

Kupikir perlahan, aku mulai mengerti apa yang dimaksud ibu dan orang dulu tentang tak boleh langsung terpejam setelah makan. Mungkin yang mereka maksud adalah, masih banyak hal-hal yang perlu kamu lakukan yang tertunda karena makan, entah membersihkan sisa makan, melanjutkan urusan di ladang, sembahyang, membersihkan kandang, dan ang-ang lainnya karena dunia tak berhenti setelah kenyang.
Tiitttt! Tiitttt! Tiiittt!
Mesin yang kehabisan token membangunkan tidurku. Suaranya galak sekali. Pandanganku langsung bertemu plafon yang menekan, bercorak alami membentuk pulau-pulau yang belum terjamah campuran antara hijau rumput dan bau lapuk.
Kipas angin yang hanya ada satu mati tak memiliki energi, aliran sungai mulai keluar dari pori-pori, udara yang di situ-situ saja membuat pengap alami. Udara susah masuk karena aku berada di sisi kota. Kamar satu petak dengan jendela yang tak pernah menyambut cahaya, angin pun enggan bertamu kedalam, ia berhenti saja di depan gang.
Kondisi yang selalu membuatku tak ingin bangun setiap harinya menjadi alasan aku untuk selalu terbangun. Kamar tak seberapa luas, tidur besebelahan dengan motor, kamar mandi sebesar penjara tikus.
“Bang … Panas banget.”
“Aduh maafin Abang ya De, Abang lupa ngisi token listrik”
Bergegas bangun, aku langsung ke luar kamar sialan itu. Ternyata hari sudah pagi tapi tak ada mentari yang masuk di gang yang sempit ini.
Betul, aku tinggal bersama adik perempuanku, hanya berdua setelah ditinggalkan orang tua yang kuanggap telah mati. Ayah pergi setelah membayar utang judi dengan nyawa sendiri, tak lama Ibu ikut pergi dengan selingkuhannya lagi. Meninggalkanku bersama Kirana.
Anda sedang offline
“Argh! Padahal semalem sisa 50MB!”
Aku yang kebingungan lantas mencari makhluk di dalam gang ini yang masih terjaga, karena kebanyakan dari mereka bekerja sampai malam. Tukang sapu jalan, manusia silver, pijat keliling, joki motor dengan sirkuit yang berlubang, dan pegiat sosial media yang rela memandikan ibunya demi saweran dari orang-orang dengan kelainan jiwa.
Di ujung gang, ada semacam pos ronda yang bentuknya tak karuan, di sisi kanan tiangnya berbahan baja ringan, di sisi lainnya menggunakan batang bambu dengan atap asbes yang sudah berlubang dan lapisan daun pisang serta terpal compang-camping, agar siang bisa menahan panas, katanya.
Biasanya dari malam sampai jam 12 diisi oleh anak-anak menuju remaja dari tetangga sebelah. Mereka yang berkumpul hanya untuk menunduk walaupun sesekali berdiri untuk menepak jidat saat kalah. Memperhatikan ponselnya masing-masing, membicarakan pahlawan-pahlawan yang ada di dalam permainan kesayangan mereka, berteriak dan berbicara kotor sudah seperti mereka bernapas.
Aku jadi ingat kejadian beberapa malam sebelumnya.
Di jam dua belas malam lewat setengah, empat orang ibu-ibu keluar dari rumahnya menuju pos ronda. Ada yang membawa sapu lidi, selang mandi, ranting yang katanya turun temurun dari pohon jati, terakhir sikat gigi.
“Woi! Gak tau waktu ye lu kalo maen! Balik gak lu sekarang?!”
“Bentar aelah Mak, lagi sibuk ini, bentaran juga balik.“
Rohim yang tadinya menunduk mulai menaikkan pandangannya. Ia tersentak lantaran kaget melihat ibunya menenteng-nenteng selang bercorak ular.
“Ebuset dah Mak, ngapa ‘gala bawa-bawa uler, sih?”
“Uler mata lo kotok! Balik gak sekarang, daripada gua sabetin ini semua pake selang. Babeh elu noh yang rewel, bukan gua!”
Rahmat loncat dari pos ronda, terbirit ke rumahnya. Teman-teman Rohim yang juga tau kalau ibu-ibu mereka juga mulai berdatangan dengan persenjataannya masing-masing mulai pergi.
Namun siang ini, pos ronda diisi Pak Rudi saja. Kantung matanya hitam legam seperti jam kerjanya. Ya, kerja berjualan nasi goreng.
