Gegar Budaya Orang Jawa yang Gak Bisa Bahasa Krama Setelah Menikah
Kepada seluruh penganten lintas kabupaten, mari!
Kepada seluruh penganten lintas kabupaten, mari!

Tiket kereta sudah ludes, opsi lain kepalang nihil. Sekarang tugas saya cuma satu: menyelamatkan muka di depan anak dan istri. Saya mau meyakinkan mereka bahwa lebaran pemerintah jatuh pada 21 Maret. Tidak bisa tidak!

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar memalukan dan norak kan bukan dangdut, tapi mental poskol dan kesombongan kelas yang merasa paling berbudaya tanpa lihat realitas yang ada dan menjadi fakta. Slebew!

“Aku cuma ikut nemenin Bapak. Biar Bapak nggak sendirian di jalan.” anak gembel itu tersenyum di akhir kalimatnya.

Seekor lintah pernah hinggap di leher saya setelah saya bermain di rawa. Saya bergidik geli sambil mencoba melepaskan hisapannya. Saya menangis dan Ibu menaburi garam sampai lintah itu mati mengering kehabisan lendirnya.

Ketika aku kecil (eh tapi sampai sekarang masih juga, sih), sering berpikir bahwa kampungku itu sebuah negeri dongeng yang aman. Pribumi hidup sebagai petani dan para pelancong hidup sebagai buruh dengan upah yang cukup. Di kampungku masih ada sawah, meski perlahan-lahan sawah itu berubah menjadi perumahan, masih ada pepohonan rindang dan hal-hal lain yang bisa […]

Pagi ini teman kerjaku misuh ngedumelin jalanan macet menjelang mudik. Apalagi doi tinggal di wilayah yang jauh dari pusat kota, Dengklok City. Tapi Rengasdengklok mah Rengasdengklok aja deng udah. “Urang sapopoe mangkat gawe teh jam 6 nya, terus amun usum mudik kudu mangkat jam sabaraha meren ieu teh?” begitu celotehnya dengan muka kusut karena ternyata […]
