Takut Istri Berpenghasilan Lebih, Seberapa Rapuhkah Kelelakian Kita?

Kemarin malam saya berdebat dengan seorang teman yang telah lama tak bertemu. Pertemuan itu terasa mengejutkan, sebab selain tidak sengaja, saya sudah janjian dengan teman saya yang lain. Akhirnya sembari menunggu teman yang sudah janjian itu datang, saya memilih bergabung dengan teman lama tersebut.

Sebelum mengobrol dengannya, saya memesan es kopi gula aren dan memutuskan untuk bayar ketika hendak pulang saja. kami pun duduk dan membicarakan hal-hal umum, seperti pulang sejak kapan, sekarang sibuk apa dan basa-basi lainnya. Mengingat posisi saya kala itu telah merantau dan kembali ke kampung halaman.

“Lalu, rencanamu setelah ini apa?” tanya temanku

“Rencananya, ke Jepang” jawabku.

“Sudah yakin akan pergi ke sana?” kejar temanku

“Ya, seyakin-yakinnya. Apa pun yang terjadi. Saya akan pergi ke sana.” jawabku meyakinkan.

Mula-mulanya sih kami mengobrol dengan santai. Tapi entah kenapa obrolan jadi mengarah soal memilih kriteria jodoh. Awalnya saya hanya menyimak saja, tapi tiba-tiba saja, saya merasa perlu menunggu celah untuk mendebat pendapat-pendapatnya yang menurut saya sungguh ngawur.

Contohnya begini, “Kalau saya memilih jodoh, yang penting tidak pernah ada pengalaman kerja di luar negeri. Karena kalau misal di sini usahanya nggak sesuai harapan, nantinya dia malah berangkat ke luar negeri lagi. Hubungan LDR itu gak enak!” jelasnya.

Saya mengangguk-angguk dan tersenyum, bukan berarti saya sepenuhnya setuju dengan pendapatnya, ya saya menghargai pendapatnya dan mengangguk seolah saya mendengar yapping-yapping-nya itu.

Saya mulai mencermati arah pembicaraanya, sepertinya akan mengarah pada permasalahan ekonomi, yang kelihatannya ia tak mau jika dikalahkan jumlah penghasilannya oleh sang istri. Ia merasa sebagai lelaki harus bertanggung jawab penuh dan merasa rendah-serendahnya jika penghasilannya lebih kecil dari istrinya.

Sambil menandaskan latu rokok murahnya di atas asbak, bola matanya berpindah-pindah sambil melontarkan kata yang selama ini sangat ia yakini:

“Buat saya, yang tak mau dengan wanita eks-TKW, itu karena saya tak mau ketika keadaan ekonomi sedang melemah, ia malah memutuskan kerja ke luar negeri. Rumah tangga yang seperti itu seiring waktu pasti akan runtuh dengan cepat karena kebanyakan perempuan, jika sudah tahu cara menghasilkan uang sendiri, bakal secepatnya keluar dari belenggu ketidakpastian ekonomi yang menimpa keluarganya,” kata temanku seyakin-yakinnya.

Tuh, kan benar. Akhirnya saya punya kesempatan menyanggah pendapatnya.

“Ya, tidak bisa seperti itu. Semua harus memakai data, biar hasil kesimpulan yang ada itu tidak hanya yapping doang. Atau jangan-jangan, kau hanya berpendapat ngawur saja dan seolah-olah meng-campaign, bahwa jangan memilih pasangan, terutama perempuan dari eks-TKW?” sergahku dengan mengangkat kedua telapak tangan yang mempertanyakan pendapatnya.

“Cara berbicaramu itu memang deskriptif-intimadatif. Makanya, saya menyangkal pendapatmu yang serampangan itu,” tambahku.

“Lho, ini fakta.” Balasnya lagi tak mau kalah.

Ia juga ikut mengangkat kedua tangannya seolah-olah memberi bukti nyata

Ia melanjutkan lagi, “Saya melihat sendiri di lingkungan seperti saya (rumah) itu memang seperti itu adanya. Ya contohnya saja, Maryam istri teman kita itu. Ketika keadannya sulit seperti sekarang, ia memilih  ke luar negeri lagi.”

Fyi, teman kami si Maryam ini memang pernah pergi ke luar negeri sebelum menikah. Lalu pulang, dan tak lama langsung menikah dengan temanku yang ia maksud itu.

