

Untuk bernapas saja Kirana sudah memaksakan. Hal apa yang terjadi sebelumnya sampai-sampai anak perempuan berusia 10 tahun lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri?
“Nggak kok, itu mereka lagi di ruang tamu berdua.”
Lalu terdengar suara kayu yang tertiban sesuatu, keras, lantang. Benda-benda berbahan kaca mulai pecah bertabrakan dengan sisi lain tembok kamar Kirana. Jeritan Ibu dibalut dengan derasnya hujan yang tiba-tiba besar, melengkapi tragisnya hari itu. Di sisi lain, karena hujan yang deras, suara-suara yang berasal dari neraka itu teredam. Namun, tawa Ayah ikut pecah berbarengan dengan guntur. Bukti iblis telah turun ke bumi.
“Nggak apa-apa, De. Itu Ayah sama Ibu lagi nyari obat kamu, mereka lupa nyimpen.”
Dengan bising yang terus berlarut dari Ayah dan Ibu ciptakan, semakin malam semakin besar, mengalahkan suara hujan. Mungkin salah satu suara sangkakala tercipta dari jeritan Ibu dan tawanya Ayah saat itu.
“Sudah, De. Ada Abang di sini. Istirahat ya.”
Perlahan matanya mulai sayu. Aliran sungainya berhenti berbarengan dengan perlahan kututup kedua telinganya. Binar matanya sudah tak mengeluarkan cahaya harapan. Akhirnya, ia bisa terlelap.
Atau saat maut sudah melingkar di tenggorokan. Tengah malam yang sunyi, saat Ayah dan Ibu telah memilih untuk pergi. Aku di ruang tamu sendiri, di atas kursi ditemani seutas tali. Suara detik jam berirama dengan degup jantungku. Tinggal satu langkah dari satu kaki yang tersisa. Suara derit kayu menggema di telingaku. Aku menoleh satir. Kirana keluar dari kamarnya sambil menenteng cairan pembersih lantai, bersama kantung matanya yang sepekat malam itu.
“Ayo loncat, biar aku tenggak semua isi botol ini.”
Melihat itu semua, melihat tekad dari Kirana, aku yang malah mengurungkan niat. Aku yang malah tak bertekad.
“Buat apa kalau aku hidup tapi Abang gak ada? Buat siapa aku juara kelas? Buat apa aku belajar masak?”
Aku turun perlahan dari kursi sialan itu. Aku hanya menggantung tekad, mematikan keputusanku. Badanku berhenti lalu jatuh di pelukannya. Kami bertumpah ruah di detik itu. Mata air yang berasal dari kalbu membuat tsunami di pundaknya. Bendungan Kirana pun lebur jika itu menyangkut tentang aku.
“Maafin Abang … maafin Abang.”
“Jangan tinggalin aku sendiri.”
Terlalu melelahkan jika harus kujelaskan tentang semua rasa ini. Hampir tak ada kalimat atau kata yang bisa menggambarkan rasa.
“Ayo kita pergi nanti pagi. Udah nggak ada apa-apa lagi di sini.”
Kami sama-sama tertidur di dalam dekapan satu sama lain, meninggalkan simpul yang menjuntai dan botol yang menganga. Yang kupercaya, semua makhluk punya dua nyawa. Nyawaku telah mati satu malam itu, tersisa satu menjelma Kirana.
*
Kirana
Aku mungkin terlahir dari yang tak menginginkanku. Pemilik rahim yang mulanya menginginkan dua laki-laki, namun aku terlahir sebagai perempuan. Betapa menyakitkannya menjadi perempuan yang tak diinginkan. Dan mungkin bukan hanya perempuan, begitu menyiksa menjadi anak yang tak diinginkan.
Di usiaku yang ke-10, saat kesadaran dan cara mengingatku mulai hadir, aku baru tahu kala itu pesawat terbang bisa terbuat dan berbahan kaca.
