

Halo temanku! Apa kabar? Lama tak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Kuharap kamu dalam keadaan baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apa pun.
Lewat surat ini aku ingin membicarakan sesuatu yang penting deganmu. Perbincangan ini terkait dengan tulisanmu yang beberapa hari lalu kubaca. Aku sungguh merasa janggal saat membaca tulisanmu itu. Aku merasa tulisan yang kamu unggah itu berbeda dengan gaya tulisanmu yang dulu. Aku merasa tulisan itu adalah tulisan hasil bikinan AI.
Bukankah begitu teman? Kamu menulis menggunakan AI seratus persen kan? Kamu tinggal menyuruh AI menulis tentang topik tertentu kemudian kamu mengunggahnya atas nama dirimu sendiri? Bajingan kamu.
Bukankah kita berangkat dari awal yang sama beberapa tahun yang lalu. Saat kita sama-sama masih hijau dalam tulis-menulis (walaupun sampai sekarang kita masih saja medioker). Kamu dan aku adalah teman membaca buku bareng. Di lingkungan pertemanan hanya kita berdua yang suka baca buku, hanya kita berdu yang bisa membicarakan kehidupan seorang penulis, membicarakan tips menulis, dan kita sering ikut menghadiri acara bedah buku bersama.
Bukankah kamu pernah bilang padaku dulu bahwa kamu ingin bisa menulis esai yang bagus seperti esai-esainya Mahbub Junaidi, Ahmad Syafii Maarif maupun Soe Hok Gie. Mengapa kamu sekarang menghianati dirimu sendiri dengan menulis esai hasil bikinan AI begitu?
Mengaku saja teman. Aku ini enggak sebodoh yang kamu kira. Aku sudah membaca berulang kali esai-esai terbarumu di blog pribadimu itu dan aku tahu hanya dengan sekali membaca kalau tulisanmu itu dibuat menggunakan AI.
Kalau kamu meminta bukti atas tuduhanku ini aku bisa melampirkan hasil cek tulisanmu di web cek AI yang angka kemungkinan hasil AI-nya sampai 70 %. Aku juga mengkopas tulisanmu lalu kupaste di Chat GPT dan kutanyakan pada chat GPT tersebut apakah tulisan itu hasil bikinan AI, dan jawabannya: teks di atas memiliki beberapa karakteristik yang sering muncul pada tulisan AI, yaitu struktur sangat rapi dan sistematis, bahasa netral dan netral secara emosional, pengulangan pola kalimat, dan tidak ada pengalaman personal atau detail kontekstual spesifik. Begitulaah tipikal tulisanmu itu temanku. AI BANGET.
Aku menulis surat ini untuk mengingatkanmu untuk tidak keterusan menulis menggunakan AI seratus persen seperti itu temanku semata karena aku peduli kepadamu. Aku khawatir nantinya daya kreatifitasmu jadi tumpul. Sudah, mah, tulisanmu itu kualitasnya gitu-gitu aja selama bertahun-tahun, eh, sekarang malah nulis pakai AI.
Namun kamu malah tak terima dengan nasihatku dan memutuskan untuk memblokir nomor WhatsApp-ku. Jadi aku menulis surat terbuka ini supaya kamu bisa membacanya. Aku tahu kamu juga sering baca di Nyimpang.com dan beberapa kali berniat mengirim tulisan ke sini. Aku tentu saja terbuka dengan kiriman tulisanmu, tapi jika tulisanmu masih hasil bikinan AI gitu maaf, deh. Lebih baik kamu pensiun saja dari minat menulismu. Lakukan hal lain yang lebih bermanfaat buat hidupmu.
Nasihat-atau lebih tepatnya peringatan-ini berlaku juga bagi para pengirim tulisan ke Nyimpang.com. Banyak dari kalian yang mengirim tulisan ke sini kelihatan banget hasil AI-nya. Kampret. Gak usah cek AI segala hanya dengan membacanya saja saya bisa merasakan kalau tulisan ini dibikin oleh AI. tulisan AI itu sangat terasa jelas dari redundan (pengulangan) tulisan, pembahasan yang terasa umum, hingga penggunaan m-dash yang terasa janggal.
Teorinya begini, penulisan di Indonesia itu tidak akrab dengan m-dash, yang lebih akrab menggunakan m-dash adalah tulisan berbahasa Inggris, sedangkan dasar penulisan AI itu dari tulisan bahasa Inggris, tapi ini gak semua sih. Kadang juga m-dash semacam ini
Penulis Indonesia itu biasanya menggantikan dua strip yang mengapit keterangan lanjutan (apa, sih, namanya?). Tulisan AI juga terasa janggal karena minim emosi dan tidak adanya sentuhan personal.
Masa iya kamu nulis esai tentang tidak nyamannya transportasi umum tapi kamu tidak memberikan contoh atau pengalaman yang kamu rasakan sendiri. Dalam menulis esai kan kita butuh data, butuh riset. Riset itu kan gampang di era internet sekarang, tuh.
Kamu bisa cari di Google, bisa cari di media besar, atau kamu bisa juga cari bacaan bagus di Google Cendekia atau lagi, nih, kamu bisa baca di Internet Archive yang koleksi bukunya jutaan itu. Gak nyaranin Ipusnas, sih, sebab aplikasinya macet mulu.
Saran dariku, nih. Kamu belajar nulis lagi, deh, ikutan kelas menulisnya AS Laksana, Tempo atau Narabahasa dan baca lebih banyak lagi. Buat apa kamu nulis pakai AI begitu terus ngaku-ngaku sebagai karya bikinan sendiri. Demi gengsi-gengsian? Demi gaya-gayaan? NGAPAIN?
Kalau pun mau menggunakai AI untuk tulisan cukup di tahap diskusi saja. Diskusi soal tema tulisan, diskusi soal sudut pandang, atau untuk memeriksa data. Jangan langsung disuruh nulis semuanya dong.
Terakhir, nih. Kalau tulisanmu ketahuan ternyata hasil bikinan AI sebaiknya kamu ngaku aja. Gak usah beralasan berbelit-belit gitu. Kasihan kamunya. Kamu jadi ketagihan nyuruh AI nulis. Kamu jadi ketergantungan sama AI dan tak mau melewati asyik-deritanya memikirkan ide, kerangka tulisan, sudut pandang masalah, opini, meriset data, dan menyusun pemecahan masalah dalam tulisanmu. Kamu harus percaya pada kemampuanmu sendiri dalam menulis, jangan terus-terusan mengandalkan AI. Nanti otakmu tumpul.