Tan Malaka Ada Benarnya Juga, dan Ini Alasan Saya Percaya Padanya

Saya seorang yatim yang mencari arah hidupnya, dan menemukan nama Tan duduk berdampingan dengan angka 1925 pada buku Naar de Republiek Indonesia[1]. Angka 1925 jauh dari kata merdeka dan proklamasi. Ketika itu arah perang budak belenggu kolonial masih berbentuk organisasi massa. Di tengah prahara jalan organisasi itu, tiba-tiba muncul antologi esai berisi taktik perjuangan revolusioner, kondisi ekonomi Hindia Belanda, dan “ramalan” terhadap perang di Pasifik.

“Komunis wajib mati!”

Kita mengenal ungkapan kejam seperti itu dari para korban racun Orde baru. Mereka mati kutu jika mendengar pergerakan bawah tanah anak didik Soviet itu, dan cerdiknya Jenderal Bintang Lima, Soeharto, setelah ujung tombak komandonya membunuh para pemanggul ideologi komunis hingga ke akar-akarnya, dibuatlah film garapan Arifin C. Noer. Tidak ada yang tidak mengenal film Pengkhianatan G30S/PKI yang tayang tengah malam pada penghabisan bulan September. Kita terus diasupi pemikiran bahwa tidak ada yang patut dibanggakan dari komunisme.

Di antara orang-orang yang terkubur itu, ada orang Minangkabau yang punya nama islami. Namun dia lebih terkenal dengan gelarnya yang didapat setelah lulus sekolah, Tan Malaka.

Sebagian anak muda mengenal sosok Tan Malaka sebagai orang yang berjalan-jalan keliling dunia. Berteriak lantang di hadapan tuan-tuan pemuka komunis dunia. Menulis banyak brosur dan buku yang berisi api revolusi. Pahlawan yang dibakar namanya oleh rezim yang ditakuti akan lahir.

Saya jatuh cinta dengan nama Tan dan mulai melahap hampir semua pemikiran abadi Tan. Apalagi setelah nama Tan digaungkan dengan revolusi yang baru-baru ini memenuhi jatuh-bangkitnya presiden mantan Pangkostrad. Anak muda membacakan nama-nama buku Tan Malaka pada forum-forum diskusi, komunitas, bahkan dunia aktivis. Isi otak Tan juga ditularkan pada setiap generasi yang siap mengangkat kembali tongkat kebebasan berpikir.

Anak muda banyak yang mengenalnya sebagai Bapak Republik Indonesia, berpikir bahwa Tan adalah wajah asli perjuangan rakyat jelata termasuk saya.

 

Kilas Balik Wajah Ibrahim

Pada saat Tan masih bernama Ibrahim, ia adalah anak cerdas dengan segudang keterampilan mulai dari sepak bola, karate, dan bermain biola. Dia terlalu pintar sampai cintanya ditolak untuk dipenuhi oleh gadis ayu di sekolah Bukittinggi.

Dalam masa-masa belajar, Ibrahim kecil mampu lulus dengan nilai sembilan ke atas. Bila seorang anak ingusan berhasil menjadi yang terbaik di sekolahnya, maka orang tua akan menghadiahi sesuatu yang spesial dan eksklusif. Ingat, ini di Minangkabau, bukan di masa kita bisa memiliki mesin PS jika menjadi peringkat satu (kalau anak sekarang minta motor).

Ibrahim mendapat nama baru dalam namanya yang sangat islami itu, dan seorang wanita untuk menjadi teman hidupnya. Namun, Ibrahim bukan tipe orang yang mau mengorbankan idealisme demi wanita. Ibrahim menerima gelar Datuk Sutan Malaka, dan menolak wanita yang disiapkan khusus untuknya. Di saat itulah ia memulai perjalanan ke negeri penjajah dengan modal iuran atau patungan oleh warga sekitar di yayasan milik Horensma.

Di saat Tan hanya bisa tidur di loteng kecil dan dingin, dan diserang radang di paru-paru[2] yang membuat ia susah bernapas, ia masih mampu membaca, bahkan memantau Bolshevik yang bergema di wilayah kekuasaan Lenin. Dari bawah tanah ia berteriak lantang dengan jalur tulisan. Dengan membawa paham sosialis yang kuat, berjalan di sepanjang garis revolusi, beradu logika dengan teman seperjuangan, ia memikirkan langkah yang terbaik untuk negerinya agar berganti nama, bukan memikul nama Hindia Belanda.

Ingin menyandang Pendidikan Guru Kepala, ia hanya sampai pada taraf Pendidikan Guru. Radang paru-parunya tidak pernah pergi sepenuhnya. Sebab itulah ia masih menyandang berbagai penyakit kala berpindah ke berbagai belahan dunia.

Sudah berlalu-lalang dan menapak sampai di pusat Bung Lenin berkhotbah dan berteriak keras. Di sana juga Tan menyerukan ide kontroversial yang bahkan menurut Trotsky, tidak pernah terpikirkan ide ini akan muncul dari otak briliannya. Tan Malaka menyerukan bahwa agar revolusi bisa terjadi, perlu adanya kerja sama antarmanusia akar rumput, meskipun itu berasal dari PAN Islamisme. Jadi dia menyerukan agar umat Islam dan para komunis di dunia harus bersatu agar mewujudkan negara yang berdaulat dan menjunjung tinggi kesetaraan, karena penduduk berkalung tasbih juga banyak dari kalangan kecil.

Setelah pernyataan kontroversi itu terjadi, beliau bukan hanya diburu oleh bangsa yang menjajah negerinya, tapi juga di hadapan orang-orang itulah Tan Malaka adalah buronan. Dia tidak takut akan menjadi buronan internasional, bahkan pengejarannya seperti adegan film-film aksi yang penuh adegan Jackie Chan tanpa stuntman. Kita tidak pernah menemukan pelarian seperti itu jika bukan Tan Malaka yang memulai dulu.

