

Aku tak menulis untuk abadi
Kerat-kerat di kepalaku akan semakin mengarat, nanti
Semua akan hilang ditimpa yang lain lagi
Dalam kala itu
Moga segala yang kurancu tak menggerutu pada api
Yang jadi nyawanya
Kerak dari waktu
Sedang bentuknya
Serupa ludah yang dibuang saja dengan begitu
Seperti gamang bergentayang
Namun, Bung
Diksi-diksi konyol itu akan hidup di saku mataku
Menggeliat tumbuh seiring panjangnya kuku
Membelai manis di tiap desir hangus nadiku
Andai kita bisa merubah dunia, sayang
Dengan tangan kerdil, keruh, dan kotor kita
Andai saja
Kita rampas lidah mereka
Kita sumpal sumpah serapah
Dengan mengeruk matanya
Satu per satu
Dipasang lagi
Dikeruk lagi
Lalu, congkel nadi angkuhnya
Menyelinap menjelma jantung
Lalu, bergerak dan berhenti semau kita
Dengan itu, sayang
Moga sedikit iba singgah
Pada Ketidaktahumaluan mereka
Andai saja
Hatimu tak lebih dari sayap seekor laron
Sedang mataku sayu dan penuh kosong
Mlompong
Aku pernah menjawabmu suatu pilu:
Jika betulan diingini
Akan kau suguhkan dunia di atas kepalaku
Kau sungguh hanya mahir merancu
Meracik racun
Meramu dusta
Menjual sendiri ucapan-ucapannya
Seluruhmu terdiri atas
Ego yang dipilin teliti
Idealis yang kau sembah setengah mati
Kemungkinan sekarat
Mengambang nir titik pasti
Senantiasa kau timang tabu
Menghamba pada logikamu nan belagu
Alas kaki bapak
Berbahan peluh dijahit kasih
Membalut jemari kaki dengan jiwanya sendiri
Talinya dari tekad
Mencukupi segala kami
Alas dirajut penat
Biar tak kasat
Mahir bersembunyi di telapak kiri
Yang ditopang sepatu bapak bukan hanya kaki
Juga memastikan meja makan tetap hidup dan terisi
Serta keaku-akuan kami yang kerap tak tahu diri
Lahir di kabupaten yang pas hari jadi malah ngundang sound horeg sepanjang jalan raya. Tulisan yang lain bisa kalian temui di tugas-tugas yang dikumpulkan ke dosennya.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!