Menyesal Sejak Halaman Pertama: Ulasan Buku Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? karya Jein Oktaviany
Saya menyesal buku Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2026.
Saya menyesal buku Apa yang Kau Lupakan Hari Ini? menjadi buku pertama yang saya baca di tahun 2026.

Digadang-gadang sebagai “pembaruan hukum poskol” yang menggantikan warisan kolonial penjajahan Belanda, KUHP dan KUHAP yang sempat naik-turun beritanya karena kalah sama berita-berita selingkuh resmi diberlakukan. Meski belum memasuki masa UAS, nampaknya ujian kita sebagai WNI sudah berlangsung. Banyak aturan-aturan KUHP dan KUHAP sepertinya bertujuan untuk melindungi pejabat dari konsekuensi hukum atas kesalahan mereka sendiri. Baru […]

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar memalukan dan norak kan bukan dangdut, tapi mental poskol dan kesombongan kelas yang merasa paling berbudaya tanpa lihat realitas yang ada dan menjadi fakta. Slebew!

Setelah sekian lama saling mencari, akhirnya Hawa berada tepat di hadapan Adam. Mereka berdiri di puncak bukit kecil pada bentang bumi bagian timur. Butiran pasir yang beterbangan menerpa kulit, seolah memberi restu pada keduanya untuk berlama-lama menetap. Semburat cahaya jingga dari matahari yang jatuh perlahan pada punggung bebatuan berlumut di ufuk barat, seolah menyertai Adam […]

Beberapa waktu yang lalu, ruang publik kita dihentak oleh pernyataan seorang anggota DPR yang menyindir donasi masyarakat sebesar Rp10 miliar untuk korban banjir di Sumatera. Dengan nada meremehkan, donasi tersebut dianggap “biasa saja” jika dibandingkan dengan bantuan triliunan rupiah yang digelontorkan negara. Sekilas, secara matematika, pernyataan itu benar. Rp10 miliar hanyalah remah-remah—mungkin tidak sampai […]

Sebab manusia, akan selalu mencerminkan lingkungannya dan sesuai pepatah, ulin jeung tukang minyak bakal kabagean seungitna.

LIhatlah Jokowi, rambutnya deforestasi. Uh kasihan.

Kecewa yang dirasa Kakek Sarmidi amat dalam. Ingin rasanya ia merobek lehernya dengan pisau yang ia pegang.

Aku harus pergi kesekolah dengan baju lusuh dan otak yang sudah hangus kumakan sendiri.

Lucu bukan? Kok jadinya malahan negara yang—setidaknya pernah memanfaatkan uang pajak kita—mengorganisir dan mengoperasikan para pendengung, pakai APBN pula.