Berdiam diri dan duduk di sisi kiri, terlihat seperti menatap langit dengan ratapan yang kosong dan ponsel yang terbuka dan tergeletak di sisinya, aku yang sudah kepalang di jalan mencoba mendekatinya, berbasa-basi untuk menumpang internet.
“Boleh Mas, sebentar ya, saya nyalain hotpotnya”
“Makasih banyak Pak Rudi, saya tertolong. Kasian Kirana di dalam kepanasan”
Sambil mengutak atik ponsel demi bisa memilih harga token yang murah dan tahan lama, Pak Rudi mulai bercerita
“Kirana kabarnya gimana, Mas?”
“Allhamdulillah, Kirana sehat Pak De. Dia lagi libur sekolah dua minggu tuh,”
“Libur ya, pantes saya sering liat dia di rumah mulu. Habisnya pintumu gak pernah ditutup”
“Hehe, iya Pak De. Biar anginnya bisa keluar”
Jarang sebenarnya Pak De Rudi ada di pos ronda siang hari seperti ink, dengan matahari yang menyengat, begadang semalaman dan juga belum mau tidur sampai sekarang, kemungkinan pikirannya sedang jalan-jalan.
“Ya ndak papa ya Mas, ada yang ngurus rumah“
“Kami sama-sama saling asih saja, Pak De,”
” Syukur … Pak De malah lagi pusing, mangkannya ini gak bisa tidur dari pulang dagang,”
Rokok yang tadinya mati tapi sisa setengah kembali dibakar, Handphone nya masih tergeletak, tangan yang mulai keriput dan rambut yang memutih seakan meminta jalan keluar untuk istirahat.
“Kenapa memangnya Pak De?”
“Begini Mas, istri saya di kampung minta uang buat bayar sekolah anak.”
“Waduh repot ya pasti Pak De. Dagangan lagi sepi, ya?”
“Allhamdulillah kalo masalah dagangan tuh ada aja yang beli Mas, besok lusa juga kekumpul harusnya.”
Aku mengucap dalam hati. Kenapa harusnya? Kupikir Tuhan pasti memberi secukupnya sesuai kebutuhan, kan?
“Oh iya Pak De. Tadi kan Pak De bilang istrinya lagi di kampung, terus itu perempuan yang suka di kontrakan Pak De, yang suka nyuci, masak sampai kadang yang suka ngasih nasi ke saya dan Kirana itu siapa, Pak De?”
“Itu Lena, istri saya yang kedua.”
“Lah, pantas boncos.” ucapku pelan
“Kenapa Mas Ben? ”
“Enggak, Pak. Gakpapa.”
Terima kasih atas pembayaran anda. Notifikasi masuk. Nomer token sudah ada. Tinggal pulang, tapi kasihan juga Pak De. Aku enggan menyelesaikan obrolan dengan Pak De Rudi ini. Makin kuperhatikan ternyata selama ini badannya mulai melengking, pandangannya kosong, bengong.
“Sekarang lagi nunggu apa Pak De? Mending pulang saja, istirahat.”
Dia tak menjawab pertanyaanku, tetap melihat kearah lain. Tiba – tiba suara sirine nuklir terdengar, wajahnya sumringah seperti melihat wahyu yang dibawa takdir, sontak berdiri sambil menunjuk-nunjuk.
“Nah iki Mas, iki yang saya tunggu-tunggu. Scaterrrr!”
Rupanya, pandangan yang kosong, hanya fokus pada satu titik, hanya sesekali melihat wajahku di semua percakapan tadi karena sedang bermain judi online di handphone lain yang sedang dicas.
“Pantesan kipasnya gak nyala Pak De, colokannya dipakai buat ngecas di atas. Saya pulang dulu ya Pak De. Kasian Kirana udah kegerahan dari tadi.”
Tanpa melihat barang sejenak saat aku pergi, dan senyumnya yang merekah selayaknya bunga yang siap menyambut dunia.
“Lho Mas, sini temenin saya dulu, nonton-nonton dulu. Menang iki saya Mas.”
“Gak ah Pak De. Saya udah kenyang lihat gituan. Teman-teman kerja saya juga pada main itu. Saya pulang aja Pak De, lapar juga ini.”
“Oh yo wis lah Mas, semalam Lena ngasih nasi ke Kirana, ada lebihan bekas dagang.”
“Suwun Pak De, mari”
“Iya Mas Ben.”
Baru beberapa langkah setelah meninggalkan Pak De Rudi, suaranya pecah, menggema satu gang, serasa tahun baru sendirian, kebun binatang saat musim kawin kalah ramai dengan pakde Rudi ini.
