

Setelah berpisah dari kedua orang tuanya, Min pun melakukan pernikahan dengan kekasihnya. Mereka memutuskan untuk kawin lari, dan karena sudah terlanjur sangat cinta, tiada lagi yang dapat menghalangi keingan mereka berdua untuk bersatu. Bahkan orang tuanya sendiri.
Min bekerja setiap hari dengan semangat daripada sebelum-sebelumnya. Setelah memutuskan untuk menyewa kontrakan, Min memutuskan untuk mandiri supaya dia dan istrinya bisa menyambung hidup.
Setiap pulang kerja dia selalu teringat akan kedua orang tuanya. Tapi ditolaknya keinginan untuk kembali ke rumah, karena baginya dia adalah manusia yang harus menjalani hidup mandiri dan teguh pendirian, seperti anak ayam yang sudah dewasa. Harus bisa menafkahi keluarganya sendiri, begitulah pikirnya.
“Sudah pulang, mas?”
“Iya. Lelah aku seharian bekerja. Bikinkan kopi, ya!”
“Baik, aku bikin dulu.”
Sangat begitu sayang istrinya padanya. Karena perempuan yang kini jadi istrinya itu hanya hanyalah jatuh hati pada Min seorang. Min duduk menyandarkan punggungnya di kursi. Dia menatap jam kosong. Jam itu mati. Kadang itu membuatnya bergidik, seakan jalan juga akan mati seperti itu.
“Ini kopinya, Mas.”
“Terima kasih ya.”
“Bagaimana tadi kerjamu?”
“Aman saja.”
“Kamu mau makan?”
“Sudah masak?”
“Sudah. Nasi sama telur, dan sambel kesukaanmu.”
“Kamu pun sudah makan?”
“Belum. Aku mau makan kalau kamu juga makan.”
“Bahagia aku memiliki istri kamu.”
Min dan istrinya pun makan berdua di dapur. Mereka duduk berdua di atas tikar. Karena memang mereka belum bisa beli perabotan. Hanya ada satu kursi di ruang tamu, satu kasur, dan satu tikar. Peralatan dapur hanya panci dan kompor kecil saja.
Bagaimana pun kesulitan hidup yang dijalani Min itu sudah pilihannya. Dia tahu bahwa hidup tidak semudah yang dibayangkan. Ada kemelaratan dan ujian dalam hidup, dan itu semua harus dilalui.
Min menyuapi istrinya dengan tangannya. Bergantian mereka saling suap-menyuap makanan. Setelah habis makan, mereka berdua beranjak ke ruang kamar. Min dan istrinya duduk di pembaringan.
Malam itu Min ingin bercerita panjang lebar pada istrinya. Istrinya manisnya bukan main di mata Min. Wanita yang tiada duanya di hati.
“Kamu itu manis, ya, Dik.”
“Selalu, deh, bilang begitu tiap hari.”
“Tapi apa yang kukatakan, kan, memang benar.”
“Kamu doang yang berkata aku manis.”
“Yang selain aku ada yang berkata begitu?”
“Hanya kamu saja.”
Lalu mereka berpelukan dan melepas lelah di ranjang. Setelah beberapa menit terpejam juga mata Min. Min sangat lelah hari itu. Tubuhnya begitu tidak biasa. Rasanya seperti lemas semua badannya.
Adzan magrib berkumandang. Min dibangunkan istrinya yang sudah pakai mukena dan tepat di hadapan wajah Min. Min lalu tersentak kaget dan bertanya pada istrinya jam berapa. Istrinya hanya menjawab bahwa waktu sudah maghrib.
Min beranjak mengambil air hangat yang sudah dimasakkan istrinya. Dia mandi sebentar dengan air hangat dan menyuruh istrinya menunggunya sebentar untuk shalat bersama. Memang dia ini lelaki sedikit disiplin.
Setelah mandi barulah Min berangkat solat bersama istrinya. Sesudah mengucap salam, terdengar suara ketukan pintu. Dibukanya pintu, ternyata pak RT.
“Ada keperluan apa ya pak RT malam-malam ke sini?”
“Ada hal penting.”
“Hal penting apa, Pak?”
“Tadi adik iparmu datang menemui aku. Dia menyampaikan pesan.”
“Pesan apa, Pak?”
“Katanya mertuamu sakit.”
“Astagfirullah.”
Istri Min mengelus dadanya. Dipanggilnya suaminya dengan nada sedikit gemetaran. Istrinya memanggilnya sampai tiga kali.
“Ada apa, Dik?”
“Mas, orang tuamu sakit.”
“Kata siapa?”
“Pak RT, tadi ia dapat kabar dari adikmu.”
Min terbelalak kaget dan tersandar di pintu. Dia tanyakan kepastian itu pada pak RT. Pak RT hanya bisa menjawab apa yang disampaikan oleh adik Min.
“Siapa yang sakit, Pak? Ayah saya atau ibu saya?”
“Ayahmu.”
“Mungkin jantungnya kumat.”
Dengan segera Min mengeluarkan motor dan mengajak istrinya pergi ke rumah orang tua Min.
Sampai di rumah orang tuanya, Min melihat adiknya kandung duduk di ambang pintu. Adiknya berdiri menyambutnya. Memeluk tubuh Min dan menujukkan kalau ayahnya sakit.
“Min, ke sini!”
“Iya, Pak.”
“Maafkan ayah yang egois dan kejam padamu. Mana istrimu?”
“Di luar, Pak.”
“Suruh dia ke sini!”
Min memanggil istrinya. Istrinya datang dengan tangisan di hadapan ayah mertuanya yang sakit. Istrinya merasa sedih melihat mertuanya sakit.
“Maafkan aku ya, Nak.”
“Ayah tidak punya salah pada saya.”
“Ayah telah berdosa melarang hubungan kamu dengan Min.”
“Saya sudah ikhlaskan itu, Pak.”
“Aku sadar bahwa aku ini salah. Maafkan aku ya, Nak. Semoga rumah tangga kalian aman sejahtera.”
Ayah mertuanya menangis. Istri Min hanya bisa menundukkan muka. Suasana jadi hening dan senyap. Ibu mertuanya pun menghampirinya dan mengelus pundaknya. Duduk di belakangnya dekat dengannya.
“Maafkan Ibu, ya, Nak.”
“Saya ikhlaskan, Bu. Saya maafkan.”
“Kamu perempuan yang baik. Aku sadar selama ini aku keliru.”
“Sudahlah. Tidak usah dipikirkan, Bu.”
Akhirnya setelah sekian lama berjuang agar pernikahan mereka diakui, keteguhan hatinya selama ini terbalaskan. Min mendapat restu orang tuanya. Dulu Min sempat disumpahi mati oleh orang tua kandungnya sendiri karena memilih hidup dengan orang yang dicintainya. Tetapi Min tidak takut, dia yakin pilihannya sudah benar.
Dia telah buktikan memegang teguh pilihan hidupnya. Berani keluar dari sarang dan hidup mandiri seperti anak burung yang terbang di angkasa. Memilih sendiri makanan dan pasangannya. Serta membangun sarangnya sendiri yang ia suka, di mana pun.
Pati, 17 Agustus 2025