Abu-Abu
Bersembunyi di balik abu-abu




di atas pagar waktu. sayangku, suntikan bisamu pada leherku, jangan mulutku. minggatlah.

keparat! aku tidak sanggup pergi atau lari atau bermain di lain-lain pintu

hanya hening dan lengang, yang singgah pada ruang tak bernama.

Puja dan Puji Rasa pada desir angin pantai, redupnya senja, dan diammu sore itu: aku memujamu. atas apa-apa yang indah pada wujudmu: tenangmu, senyummu, dan tatapan teduhmu. memang benar, bukan sekali aku menjumpa rasa yang sama, namun tetap saja berbeda. kamu berbeda. sebab hadirmu di waktu ini, merupakan anugerah semesta untuk mengajariku arti […]


azimat dadu menjelma seratus busur panah