“NAH, NAH, NAH! COME ON, YESSSS!!!”
“Ternyata Pak De Rudi bisa bahasa Inggris juga. Entah iblis atau malaikat yang memberikan rezeki, ah terserah Pak De saja deh” gumamku.
Teriakan Pak De Rudi masih bertamu ke telingaku meski aku sudah sampai ke depan kontrakan. Menggelegar sekali. Meskipun tadi ada terdengar hembusan napas kekecewaan, aku tak ingin terlalu banyak menaruh simpati.
“Allhamdulillah nyala. Satu minggu dua puluh ribu untuk kipas, lampu, dan ngecas rupanya aman”
Angin dan cahaya mulai terasa dalam ruangan ini. Meski pelan, setelah jendela dan pintu utama kubuka, udara dari sisa semalam dikeluarkan. Jaring laba-laba mulai bergoyang di sudut ruangan, pori-pori ku menutup perlahan dan Kirana kembali tersenyum, ia jongkok di dekat kamar mandi menatap hangat.
“Abang. Aku masakin sarapan mau? Semalam sebelum Abang pulang, Bu De Lena ngasih sisa nasi dagangannya”
“Mau masakin abang apa ?”
“Nasi goreng kampung campuran telur oncom a la chef Kirana”
“Emang bisa?”
“Bisa lah, Abang ngeremehin aku”
“Belajar dari mana kamu?”
“Dari yutup, “
Dagunya meninggi, pipinya sedikit kemerahan, entah karna malu atau tadi terlalu lama kepanasan. Matanya juga menyempit menahan tawa, aroma senangnya semerbak di dalam ruangan kecil ini.
Ya Tuhan, sombong sekali anak ini.
“Silahkan Chef. Jangan buat Abang kecewa!”
“Siap, Bos!”
Aku melangkah mendekatinya. Mula-mula ia beri minyak kedalam wajan, bermodalkan api dari kompor portable yang malas–malasan. Saat gemercik minyak mulai hadir di dalam ruangan, dipecahkan lah telur terlebih dahulu.
“Hati-hati minyak yang meletupnya”
“Gak bakalan Bang, sebelum telur, aku sudah taburi garam di wajan. Kata Mpok Ijah begitu.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Katanya sih ada proses kimia dari garamnya apa lah gitu. Kayak kurang pantes Mpok Ijah ngomong soal kimia.”
“Hus, gak boleh gitu. Siapa tau Mpok Ijah memang Belajar.”
“Iya sih, dia bilang belajar dari yutup“
Kirana mulai memasak. Setelah telur mulai mengembang setengah matang, dia masukan irisan daun bawang, bawang merah, dan bawang putih. Setelah beberapa saat warnanya mulai kecoklatan menyatu dengan telur, aroma mendiang Nenek merambat sopan, menempel di dinding terbawa angin, bertamu ked alam diriku dan menetap kembali didalamnya. Aroma kerinduan.
“Dek, kan harusnya telur itu belakangan sebelum bumbu, kan?”
“Suttt, jangan ganggu!”
Moncongku langsung tertutup.
Bagaimana ia bisa membuat sesuatu yang harumnya seperti masakan Nenek?
Apakah Ibu, selain meninggalkan ingatan trauma, juga meninggalkan memori tentang aroma masakan Nenek?
Namun, Kirana hanya merasakan kehadiran Ibu sampai usia sepuluh tahun.
Dimasukkannya nasi ke dalam wajan. Pertemuan antara nasi yang masih berair dan minyak panas di sisi wajan membuat suara seperti kembang api yang meledak di langit tinggi, tak kalah memukau dibanding aku yang melihat Kirana memasak.
“Hati-hati, De. Minyaknya itu.”
“Ishhhh, bawel ah.”
Aku kembali membisu. Ternyata Kirana galak, atau tegas, aku tak tahu.
Yang pasti, sudah lama aku tak mengobrol seperti ini dengannya. Tingginya yang dulu hanya sebotol Yakult—aku suka meledeknya begitu—kini sudah bertambah. Rambutnya hitam legam, panjang sedikit di bawah pundak. Tingginya hampir sepantar denganku. Posturnya tegap dan tegas. Setidaknya menurutku, ia contoh anak yang sudah berteman dengan kerasnya dunia.
Lalu ia berdiri, menghadap, dan menatap tajam ke arahku. Aku yang terheran-heran dengan maksud tindakannya sontak menaikkan kedua pundakku. Dia, dengan angkuh dan wajah yang ditekuk, menaikkan dagunya. Aku makin tak mengerti maksudnya, lalu ikut menaikkan dagu sambil menekuk wajahku juga.