Tan Malaka bernasib sama dengan Soekarno yang berusaha memadukan tiga ideologi dalam satu kata: Nasakom. Soekarno harus merelakan kepercayaan rakyat dan tentara dalam perang besar membangun Indonesia setelah ditinggal kawan seperjuangannya[3]. Tan harus kehilangan wajahnya dalam lingkaran internasional karena membawa nama Islam ke panggung komunisme di forum itu.

 

Idealisme dan Alergi Diplomasi

Kepala batu bukan sepenuhnya ada pada Tan Malaka. Dia adalah tokoh komunis yang tidak menolak agama.

Bagaimana ia mau berbohong di hadapan agama kalau dia sendiri adalah penghafal kitab sejak tujuh tahun setelah kelahiran?

Tan Malaka juga terkenal akan idealismenya yang tidak mau berdiplomasi dengan penjajah. Di saat Soekarno melakukan “nego alus” dengan Belanda yang haus wilayah itu, Tan Malaka menyatakan ketidaksetujuannya akan hal itu yang menurutnya adalah sia-sia. Dia mengancam akan menjadi musuh suatu saat nanti jika Soekarno dan kawan-kawannya masih seperti ini. Dengan lantang di hadapan pemimpin bangsa itu ia nyatakan bahwa kemerdekaan kita belum seratus persen Negosiasi dengan para tuan tanah yang menjarah padi-padi kita dulu adalah langkah yang salah.

 

Melawan Racun Mistika di Balik Tembok Pabrik

Tidak ada yang membicarakan Tan Malaka tanpa membicarakan Madilog-nya. Pada masa Jakarta masih kacau-kacaunya, di balik tembok pabrik sepatu di Jakarta, Tan Malaka menulis risalah yang mengubah hidup para rakyat yang dibelenggu logika tidak jelas. Madilog namanya. Buku yang menjadi momok mengerikan bagi rezim Soeharto.

Di saat rakyat percaya bahwa dokter terbaik di dunia adalah dukun, dan cara menghadapi gagal panen adalah meminta ampun pada Dewi, Tan Malaka menyatakan bahwa itu semua tidak masuk akal dan sia-sia. Tidak ada satu pun padi yang akan tumbuh bila kita menunggu Dewi Pertiwi menimbang air untuk bumi. Padi itu akan tumbuh bila tanah setiap hari dibajak, disiram, dan dipupuk. Tidak perlu kita membuang-buang ayam dan padi sisa kemarin, diletakkan di sebuah kendi tanah liat untuk menarik Sang Dewi agar menurunkan hujan. Alam bukan dikendalikan oleh serangkaian jin kiriman dewi-dewi di langit, tapi oleh awan yang tidak kuat menggenggam tangan saat air sudah melebihi batas kemampuannya.

Sekarang pemikiran Tan Malaka dipakai lagi untuk melawan mistik yang terlahir kembali. Ditambah lagi yang masuk ke ranah pemikiran bukan hanya mistik, tetapi juga fanatisme dalam beragama.

Sejak kapan garam yang seharga segenggam beras bisa berubah menjadi seharga satu karung beras saat garam itu disentuh, dibacakan ayat-ayat suci, dan dibungkus dengan tulisan bisa membawa kebahagiaan?

Lalu juga ada salam-salaman yang terselubung uang di dalamnya, menjadikan standar malu kalau orang miskin bersalaman dengan kiai dengan sistem seperti itu. Sayajuga pernah melihat orang minum daki orang yang baru pulang haji. Lebih tepatnya orang haji itu dicuci kakinya, lalu dibuat cuci muka dan sebagainya. Yang waras aja, deh! Ngapain, sih?

Maka di situlah Tan Malaka masuk sebagai bagian dari masyarakat maju dan mendorong agar harkat manusia bisa terangkat dengan melempar sungai mistis dan fanatisme agama itu, dan sampai saat ini masih saya pegang.

 

Tan Malaka pergi dari benua ke benua dengan 23 nama samaran. Di sana sosok Tan Malaka terbentuk sebagai orang yang idealismenya mengalahkan rasa takut. Tidak ada perahu yang ditumpangi Tan Malaka tanpa ada yang diam-diam akan menembaknya dari belakang.

Tidak jauh juga di Indonesia ia menjadi penulis handal walau dalam lingkaran lampu petromaks atau bahkan lilin yang menyala sepanjang malam. Tidak akan saya lupakan di dalam pelarian di Jakarta, di belakang pabrik sepatu, ia menulis risalah yang menghantar rakyat kepada logika antimistis.

Dari segala tele-tele yang tersebut di atas, Tan Malaka adalah orang yang di mata saya ini “orang gila”.Kini namanya semakin masif digunakan dalam berbagai forum dan digaungkan. Nama yang tidak hanya meninggalkan risalah, tapi juga jalan berpikir dan arah menuju suatu ruang yang disebut Republik Indonesia.

 

 

Referensi

[1] Dalam versi bahasa Indonesia, buku ini berjudul Menuju Republik Indonesia.

[2] Semasa mengenyam pendidikan di Belanda, Tan Malaka terkena Pleuritis, penyakit yang menyebabkan radang paru-paru karena kesulitan Tan Malaka dalam beradaptasi dengan iklim Belanda dan mengatur gaya hidup.

[3] Bung Hatta.

Penghuni bumi Kediri. Calon mahasiswa Universitas Islam. Umurnya 17 tahun tapi pasrah saja dibilang Gen-Z. Tidak berstatus, tidak tahu golongan darah, bermimpi menjadi Seno Gumira Ajidarma. Instagram @naskahsenja64_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!