Duka Amara
Duka menyisa lebam di tubuh dan jiwa.

Rakyat yang mencoba bertahan di tengah ketidakhadiran negara.


Pabrik, rumah, kafe—tiga panggung kekerasan dan kemunafikan.

Dua penulis berselisih ide dalam satu cerita.



Menulis nama Tuhan adalah dedikasi dan kecintaan Idris.

Di antara aroma batagor dan kenangan yang mengendap, ia kembali ke meja makan yang hanya tersisa dalam ingatan, tempat ibu dan dirinya yang kecil masih setia menunggu cerita yang belum sempat usai.

Seorang anak bertekad tarawih di saf depan, tetapi godaan gorengan di rumah menguji kekhusyukannya.
