“Seandainya” dalam Hidup Ibu
“Tentu saja aku bakal menerimanya! Aku gak mau keinginanku berakhir di kotak cokelat berdebu seperti itu,” jawabku dengan nada sombong.
“Tentu saja aku bakal menerimanya! Aku gak mau keinginanku berakhir di kotak cokelat berdebu seperti itu,” jawabku dengan nada sombong.
Aku tidak pernah menceritakan tangisku di telepon, Ibu.
Sudah empat belas hari Elis menunggu kabar tulisan yang ia kirim ke salah satu surat kabar di Medan. Selama itu pula wajahnya muram. Hingga dini hari itu, kesabarannya sudah tiba di ujung yang paling tipis. “Ck.” ia mendecak pelan. Lalu mengumpat lirih, berulang-ulang, seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Eee ... Anjing! Babi!” nama hewan itu […]