

Seseorang bertanya,
“Bagaimana caramu menemukan dirimu?”
Aku pungut semua dukaku yang berserakan,
Menganyamnya hingga utuh
Lantas menjelma diriku
“Haruskah aku mengalami duka
Untuk menemukan diriku?”
Barangkali tidak,
Atau mungkin,
Iya
Butuh berapa ayat lagi
Untuk menutupi dosaku, Tuan?
Di tubuhku
Di sela-sela yang samar
Juga pada kata-kata yang gamang
Kutambal dengan ayat-Mu.
Semakin tebal,
Semakin samar.
Aku suci di hadapan manusia,
Berpakaian taat
Dan berhiaskan ibadah
Di hadapan-Mu,
Aku telanjang,
Serupa bayi
Yang tak kunjung dewasa
Hanya saja
Kulitku telah kumuh,
Terbakar terik dosa,
Bersama janji
Yang tak kunjung aku tepati.
Di rumah lama
Lantainya tebal oleh debu
Yang mengaburkan ingatan
Aku temukan panci tua-
Tercium aroma rebusan kasih emak
Dan sarapan kami
Menu sederhana:
Terbuat dari keringat bapak
Dan tangisan emak
Dan rasanya yang aneh
Tak kunjung pudar di kepalaku
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!