“Iya, itu kan pengalaman empirismu saja. Jangan kau jadikan parameter untuk menggenaralisir bahwa semua perempuan ex-tkw itu sama. Ya itu jadikan sebagai acuan pada pengalaman pribadimu saja. Jangan seolah-olah, semua wanita eks-TKW itu dipukul rata, dalam artian ketika keadaan ekonominya sedang terpuruk, ia cepat memutuskan menjadi TKW lagi.

Seharusnya, kau tunjukan data yang valid, kreadibel. Biar terbukti bahwa issue itu memang betulan ada.

Mengoreksi Bias Kejantanan Lelaki

Seorang lelaki yang takut dengan perempuan berpenghasilan lebih besar dari dirinya: yang merasa harga dirinya diinjak-injak dan selalu mengira jika istrinya akan semena-mena begitu berpenghasilan sendiri, sudah jelas bermasalah sejak dalam pikiran.

Sudah jelas sejak awal orang seperti ini selalu berpikir, jika penghasilan seorang lelaki harus lebih besar dari seorang istri. Apa pun alasannya.

Hal ini jelas menunjukkan mentalitas penjajah. Ia berpikir dengan menjadi satu-satunya yang berpenghasilan, otomatis punya hak menyetir-nyetir istrinya. Singkatnya ia merasa dengan cara itulah legitimasinya sebagai lelaki tegak. Hanya dengan cara itulah ia tetap berada di atas perempuan.

Sifat patriarkis ini sudah mendarah daging di lingkungan kita. Merasa laki-laki di atas segala-galanya dan memandang seorang wanita, apalagi kalau jadi IRT, merasa istri di bawah komandonya.

Otomatis istri tak boleh melebihi posisinya dalam rumah tangga. Jika seorang istri terasa seakan melebihinya, cara kekerasanlah jalan satu-satunya agar wanita itu turun dari posisinya yang tidak ingin setara dengan dirinya

Kasus ini mudah ditemui di semua tempat.

Mereka menganggap wanita itu tugasnya cukup yang domestik-domestik saja. Dapur, sumur, kasur, tiga kata yang menggambarkan perempuan. Para misoginis ini juga tak menyukai wanita menjadi kepala rumah tangga, yang membuat kelelakiannya terancam.

Padahal dalam kondisi tertentu peran perempuan juga bisa terdorong menjadi tulang punggung bagi rumah tangganya. Sebut saja single mom yang sudah niscayaaitulah satu-satunya pilihan. Lagipula proses menjadi tenaga migran juga tak mudah. Maka syukuri saja apa yang ada. Toh, itu juga untuk masa depan rumah tangganya. Bukan untuk dirinya seorang.

Buat saya, laki-laki seharusnya menjadi orang pertama yang memberikan dukungan karena itu adalah pilihannya, dan menghormati pilihan tersebut bukanlah opsional, tapi wajib!

Masalah nanti perempuan selingkuh atau jual narkoba atau apalah akan kembali lagi pada diri masing-masing. Soal menjaga hubungan jarak jauh, toh tinggal atur-atur saja pola komunikasinya. Bukankah tanpa LDR juga prahara rumah tangga masih bisa terjadi?

Di zaman begini, saya masih heran masih ada laki-laki yang masih berpikir jika perempuan tak boleh bekerja di luar negeri, sedangkan keluarganya jelas-jelas kehabisan opsi hanya untuk bertahan hidup. Buat saya membatasi ruang gerak perempuan dalam rumah tangga itu konyol dan aneh. Dengan cara pandang begini, bagaimana coba sebagai lelaki kita bisa menata kehidupan ke depan?

Author

  • Syamsul Bahri

    Syamsul Bahri seorang guru bahasa inggris di Yogyakarta. Selain kesibukannya menjadi guru, ia juga kadang-kadang menulis, esai, cerpen, puisi resensi dan hal lainnya yang sia-sia. Bisa disapa lewat Instagram: @dandelion_1922

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | hiltonbet | romabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | casino api | betnano | ultrabet | ultrabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | grandpashabet | royalbet | royalbet giriş | yakabet | yakabet giriş | timebet | timebet giriş | galabet | galabet giriş | elexbet, elexbet giriş | Elexbet | Elexbet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | perabet | perabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | royalbet | royalbet giriş | roketbet | grandpashabet | royalbet | galabet | galabet giriş | galabet |