Di suatu malam keparat, pikiranku bertanya kepada sang empunya pikiran. Denting jam terus berdetak seirama jantung dan hembusan napasku. Kubuka satu per satu halaman, menamatkan buku yang entah sudah berapa bulan belum kurampungkan. Bagiku, membaca adalah lebih dari sekedar mengisi waktu luang, melainkan mengisi waktu agar kesepianku tak sia-sia. “Cinta adalah membebaskan, termasuk aku membebaskanmu […]
Aku adalah wujud kesombongan sejati, sembari mencari-cari kesalahan negara sampai berpikir "Apa lebih baik negara dibubarkan saja? tapi siapa yang akan mengurusiku membuat kartu nikah?"