

Seharusnya aku mencintaimu,
sepenuhnya.
Tapi nyatanya, cintaku tak genap,
bahkan tak sampai setengahnya.
Mestinya tidak apa-apa, kan?
Sebab kau tak akan tahu,
tak pula sanggup memeriksa isinya.
Kau mungkin akan menganggapku sekadar menceracau.
Mana mungkin seorang anak tak mencintai ibunya dengan utuh?
Sebab kau merasa telah tumpah seluruh kasih sayang,
bahkan sejak kau mendamba kehadiranku di dunia.
Namun, inilah aku yang sebenarnya.
Aku hanya takut,
bilamana nanti harus mengusungmu dalam keranda
berbalut kain hijau yang dingin.
Aku yang belum mencintaimu penuh ini
mesti kehilanganmu
dengan air mata yang tumpah ruah,
hanya demi terlihat sebagai anak saleh yang berbakti.
Aku bahkan tak kebagian cintamu,
sama sekali.
Sebab cintamu telah habis kau tuang untuk kakak dan adikku.
Masih juga kau berdalih:
“Kalian semua kan anak-anak Ibu.”
Lalu kau anggap semuanya sama saja?
Mencintai mereka berarti mencintaiku juga?
Jangan-jangan kau hanya lelah pikiran dan rohani.
Atau memang benar,
kau sudah tak mencintaiku lagi.
Aku hanya bisa mengangguk,
pasrah dalam lemah.
Sedang di dalam dada,
hatiku hancur teriris-iris.
Kenapa hanya nama bapak yang dipanggil?
Rahmat bin Candra. Kenapa bukan nama ibu saja yang menggema?
Rahmat anak Widyawati. Padahal aku tak kenal siapa bapakku.
Hanya ibu yang selalu menggandengku ke madrasah.
Bukankah segala tentang ibu adalah inti?
Tak ada ibu, tak akan ada manusia.
Tak ada ibu, tak akan ada Adam.
Lihatlah, bahkan Adam pun punya tali pusar.
Apa hanya karena ada sekat kata “angkat” dalam statusmu,
lalu aku tak boleh berbakti sepenuhnya?
Atau sebaliknya:
dilarang untuk sekali saja mendurhakaimu?
Aku hanya ingin melakukan segalanya dengan hasanah,
layaknya anak kepada orang tuanya.
Tempat yang lumrah untuk saling mencintai
sekaligus membenci.
Meski kau sama sekali tak serupa ibuku,
tetaplah mencintaiku sebagai anak,
meski aku tak pernah tidur di dalam rahimmu.
Ada ibu lain yang luput dari pandangan kita.
Kita tak pernah benar-benar mencintainya,
meski berkali-kali dipinta.
Kita justru lebih sering memilih durhaka,
memperbudaknya dengan tangan yang bengis.
Meski ia sudah meronta lemas,
putus asa,
lalu mati menyerah.
Padahal kita tak sanggup hidup tanpanya,
walau sedetik.
Dia yang menjaga detak hidup kita
dalam waktu yang panjang,
kini murka Tuhan mengiringi jerit dan tangisnya.
Dia selalu berusaha memeluk kita dengan hangat.
Namun kita menolaknya
dengan rasa yang mentah dan kecut.
Kau masih tak tahu siapa Dia?
Sang Ibu Kehidupan itu?
Aku merapalnya Buana,
kau memanggilnya Bumi.
Madiun, Juli 2026
Lahir dan berdomisili di Madiun, Jawa Timur. Aktif menulis cerpen, esai, dan lainnya yang beberapa telah dimuat di berbagai media serta antologi. Kumpulan cerpen yang sudah terbit berjudul Bahagia Itu Kecil Saja. Instagram @a.s._ishak dan X @kangmassugik.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!