

Tepat sebelum malam takbiran lidah Pak Mitro dipotong di muka umum. Besok di hari lebaran Pak Mitro tak lagi dapat mengucapkan maaf, semua akibat ulahnya sendiri.
***
Pak Mitro adalah salah satu orang kaya di kampung kami, ia memiliki berhektar-hektar kebun durian, beberapa ekor sapi, dan kambing. Ia menikahi salah satu perempuan tercantik di kampung, anak-anaknya melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi bergenggsi di luar kota. Tapi dari semua hal baik itu, Pak Mitro menjadi orang yang paling tidak disukai oleh penduduk kampungku.
Merasa dirinya kaya dan sukses, dengan istri cantik dan anak-anak berpendidikannya itu menjadikan Pak Mitro merasa dirinya boleh untuk sombong. Setiap kali berpapasan dengan tetangga ia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain dan yang paling sering ia singgung adalah Pak Diwang.
Pak Diwang juga salah satu orang kaya di kampung kami, ia memiliki beberapa sapi dan juga kebun yang tak kalah luas dengan milik Pak Mitro. Kebun mereka berdua bersebelasan, hal ini menjadikan mereka rival.
Sebenarnya mungkin hanya Pak Mitro saja yang merasa Pak Diwang adalah saingannya, sedangkan Pak Diwang cukup santai menanggapi hal itu. Berbanding terbalik dengan Pak Mitro, Pak Diwang merupakan seorang yang kalem tak banyak bicara dan pendiam, tak ada satu orang pun yang melihat Pak Diwang berusaha menyaingi Pak Mitro dalam kekayaan atau apapun kecuali Pak Mitro seorang.
***
Di kampung, kami saling bertukar takjil atau panganan untuk berbuka puasa telah menjadi tradisi yang dijaga selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Sore itu Bu Diwang membuat tape durian sebagai takjil untuk dibagikan ke para tetangga.
Bu Diwang mengantarkan tape durian itu menjelang magrib, Pak Mitro dan Bu Mitro yang sedang duduk santai di teras berdiri melihat kedatangan Bu Diwang.
“Selamat sore,” sapa Bu Diwang sambal menyodorkan tape durian yang dibungkus oleh daun pisang
“Wah baunya menggugah selera sekali,” sahut Bu Mitro ramah.
Di sampingnya Pak Mitro menunjukan mimik yang tak enak, Bu Diwang sore itu sudah siap dengan kesombongan Pak Mitro, ia siap mendengar bagaimana Pak Mitro merendahkan suaminya, toh semua itu biasa Pak Mitro lakukan, meski Bu Diwang dan suaminya tak pernah ambil pusing soal itu.
“Sudah kuduga. Heh, Sundal! Aku tak pernah minta kalian memasak durianku, jangan kau seenaknya mengambil durian milikku dasar kalian pencuri!” bentak Pak Mitro.
Kalau hanya sindiran, Bu Diwang bisa mengerti, tapi yang ini berbeda, ia tidak menyangka dapatkan kata-kata kasar dan fitnah seperti itu. Tubuhnya terpaku sampai menitikan air mata. Bu Mitro pun sama terkejutnya. Ia bingung dan menyenggol bahu Pak Mitro sambal berkali-kali meminta maaf kepada Bu Diwang, tapi Bu Diwang tak tahu harus apa dengan permintaan maaf itu.
“Durian Pak Mitro memang sering jatuh ke kebun kami, tapi tak pernah sekali pun aku atau suamiku mengambilnya. Kami selalu melemparkan durian-durian itu ke kebun Bapak, justru pohon-pohon durian bapaklah yang selama ini mencuri nutrisi dari tanah kami, akar pohon durian bapak telah masuk jauh ke kebun kami.” suara Bu Diwang bergetar
Bu Mitro mencoba menengahi dan masih terus meminta maaf, tetapi suaminya malah menghina Bu Diwang lebih parah lagi,
“Jika bukan dari kebunku dari mana lagi kalian dapatkan durian-durian ini! Mana ada pencuri yang mengaku?!”
Bu Mitro menatap tajam ke arah suaminya, ia melotot. Sementra Bu Diwang tak punya tenaga membalas hinaan dan fitnah itu. Ia segera meninggalkan rumah Pak Mitro.
Bu Mitro yang bingung berusaha mengejar dan menariknya sambil terus meminta maaf. Bu Diwang menepis tangan itu dan langkahnya semakin cepat menuju rumah.
***
Mendapati istrinya pulang dengan berurai air mata, Pak Diwang bergegas menghampirinya. Sambil sesenggukan Bu Diwang menceritakan apa yang dialaminya di rumah Pak Mitro. Mendengar fitnah keji itu, darah Pak Diwang naik, ia yang biasanya tenang, dibakar amarah mendengar istrinya di fitnah sebagai pencuri.
Pak Diwang meninggalkan rumah petang itu, ia berjalan tergesa dengan sebilah pisau di genggamannya. Mukanya merah. Ia dibakar amarah. Begitu samapai pekarangan ia meledak: “Mitroooo! Dasar ular! Kau pikir aku akan diam untuk selamanya setelah kau rendahkan keluargaku! Anjing! Pemfitnah, kau pikir aku tidak mampu membeli durian?!”
“Ke luar kau Mitro! Aku tak pernah sekalipun memungut durian sialan yang mengotori kebunku, durian-durian itu selalu ku lemparkan kembali ke kebunmu asal kau tau!”
Melihat Pak Diwang yang dibakar amarah, Pak Mitro hanya terpaku di teras rumah. Terkejut, ia tak pernah menyangka Pak Diwang bisa semarah itu. Selama ini ia pikir Pak Diwang adalah pengecut. Sebab setiap kali ia hina, Pak Diwang hanya diam. Ia sungguh tak siap menerima amarah Pak Diwang petang itu.
Melihat Pak Mitro yang berdiri di teras, Pak Diwang semakin berang dan merasa ditantang. Ia berlari menerjang, menabrak tubuh Pak Mitro, lalu menindih Pak Mitro yang masih kaget dan terjatuh itu.
Pak Mitro berusaha mencoba meloloskan diri, tapi badan Pak Diwang yang tinggi besar membuat usaha Pak Mitro menjadi sia-sia. Bu Mitro yang melihat semua itu hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong.
Bu Diwang datang tak lama setelah Pak Mitro tersungkur, ia mencoba menarik suaminya agar meloloskan Pak Mitro. Tapi Pak Diwang bagai batu, ia menindih Pak Mitro dengan kuat, ia tarik lidah Pak Mitro.
“Mulai hari ini kau tak lagi dapat menyebar fitnah dan menghina orang Mitro! Dasar kau ular tukang fitnah!” Pak Diwang memotong lidah Pak Mitro dengan pisau. Bu Mitro dan Bu Diwang sama-sama menjerit melihat adegan itu, semenatara saat tetangga keluar mendengar kehebohan itu, mereka sudah terlambat.
Semuanya hanya bisa melongo, diiringi adzan magrib yang segera tiba.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
👍