Telanjang, Rumah Lama, dan Puisi Lainnya

Menemukan Diri

 

Seseorang bertanya,

“Bagaimana caramu menemukan dirimu?”

Aku pungut semua dukaku yang berserakan,

Menganyamnya hingga utuh

 

Lantas menjelma diriku

 

“Haruskah aku mengalami duka

Untuk menemukan diriku?”

Barangkali tidak,

Atau mungkin,

 

Iya

 

 

 

Telanjang

 

Butuh berapa ayat lagi

Untuk menutupi dosaku, Tuan?

 

Di tubuhku

Di sela-sela yang samar

Juga pada kata-kata yang gamang

Kutambal dengan ayat-Mu.

 

Semakin tebal,

Semakin samar.

 

Aku suci di hadapan manusia,

Berpakaian taat

Dan berhiaskan ibadah

 

Di hadapan-Mu,

Aku telanjang,

Serupa bayi

Yang tak kunjung dewasa

 

Hanya saja

Kulitku telah kumuh,

Terbakar terik dosa,

Bersama janji

Yang tak kunjung aku tepati.

 

 

 

Rumah Lama

 

Di rumah lama

Lantainya tebal oleh debu

Yang mengaburkan ingatan

 

Aku temukan panci tua-

 

Tercium aroma rebusan kasih emak

Dan sarapan kami

 

Menu sederhana:

Terbuat dari keringat bapak

Dan tangisan emak

 

Dan rasanya yang aneh

Tak kunjung pudar di kepalaku

 

Introvert, suka kopi, buku, dan tahu bulat. Menulis dan menemukan diri di sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!