

Tak ada yang lebih pilu
dari langkah penuh harap
menuju stasiun
hanya untuk tahu
kereta telah lama melaju.
Tak ada yang lebih kecut
dari napas megap-megap,
hampir putus asa
saat harus menunggu
kereta berikutnya.
Bukan aku tak ingin
mengejar waktu.
Bukan aku tak ingin
menggenggam momentum.
Namun apa dayaku
yang tak cukup kuat
berlari lebih cepat.
Datang setelah segalanya pergi.
Selalu terlambat.
Bogor, 10 Maret 2026
Pundak memanggul beban yang sama.
Melangkah tegap dari pijak ke pijak.
Ransel memuat tumpukan kertas lama.
Lembar-lembar mimpi, semua ditolak!
Langit di atas terbentang begitu luas.
Tiada satu pun datang darinya jawaban.
Bukan maksudku ingin segala doa terbalas.
Bolehkah kupinta cukup satu kepastian?
Kini pundak kian lelah memikul cita.
Tanpa henti mencari letak ujung jalan.
Sampailah di ujung, kutemui satu fakta.
Sebuah kegagalan—
awal dari seribu kegagalan.
Bogor, 12 Maret 2026
Tak semestinya aku cemberut
saat terik siang memukul wajah,
walau yang kunanti hujan deras.
Tak seharusnya aku merajuk
ketika alarm nyaring memekik,
meski ingin terlelap lebih lama.
Tak wajar kupermasalahkan nasibku
yang diam di tempat sejak dulu,
sementara aku masih bergulung
dalam hangatnya selimut.
Tak pantas kutanya mengapa
kepada jalan curam, gelap, dan berliku,
sebagaimana tak pernah kutanya mengapa
pada jalan lurus—
tanpa debu,
tanpa batu.
Bogor, 15 Maret 2026
Penulis amatir yang menyukai puisi sejak kanak-kanak. Tak hanya puisi, buah pikiran dituangkannya dalam bentuk fotografi, hand lettering, journaling dan scrapbooking. Inspirasi dalam menulis puisi mengalir saat memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari. Langit dan laut yang sangat luas bagai menyimpan rahasia sehingga terkadang menjadi elemen dalam membuka puisi. Puisi yang ditulis belum banyak namun akan terus bertambah. Instagram: @archiveoftheundone