Tersisa Satu (Bagian I)
Mesin yang kehabisan token membangunkan tidurku. Suaranya galak sekali. Pandanganku langsung bertemu plafon yang menekan, bercorak alami membentuk pulau-pulau yang belum terjamah campuran antara hijau rumput dan bau lapuk.
Mesin yang kehabisan token membangunkan tidurku. Suaranya galak sekali. Pandanganku langsung bertemu plafon yang menekan, bercorak alami membentuk pulau-pulau yang belum terjamah campuran antara hijau rumput dan bau lapuk.

Saya tahu bahwa yang paling diuntungkan dari semua kerja keras yang terpampang di sana bukanlah orang yang ada di balik kameranya.

Awal-awal sih saya kira semua kereta sama saja yang penting nyampe. Tapi setelah sering naik, saya mulai melihat bahwa rel-rel itu bukan cuma membelah kota, tapi juga membelah kelas sosial. Anjay~
