Tepian Mahakam

Tepian Mahakam

 

Endusan terpa angin sejuk dari hulu,

elok berseri Mahakam tersinari sore hari.

Senyapnya ozonic terbang sunyi,

mata memotret, dari ulun si busu.

 

Lihatlah Mahakam kini,

sungguh raya dan sepi,

tiada lagi sorak-sorai di sana-sini,

hanya ponton yang berlalu lari…

 

Tak ayal si pesut jarang menampak,

dan mengapa tidak?

Kini ia mengeruh bagai susu,

siap meluap naik jika bulan tidak malu-malu.

 

 

 

Hujan Kurindu

 

Kuucapkan halo kepada hujan

yang telah lama tak kunjung hadir,

sekarang landasanmu mengering,

bahkan rerumputan kian menguning.

 

Entah berapa hari kau berlalu,

kerap tak ku risau, walau ku tak jemu.

 

Ada masa di mana kau berguguran deras.

Ada kala kau hanya meneteskan bulir liris.

 

Semoga esok kau menjadi alarm pagiku,

yang dingin sejuk menyelimutiku,

dan hangat keluarga mengerubungi rumah keluargaku.

 

 

 

Mi-Sa-Mo

 

Misal saja kau tak menjadi sekarang,

mungkin saja kau akan retak

dan melebur menjadi debu.

 

Sayangnya itu hanya ilusi,

ketika diriku bertatapan dengan cermin

yang memutar kehidupan lampauku.

 

Moga segala cermin tak sama macam itu,

yang tiba saja dirasuki roh pembawa sial,

yang akan mencoba menghantui kekesalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!