Tebang, Aspasia van Agam, dan Puisi Lainnya

Tebang

 

Kau tebang dahan pepohonan rimbun

Bunga-bunga kembang gugur

Menghimpit doa-doa tanah

 

Jika akulah aib, yang kau lahirkan

Dari setiap silang sengketa penggalan

Yang ditajami oleh waktu

Tapi majal oleh harapan

 

Jika akulah aib, yang menyampah halaman

Kuburkanlah dengan damai

Sebab aku, tak pernah tahu

Pucuk kian meninggi

Angin terus berkecamuk

Akarku tak dalam

 

Sedang kau bermimpi terus

Menanti keajaiban.

 

 

 

Kereta

 

Kereta lama tertidur di stasiun

klaksonnya tak lagi sanggup

bangunkan Fort de Kock

dari penantian para turis

yang tiap sebentar, datang dan pergi

 

kereta berucap pada keramaian:

“tidakkah kau tahu tempat untuk pulang?”

selembar karcis hanya jalan buntu

di antara gedung-gedung pertikaian

 

kereta terus menunggu di stasiun

dingin kota terus berangin

meniup cita-cita kepada apa?

peluk tak sampai-sampai

Fort de Kock kian sepi

dalam pengandaiannya sendiri.

 

 

 

Warna-warni

 

Kita melangkah saat jalanan hanya ruang

Beruk-beruk lalu lalang

Melangkah saat Jam Gadang hanya dentang

Detik yang sendirian

Menatap bangun-bangunan

Warna-warni

Tinggi-tinggi

 

Sementara yang kosong, jadi sunyi

Warna-warna sejarah dibunuh waktu

Warni-warni budaya diambruk nafsu

Sengaja buat baru

Biar warna-warni menjadi diri

Menjadi warna yang terpisah dari warni.

 

 

 

Aspasia van Agam

 

Beethoven sudah tidur dengan sonata

Yang mengiring malam pada cahaya

Badai rindu Fort de Kock tak terkira

 

Aspasia berjalan bergandeng purnama

Hendak ke mana?

Naar Agam, jawabnya.

 

Kira kereta sudah lama rebah

Stasiun menimbun sisa kata

Purnama jadi merana.

Oh, begitu gelapnya!

Purnama ikut pada sonata

Menyelimuti Aspasia.

 

 

 

Kucing

 

Seekor kucing meringkih

Perlahan berjalan menuju rak buku

Halaman yang mana yang mampu ia buka?

Raganya ingin suatu tempat lain

Pulang.

 

Kucing kecil berbaring di ujung tikar pustaka

Menghitung jumlah buku-buku

Atau hanya rekam gambar-gambar

Yang sering ia pandang.

Namun tubuhnya tak dapat lagi

Beranjak.

 

Lantas tiba malaikat

Dengan lembut mengangkat

Seekor teman kecil

Menghadap Sang Kiblat,

Dan kita menekurkan kepala.

 

Lahir dan tumbuh di Sumatra Barat. Instagram @sekarapidali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!