“Piringnya mana?”
“Ooooh, belum dicuci. Itu ada di kamar mandi. Hehehe.”
Terdengar hembusan napas muaknya. Wajahnya makin ditekuk sembari memajukan bibirnya dan mengeluarkan suara yang persis sepertiku. Suara keran air membekas di telingaku, menghalau suara angin yang keluar dari mesin kipas seadanya itu.
“Nih, Bang. Sudah jadi. Nasi goreng kampung.”
“Wih, makasih, Adek tersayang.”
Piring kaca berwarna biru yang kudapat dari membeli sabun cuci sangat cocok berjodoh dengan nasi goreng kampung yang seadanya.
Asin yang bertemu gurihnya daun bawang serta bawang yang harum terasa seimbang dengan nasi yang setengah basah karena minyak. Orak-arik telur yang seperti oncom menempel rapi di setiap sela-sela nasi. Enak dan sederhana.
“Sudah habis. Enak banget, De. Abang curiga kamu sebenarnya yang ngajarin Chef Renatta.”
“Wooo, iya dong. Siapa dulu yang masak? Kalau soal Chef Renatta, jangan bilang-bilang tetangga ya. Nanti mereka minta diajarin juga.”
“Sini, Abang cuciin piringnya.”
“Gak, udah gak usah. Sama Ade aja. Sama Abang mah bisa-bisa tahun depan.”
Ia cemberut saat mengambil piring lalu langsung membalikkan badan. Namun, di sela-sela itu aku kembali melihat senyumnya, gerakan kepala kecilnya, serta irama langkah kakinya yang seperti sedang berada di taman bermain.
“Abang merokok dulu di depan ya.”
“Ngerokok terus ih. Bau ke dalam, Bang.”
Aku duduk di depan, merebahkan punggung pada tembok samping pintu. Sesekali tanganku mengipas asap yang hendak masuk ke dalam kontrakan. Kirana ikut merebahkan punggungnya pula, namun di balik tembok, di dalam kontrakan. Kami seperti berada dalam video klip The Virgin. Aku yang sibuk menghirup racun dan menatap pintu orang lain, sedangkan Kirana sedang menggunting kuku.
Krek. Krek
Suara nyaring dari kuku yang terpisah dari ibu jarinya, lalu dilanjutkan suara hembusan dariku. Dalam keheningan dan diam, kurasa ini pelengkap yang pas setelah makan bersama. Kami masuk ke dalam pikiran masing-masing.
Suara kuku yang terpotong terhenti, dilanjutkan dengan sunyi yang perlahan meniti. Suasana semakin ambigu, seperti akan ada sesuatu yang datang. Segera aku membakar batang rokok keduaku. Benar saja.
“Bang?”
“Iya, Dek?”
“Makasih ya, Abang udah mau ngurus Ade.”
Dengan suaranya yang lirih, hatiku terkejut serasa ingin keluar dari dalam tubuh, atau tiba-tiba meledak. Kekhawatiran akan terjadi sesuatu membuat pikiranku buram. Namun, aku tak kuasa melihat wajahnya, tak kuasa pula menunjukkan ekspresi yang kubuat di hadapannya.
“Gak apa-apa, De. Ini udah tanggung jawab Abang.”
“Justru itu, karena tanggung jawab Abang, sebenarnya aku gak mau jadi beban.”
“Gak ada yang bilang kamu itu beban.”
Aku berusaha tegar walau tenggorokan sudah bergetar menahan tangis dari tragisnya pengorbanan. Penglihatanku yang awalnya hanya tertuju pada pintu orang lain kini berganti memperlihatkan adegan-adegan kilas balik yang cepat, yang telah berlalu bertahun-tahun lalu hingga detik ini. Sebuah pengorbanan yang tidak sebentar.
Dua puluh enam tahun aku membuang semua impian, harapan, dan khayalan. Bahkan sampai pernikahan yang sangat kuinginkan.
Sebuah kilas balik ketika sengatan matahari kalah panas oleh suhu tubuh Kirana saat berusia sepuluh tahun.
Sepulang dari pekerjaan yang tak berkemanusiaan itu, aku melihat Kirana gemetar hebat. Kulitnya pucat pasi. Genggaman tangannya mengeluarkan bau ketakutan. Ketakutan akan ditinggalkan sendiri. Aku yang bolak-balik ke kamar mandi untuk mengganti air kompres dibuat berhenti setelah melihat aliran sungai yang berasal dari matanya.
“Abang?”
“Iya, Adek?”
“Ayah sama Ibu berantem lagi?”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!