?”
“Beneran, De. Apalagi waktu kamu bikin tumis kangkung itu. Beuhhh,” sambil meragakan menyendok, “Ammm. Rasanya tertinggal sampai minggu sekarang.”
“Lebay.”
“Sumpah, Abang gak bohong, De,” ucapku sambil membuat simbol damai dan dijunjung ke langit.
Kirana berguling-guling di lantai, menutup mukanya entah untuk apa, mungkin menahan malu agar tak tercium olehku. Kepalanya makin keluar dari kontrakan, hampir sejajar denganku, dengan posisi tengkurap dan lengan disilangkan sebagai tumpuan kepalanya. Kami sama-sama memandang pintu rumah orang lain.
“Cuman kenapa ya, Bang, dada aku suka perih?”
“Sampai sesak atau susah napas gak?”
“Susah napas si enggak, cuman sesak aja.”
Khawatirku memuncak. Aku menyalahkan diri sendiri karena membawa Kirana ke dalam lingkungan yang kumuh dan padat ini.
“Biasanya si sesaknya waktu aku lihat misalnya Rohim yang suka terbahak waktu dikejar mamanya, padahal kan mamanya lagi bawa sapu atau selang bercorak ular itu. Cuman yang paling sering itu waktu di sekolah, Siti yang suka marah karena papahnya telat untuk menjemput, Rahmat yang sering dijewer ibu guru, atau Lestari yang suka berbagi make-up yang baru-baru. Aku tahu banget kalau aku iri ke mereka. Aku juga tahu aku ngga akan bisa kayak mereka dan itu bakalan nyusahin aku sendiri kalau aku kayak Rahmat, Siti, atau Lestari. Cuman kenapa perih banget ya, Bang?”
Aku akhirnya melebur dengan tanah, merasa rendah sampai sedalam inti bumi. Perasaan kalah dan salah selalu menggerogoti jiwa ini, membawa Kirana ke tempat kumuh dan padat setelah menjalani seminggu baru yang menyesakkan.
Kamar kos yang sepetak, tembok yang tipis dan padat secara bersamaan. Kamar kos hasil sisa tabunganku setelah dipotong kelengkapan dan pendaftaran sekolah Kirana. Kasur yang seadanya, busanya sudah kabur dan menjadikannya sendiri menempel atau menyerupai lantai. Tak ada kompor, tak ada alat masak, bahkan tak ada lampu yang benar-benar terang selain lampu yang sudah terpasang. Mungkin penghuni sebelumnya sudah menggunakan lampu ini lebih dari 300 tahun, sama seperti masa depanku, redup.
Pagi ini Kirana sudah berangkat. Aku masih belum merekah, walau sudah terkena sedikit sinar matahari yang memantul dari jendela tetangga dan udara yang datang seadanya. Untungnya hari ini tak terlalu menyengat. Sepertinya matahari sedang malas-malasan, atau malu untuk bertemu denganku. Namun, entah kenapa hari ini terasa sendu. Di ujung ruangan terdapat meja lipat yang kakinya tinggi sebelah, tempat Kirana mengerjakan PR.
Buku tulisnya masih bertebaran di sekitarnya. Dua pulpen yang terselip di salah satu halaman dan pensil yang sebesar jari kelingking masih terlihat kecapekan. Ia lupa membersihkan karena semalam begadang kepanasan dan mulai terlelap di jam sepertiga malam.
Aku bangkit dari makam yang bernama kasur, berniat membersihkan meja belajarnya. Di bawah meja, di sebelah tong sampah, satu halaman dibuntal, lusuh, dan lecek. Pandanganku terpaku kepadanya. Satu halaman yang dibuang menyatakan satu harapan atau keinginan yang direlakan.
Di dalam kertas, tulisannya terlihat rapuh. Ada bercak-bercak air yang sudah menguning dan mengering, berjodoh dengan lipatan-lipatan yang menyayat, dan ini merupakan potongan dari jiwa Kirana.
‘TAKUT’
Takut akan sesuatu yang tak kutahu,
Takut tertinggal dari orang-orang yang lebih tahu,
Takut dilecehkan karena itu-itu melulu,
Takut tertinggal di belakang, takut jalan perlahan,
Takut tak sampai, takut mati, takut berseberangan,
Takut merugikan, takut ketinggian, takut pemarah,
Takut tua, takut tak bangun, takut sendiri,
Terlalu takut untuk merasa takut.
Kehidupan kedua begitu menyakitkan.
Bila masih berteman dengan perasaan.
Walau sebagian, bisakah itu dihilangkan?
Meski menjadikanku tak hidup.
“Uhuk. Uhuk. Uhhuk.”
Suara batuk terdengar dari Kirana, tersedak asap tembakau yang terbawa angin. Matanya berair dan memerah.
“Udah dong, Bang, ngerokonya. Udah abis berapa batang itu?”
Suasana yang mulanya muram kembali berwarna, bersamaan angin yang lebih sering bertamu ke arah kami, sambil membawa aroma masakan nasi goreng dari Bu Lena, merekahkan kembali senyumku yang sempat layu. Aku meminta maaf sembari mengusap-usap kepalanya, dengan wajah yang cemberut karena bau rokok menempel di rambutnya.
“Ayo masuk ke dalam, De. Abang ada film bagus nih.”
“Ayoooo, Bang. Film yang sekarang judulnya apa?”
“Judulnya Tersisa Satu.”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!