Di meja makan menuju malam, kami berkumpul untuk melahap kudapan sebelum tidur. Suasananya sesak. Padahal Ayah tidak merokok dan Abang sedang diam tak melawan. Ibu sibuk menyiapkan makam. Makam untuk Ayah yang menghabiskan uang bulanan dan untuk dirinya sendiri karena membawa teman Ayah masuk ke dalam kamar.
Ibu duduk berhadapan dengan Ayah, membawa nasi goreng seadanya dan satu telur dadar tipis.
Ibu tak lagi membagikan nasi. Ia menyiapkan untuk dirinya sendiri. Centong nasi berbahan besi berubah menjadi pisau saat memotong telur dadar. Bunyi nyaring yang ngilu dan pilu bergesekan memecah keheningan. Raut Ayah tak lagi santai, ditekuk tajam seperti setengah badannya terkena busur panah pertanda perang.
Setelah Ibu selesai mengambil bagiannya, Abang dan aku yang hanya diam melihat Ayah dengan sigap mengangkat garpunya. Entah karena takut tak kebagian atau menjawab panggilan perang. Ia mengangkatnya seperti pedang, lalu jatuh dengan keras, bergesekan dengan piring, lebih nyaring dari Ibu. Entah serpihan piring yang terguras dan bercampur dengan telur yang akan ia lahap atau nyawa Ibu yang dimakan olehnya.
Suara yang dibuat sengaja panjang itu berhenti saat menyentuh tiga kali, meniru sangkakala. Ibu benar tersulut dengan suara yang dibuat itu. Berdiri dengan darah yang sudah sampai ke ubun-ubun, menunjuk-nunjuk.
“Apa maksud kamu!”
Ayah ikut berdiri. Aroma telur kalah dengan bau yang amarah mereka ciptakan. Jam pun membisu, ikut takut kepada mereka berdua.
“Kamu yang mulai!”
“HAH!”
Mulanya mereka hanya mencaci, memaki sampai memekakkan pendengaranku. Gelas dengan air yang tersisa setengah dilempar ke samping Ayah. Tak kena, namun air di dalamnya berceceran sampai ke meja. Piring beserta kudapan dilempar ke samping, bertemu jendela. Pecahannya seperti granat, berserakan di lantai, langit-langit, dan membuat lubang di jendela serta di hatiku.
Rambut Ibu ditarik. Wajahnya dipaksa bertemu dengan meja dan serpihan kaca. Ayah terus berteriak seraya menahan wajah Ibu dengan satu lengannya, dan lengan yang lain siap dengan garpunya.
Abang siap mendekapku, menutup telingaku, berupaya menutupi pandanganku. Namun, di sela-sela dekapannya aku masih bisa melihat Ibu, melihat Ayah, melihat dengan jelas terjadinya kiamat.
Wajah Ibu memerah. Aku tak lagi berkedip. Air mataku sudah kering. Darah mengalir ke mataku, membuat pandanganku kabur memerah. Perih yang kurasa berubah pedih sampai ke ulu hati.
Menggunakan tenaga yang tersisa, Ibu menyingkirkan tangan Ayah yang menekan. Ibu berdiri sejajar dengan Ayah. Aku merasa kerdil di dekapan Abang.
Telapak tangan Ayah detik demi detik terus melayang. Ibu yang tak punya tenaga tumbang, melebur dengan lantai. Ayah mendekati Ibu sambil berteriak, membuat pekak. Aku yang tak kuasa kemudian terlelap.
Kukira hanya duniaku yang hancur dan akan lebih hancur lagi ke depannya.
Saat malam hari yang sama, aku melihat Abang berjalan sendiri di dalam gelap, dalam kekosongan, dengan seutas tali dan kursi dari meja makan. Ia berdiri di atasnya, menyiapkan simpul yang menggelantung bersama air matanya.
Aku tersadar. Semalam tadi aku ditutupi Abang dan hanya melihat kiamat, namun tak ada yang menutupi Abang. Tak ada yang peduli terhadap dia. Abang merasakan kiamat sendirian.
Terlanjur hancur, aku mengambil cairan pembersih kamar mandi di kamarku dan langsung lompat keluar pintu.
“Ayo loncat, biar kutenggak botol ini!”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!