Yang Berkepala Tua
pusaran waktu bergurau pada tiap pekerjaan

Dan aku tinggal di antara sisa suara

“Yang ini mau ditaruh di mana?” tanya salah satu pekerja sambil mengangkat sebuah kardus besar.

“Manusia bisa kehilangan seseorang begitu lama sampai wajah orang lain pun mulai tampak seperti kenangan.”

Ayo sebutkan satu jajanan apa pun dari sini sampai situ, pastilah aku bakal selalu tahu! Kau tahu Kosambi? Hm, tidak-tidak! Bukan Kosambi Bandung. Ada begitu banyak Kosambi dan hei! Kalian dengar ini baik-baik, ya! Tidak semua hal itu harus soal kota besar! Ingat itu! Kalau tidak, akan kupotong kuping kalian! Ah, dengar. Kalian mungkin ada […]

Di dalam, semua barang masih ada di tempatnya, kecuali satu hal—sosok yang seharusnya ada di sana.


Di antara aroma batagor dan kenangan yang mengendap, ia kembali ke meja makan yang hanya tersisa dalam ingatan, tempat ibu dan dirinya yang kecil masih setia menunggu cerita yang belum sempat usai.

Potongan-potongan kenangan absurd, manis, dan intim—tentang cinta, kebebasan, dan hal-hal kecil yang bikin hidup terasa lebih seru.

Kelelahan ibu yang ditelan kerja dan insomnia, kelaparan di tengah malam yang membangkitkan kenangan, serta pertemuan pahit dengan memori lama yang tak kunjung pudar.
