Surat Untuk George Harrison

Shea Stadium bergema seperti tank yang menembak bersama-sama. Sejumlah polisi menolak suara itu yang membuat gendang telinga mereka meledak berantakan. Desahan wanita dan pekik kegirangan gadis-gadis perawan yang bersorak “John!”, “Paul!” sambil melempar-lempar bunga dan memanjat pagar. Terlihat juga kameramen mengabadikan beberapa gadis yang digendong polisi karena mencoba mencium Paul dan John Lennon.

Intan memutar kaset pita yang bertanda tangan pemain gitar yang menggairahkannya. Ia memandang dekat-dekat mata George Harrison yang menekan setiap garis di piano dan gitarnya, walau suaranya tidak menggelegar sebagaimana Paul dan Lennon yang berebut suara. Intan seperti hafal setiap bait dan bagian dari permainan George.

 

Oh dear what can I do
Baby’s in black

 

Intan terus memutar badannya seperti penari jazz, seakan tangannya terasa ada kasar ujung jarinya George. Tangannya seperti merangkul, membuat udara terasa heran, mungkin setan juga. Kaset itu berganti nada dengan Paul yang memegang kendali. George hanya menari-nari dengan piano dan mik yang dibagi dua dengan Lennon. Walau begitu tetap saja Intan memutar badannya.

Intan terus memutar badannya seperti penari jazz, seakan ujung jari George terasa kasar di tangannya.

George terlihat memainkan setiap wajah piano itu. Intan juga memainkan lebih liar badannya. Dia melempar semua pakaian yang melekat di tubuhnya.

Esok hari adalah peluncuran White Album di Indonesia. Beberapa kios sudah ramai dan para gadis mengantre melihat sampul album contoh yang hanya berwarna putih. Benar-benar putih. Intan merasa ini akan menjadi dominasi Paul dan Lennon. Tapi walau begitu ia tetap menunggu peluncurannya besok.

Intan melangkah kembali ke gang di belakang kios. Teman-temannya meneguk beberapa botol dan terlihat Nina sedang merogoh kantong lebih dalam lagi. Ia menginginkan lebih banyak botol.

“Heh Tan, ambillah kau dua botol. Kujamin aman aja kau.”

“Besok putaunya datang. Hari ini berapa pelanggan?”

“Masih dua. Yang datang juga sama aja orangnya.”

“Udahlah. Besok harus datang lagi itu orang. Besok albumnya kalau sudah kubeli kita dengar rame-rame.”

“Tambahin stoknya dong.”

“Aman. Besok kuminta lagi dari produsennya.”

Dua polisi menggemakan ninut-ninut yang membuat barisan di kios-kios itu menyebar dengan cepat. Beberapa motor bersandar di pagar gang yang menutup sepenuhnya jalan itu. Dua polisi itu masuk dan bersiap dengan kantongnya yang berisi sesuatu.

“Kang, besok lancarin ya buat albumnya masuk.” polisi berkacamata itu menggesek-gesek jempolnya. “Kita kasih gratis deh. Itu putau kalau mau ambil aja di selangkangan saya.” polisi itu melempar pentung dan kacamatanya. Tiba-tiba dia melompat ke arah Nina seperti anjing di musim kawin.

Gitar tua itu terlilit rumah laba-laba, terlihat bayi-bayinya menggeliat di bungkusan luarnya. Intan mengambilnya dan mengusap cepat gitar itu dengan sisa roknya. Dia belajar tangga nada yang susah untuk jarinya yang lembut dan putih tepung.

Kertas nada ia keluarkan dari belahan dadanya. Bagian bawah kertas itu sedikit luntur karena keringat yang berpindah sarang. Ia mulai dari nada yang cukup rendah, perlahan tinggi, lalu mendekat ke lubang gitar yang menjadi sarang berbagai serangga. Di kertas itu juga ada satu lagu White Album yang dimainkan seorang diri oleh Paul. Sedikit-sedikit Intan mulai paham harus belajar dari mana.

Karena Intan pandai “memainkan jari”, ia berlatih jari terlebih dulu.

Senar-senar berkarat itu seperti bermain-main dengan jari Intan yang mulai bergaris-garis. Karena tak kunjung mengeras, ia terus bermain hingga dua tangan itu mengembang, mengembang, bergaris, lalu merahnya keluar dan menetes di sisa roknya.

Dari jauh Nina mendekat dan membawa sebuah plastik kecil dengan bubuk putih menggumpal di dalamnya. Intan mengusap jari-jarinya dengan sisa roknya yang tertinggal cairan putih berbau pandan busuk.

Hari ini adalah siaran langsung The Beatles di Manchester, walau satu jam lagi TV akan memutar kerumunan gadis-gadis yang antre album terbaru The Beatles di kios-kios Manchester, Intan sudah duduk di sofa dengan koran jadwal konser selanjutnya. Berita tentang jumlah kopi album yang terjual dari album terbaru memenuhi beberapa kolom koran. Berita itu mencakup seluruh dunia kecuali Indonesia, karena pengaruh presiden sebelumnya yang menghapus semua pengaruh Barat yang masih tersisa walau pemimpin sudah berganti.

