Surat untuk Ibu dari Kamar Kos

Ilusi Beranda Orang Lain

 

Kita adalah generasi yang dipaksa dewasa oleh lini masa,

melihat pencapaian orang lain lewat di layar kaca.

Magang di korporat ternama, piala-piala berderet megah,

sementara kita masih mendekam di kamar, berteman cemas yang tak kunjung reda.

​Namun di hadapan cermin, aku kembali mengeja namaku.

Hidup ini bukan perlombaan lari, bukan pula siapa yang paling cepat sampai.

Aku berharga bukan karena deretan pencapaian di bio media sosial,

melainkan karena aku masih memilih berjalan, meski kakiku gemetar.

 

 

 

Romantika Angka dan IPK

 

Di atas selembar kertas, masa depan kami dipertaruhkan,

dibatasi oleh angka-angka di belakang koma.

Kami berkawan dengan kafein dan mata yang terus dipaksa terbuka

demi sebuah validasi bahwa kami tidak tertinggal di belakang.

​Namun, adakah yang memberi tahu kami?

Bahwa nilai diri seorang manusia tidak pernah bisa diukur oleh indeks prestasi.

Kita lebih luas dari sekadar transkrip nilai,

dan kita lebih dalam dari sekadar ruang kelas yang dingin.

 

 

 

Surat untuk Ibu dari Kamar Kos

 

Ibu, uang kiriman bulan ini kuhabiskan dengan sangat hati-hati,

membagi antara buku referensi, kuota internet, dan sebungkus mi.

Malam di kota rantau lebih sunyi daripada suara yang kudengar di rumah

dan beban di pundakku terasa berkali-kali lipat lebih berat.

​Aku tidak pernah menceritakan tangisku di telepon, Ibu.

Aku hanya ingin kau tahu bahwa anak perempuanmu sedang bertarung,

menenun doa-doamu menjadi tameng paling kuat,

agar kelak saat pulang, aku membawakanmu selembar ijazah dan senyuman bangga.

 

 

 

Memilih Waras di Dunia yang Riuh

 

Di antara riuhnya rapat organisasi, tuntutan tren, dan ambisi yang membakar,

aku memilih duduk sendiri di meja perpustakaan, membiarkan orang sibuk berlalu.

Mengambil napas dalam-dalam, meraba detak dada yang masih setia.

​Sebelum dunia menuntutku menjadi segalanya,

aku ingin menjadi diriku sendiri dulu dengan sebaik-baiknya.

Mahasiswa yang tahu kapan harus berlari,

dan tahu kapan harus berhenti untuk memeluk dirinya sendiri.

 

 

 

Terjebak di Labirin Hustle Culture

 

Katanya, kalau tidak sibuk, kita tidak akan jadi apa-apa.

Maka kupadati kalender HP-ku dengan rapat, kelas, dan seminar,

mengorbankan jam tidur demi sebuah kata bernama “produktivitas”.

Lama-kelamaan kami lupa bagaimana rasanya hidup tanpa terburu-buru,

takut berhenti sejenak karena takut dianggap tertinggal oleh dunia.

​Namun di pukul tiga pagi, tubuhku memprotes keras,

menuntut haknya yang dirampas oleh ambisi yang membabi buta.

Aku tersadar, menjadi berharga bukan berarti harus kelelahan setiap hari.

Kadang, hal paling berani yang bisa kulakukan sebagai mahasiswa

adalah menutup laptop, mematikan notifikasi, dan tidur dengan tenang.

 

 

Seleksi Alam Pertemanan Kampus

 

Ketika di semester awal, kita punya sirkel pertemanan yang riuh,

tertawa di kantin, berjanji akan lulus bersama-sama.

Namun waktu adalah penyaring yang paling jujur.

Satu per satu mulai menjauh, sibuk dengan dunianya,

atau hilang arah karena ego yang tak lagi searah.

​Awalnya aku kecewa, merasa asing di tengah kampus sendiri.

Tapi kini aku mengerti, manusia datang dan pergi seperti musim.

Aku tidak perlu disukai semua orang untuk merasa utuh.

Cukup satu atau dua teman yang tulus mendengar keluh,

atau jika harus berjalan sendiri, kakiku toh masih cukup tangguh.

 

 

 

Topeng di Balik Layar Selfie

 

Di Instagram, aku adalah mahasiswa yang tampak selalu bahagia.

Foto kafe estetis, senyum lebar bersama teman, dan baris kalimat penuh motivasi.

Tak ada yang mengunggah mata sembap setelah menangis semalaman,

menampilkan versi terbaik demi sebuah “suka” dari orang lain.

​Padahal di balik layar yang mati itu,

ada tangis yang buru-buru dihapus sebelum masuk ruang kelas.

Ada rasa sepi yang tak tersampaikan dalam riuhnya komentar.

Mulai hari ini, aku berjanji pada diriku,

aku tidak perlu validasi dunia maya untuk merasa bahwa aku berharga.

 

 

 

Doa Mahasiswa Biasa

 

Tuhan, aku bukan mahasiswa berprestasi dengan piagam berderet,

bukan pula ketua organisasi yang suaranya didengar di ruang rapat.

Aku hanyalah aku, mahasiswa biasa yang sedang berjuang,

berusaha menyelesaikan apa yang sudah dimulai penuh tanggung jawab.

​Jika jalanku tidak seberkilau mereka yang ada di puncak,

genggam hatiku agar tidak jatuh dalam lubang iri dengki.

Izinkan aku lulus tepat waktu dengan bekal ilmu dan kewarasan yang utuh,

menjadi manusia yang bermanfaat, yang tahu cara memeluk diri sendiri

saat dunia di luar sana terasa begitu dingin dan asing.

 

 

 

Satir Dompet Akhir Bulan

 

Dunia perkuliahan bukan cuma soal teori di dalam kelas,

tapi juga kalkulator di kepala yang menghitung sisa napas dompet yang menipis.

Menatap menu warung makan seperti membaca teks ujian,

memilih yang paling murah demi bisa bertahan hingga akhir bulan.

Mahasiswa zaman sekarang bukan cuma belajar tapi diajari untuk bertahan hidup, 

menukar gengsi dengan sebungkus mi instan di kamar sepi.

Namun di balik dompet yang menipis ini, mental kami menebal.

Kami belajar bahwa kemandirian tidak pernah lahir dari kenyamanan,

dan harga diri tidak pernah runtuh hanya karena isi kantong yang sedang rapuh.

 

 

 

Menghapus Jejak Air Mata Sebelum Kelas Pagi

 

Ketika pagi hari, matahari baru saja bangun dengan malas.

Aku berdiri di depan cermin toilet kampus, membasuh wajah yang sembap.

Semalam ada badai yang mengamuk di dalam kepala,

tentang rindu rumah, tentang tekanan, tentang rasa takut tak punya masa depan.

Namun ketika dosen telah masuk, aku menarik kedua ujung bibirku ke atas.

Memakai topeng “aku baik-baik saja” dan melangkah masuk ke dalam kelas.

Kita semua adalah aktor-aktor hebat di panggung akademis ini,

menyembunyikan luka di balik catatan kuliah yang rapi,

berpura-pura tangguh padahal di dalam dada sedang amat rapuh.

Belajar di prodi Pendidikan Agama Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Instagram @indndh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!