Intan terus membalik setiap kertas koran dan mencatat tanggal dan jam konser selanjutnya. Di sela-sela kolom itu ada sebuah foto para anggota The Beatles sedang membuka amplop yang terdapat kertas di dalamnya. Kertas-kertas itu berisi pujian, rasa kagum, dan berbagai pertanyaan tentang masing-masing anggota The Beatles.

Intan ingin mengirim surat juga ke George di foto ini yang sedang berbaring memegang sebuah boneka dari penggemarnya. Intan tidak ingin kalah dan menyiapkan kata-kata yang mungkin akan mengundang nafsu pria Inggris itu.

Intan terus memikirkan setiap kata dan rayuan nafsu untuk George yang mulai mengeluarkan jenggot di foto itu. Hingga konser di TV sudah dimulai, Intan yang telanjang bulat itu terus saja memikirkan George dan kata-kata untuk suratnya nanti.

Terbit matahari disambut Intan dengan lagu Here Comes the Sun, dan jarinya terus saja mengucur cairan merah kental yang bercampur karat senar. Intan sedari tadi terus saja bersandar di bahu Nina yang matanya memutih dan suaranya parau.

“Tan, kau nggak pengen gitu ketemu Jos, Gorg, atau siapalah itu?”

“Mau dong Nin. Aku sudah siapin surat, siapa tahu bisa datang dia ke Jawa.”

“Nggak usah kau tunggu. Kau aja datang sendiri ke Inggris.”

“Ya kalau aku udah kaya, putau aku beredar sampai Jakarta, ya berangkatlah aku.”

“Gini-gini.” Nina kini ambruk dan tubuhnya hampir saja jatuh dari kursi bambu warung. “Kau tulis surat aja ke George, nanti kubantu kirim ke Inggris.”

“Beneran? Emang kau tahu George di mana sekarang?”

“Kacau lonte ini! Kau pikir aku nggak tahu di mana George sekarang? Aku bisa telepati lihat dia di mana sekarang. Kemarin dia kan konser di Manchester, sekarang masih tidur di hotel sana dia. Besok mau acara di London.”

“Bisa juga kau terawang kek dukun. Gimana nih aku nulisnya?”

“Masak kau mau kirim surat aja. Ya kirim hadiah jugalah.”

“Kira-kira aku kirim apa?”

“Kirim hadiah yang membuat kau terasa dekat dengan George.” Nina tidak seimbang dan berdiri dengan kedua kaki yang lemas. “Kutunggu besok, aku mau cariin alamatnya dulu.”

 

Dear George Harrison,

Selama ini kau seperti mengisi hari-hariku dengan gerakan jari dan nada yang membuatku mendesah mendengarnya. Aku sangat mengingat jari-jarimu yang meliuk di piano kala Paul menyanyikan lagu I’m Down. Terkadang duetmu dengan Lennon di atas panggung mengisi hari-hariku yang tak terlalu terang. Aku mengharapkan hadirmu di Jawa untuk datang ke kiosku, minum-minum bareng, makan putau, lalu merajut kasih bareng.

Kau terlalu jauh hingga memikirkanmu saja tetap terasa jauh. Dari sekian nama yang menggelegar, termasuk Paul yang egois dan gila nama, kau tetaplah santai dan menawan ketika panggung sedang panas. Aku masih ingat ketika kau konser di atas atap rumah orang lain. Jenggot dan kumismu seperti menambah kesan bahwa kau pantas dimiliki siapa saja. Karena itulah saat kau berirama, aku selalu menari dengan telanjang bulat, dua plastik putau habis tak bersisa, mata merah dan menjilat-jilat wajahmu di TV rumah.

Kau lebih candu dari putau apa saja.

Dengan ini kukirimkan kerinduanku padamu. Kini bagian dari diriku yang selama ini kau goda dan kau rebut, kini ada padamu. Aku harap kau menerimanya sebagai tanda bahwa aku masih cinta dan menjadi penggemar terberatmu. Saking beratnya, aku selalu terbangun dengan celana basah setiap pagi setelah bermimpi kita masuk hotel di daerah Manchester.

Terimalah bagian dariku ini, George Harrison. Sayangku.

 

Surat itu membungkus sepasang bola mata beserta nadinya yang membuat George Best yang menerimanya melompat dari bangku cadangan.

Penghuni bumi Kediri. Calon mahasiswa Universitas Islam. Umurnya 17 tahun tapi pasrah saja dibilang Gen-Z. Tidak berstatus, tidak tahu golongan darah, bermimpi menjadi Seno Gumira Ajidarma. Instagram @naskahsenja64_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!