Surat-Surat untuk Perempuan yang Wajahnya Berselimut Sinar Rembulan

Hai, perempuan yang kehadirannya membuatku diberkati kasih! Terus terang, aku ingin tahu kabarmu sejak keputusanmu enggan mengenalku lebih jauh. Aku ingin tahu berapa banyak kedukaan dan kesukaan yang kau alami selama setengah tahun ini.

Aku ingin sekali mengajakmu bertukar cerita tapi aku tak tahu harus mulai dari mana. Tampaknya, kau juga tidak menunjukkan ketertarikan balik padaku.

Aku merasa tidak enak, tapi kuyakin semua perasaan ini harus kutanggung dengan tabah. Sebab, aku laki-laki dan aku harus melatih diriku menerima semua perasaan tak enak yang melibatkanmu sebagai perempuan.

Sebelum kita berpisah kota dan entah kapan lagi kita dapat berjumpa dengan perjumpaan yang cukup membuat kita saling bertukar cerita, aku hanya ingin menghadirkan anggur kasih yang datang dari cawan perasaanku yang tak sempat kau nikmati.

Bersama bintang fajar, aku menulis ini dengan semua perasaan yang masih tersisa sejak berbulan-bulan yang lalu. Semua daun yang berjatuhan di sekitar gelanggang para pujangga menjadi saksi percakapan kita. Aku masih ingat rasanya bercakap-cakap denganmu. Bukan hanya membuka hatiku yang mulanya tertutup, melainkan juga memeluk desir jantungku yang paling dalam hingga aku tak mampu lagi menyebut nama perasaan macam ini.

Kepada Engkau yang sudah sempat singgah dalam lubuk hati, aku ingin menyampaikan kabar yang tak dapat didengar angin dan hujan, tapi sanggup dimengerti hati yang berduka.

Masih ingatkah Engkau pertemuan pertamamu denganku?

 

Surat I

Pertemuan Pertama

Aku tak dapat menceritakan seperti apa rasanya bertemu denganmu untuk yang pertama kali, tapi tampaknya perasaan itu tumbuh membuncah begitu saja ketika aku melihat nanar matamu menembus tubuhku dan membantu jiwaku menata kasih.

Aku ingin sekali menumpahkan ribuan kata di hadapanmu. Tapi aku merasa ada dinding yang menjulang yang tak bisa kulihat namun bisa kurasakan. Rasanya, aku ingin merobohkan dinding tak kasat mata itu dengan seluruh nyanyian alam tapi aku hanya bisa menatapnya perlahan-lahan sembari mencuri waktu berbicara denganmu di banyak kesempatan berikutnya.

Kepada Engkau yang matanya sempat mengajarkanku rasa sayang, aku ingin sekali mencuri dengar keluh kesahmu di hadapanku. Aku juga ingin menukar pikiranmu dengan pikiranku hanya untuk sekadar tahu seindah apa pikiranmu melihat dunia dan seisinya. Namun, apa daya. Dua putaran bulan belum juga mengantarku menuju kasihmu.

Hingga di suatu waktu, aku menemui kembali debar jantungku yang sempat kurasakan ketika wajah ayumu menghadapku. Debar jantung itu menyaksikan insan seperti diriku berbicara dengan sepasang matamu yang semakin sempurna berkat air mata yang menyelimutinya.

Namun, aku diselimuti kepedihan yang asing sumbernya. Tapi Engkau tetap tampil dengan gelagat manismu, seakan-akan semua rasa manis di dunia bersumber darimu. Gelagatmu mengobati sementara kepedihanku.

Wahai Engkau yang senyumnya telah mengubah racun menjadi kembang setaman, biarlah aku menatap nanar ayumu berulang kali hingga lebah mengaku jenuh menghisap nektar. Biarlah aku mengucap lantang pada sinar rembulan bahwa mulai hari ini, ia sudah jauh terkalahkan oleh wajahmu yang mampu memekarkan bunga yang layu.

Wahai Engkau yang sempat singgah dalam relung jiwaku, tak sudikah Engkau menatapku dan membelai lembut pipiku bagai angsa yang diselimuti kasih? Caramu membawakan diri menyeretku ke pusaran khayal yang tak kunjung rampung. Tapi Engkau harus ingat. Aku tidak sedang menurunkan kedudukanmu di hadapan hidup.

 

Surat II

Kasih yang Tak Sempat Tumbuh

Beberapa putaran bulan berlalu setelah Engkau bercengkrama denganku bersama insan-insan yang tubuhnya menyala terang berkat pancaran kasihmu yang tak pernah padam. Aku, akhirnya, menyusun kepingan keberanian yang sempat kubiarkan tercecer sampai beberapa saat di suatu sudut di lubuk hatiku. Aku menyatakan bahwa aku ingin sekali mengenalmu dan kehidupanmu lebih jauh.

Namun, nasib memihak pada keengganan menumbuhkan kasihku kepadamu. Aku tampak seperti sosok yang seharusnya tak boleh masuk ke sudut manapun dalam kasih sayangmu. Aku harus menerima hal ini layaknya siang yang ditolak malam ketika matahari sudah enggan menyinari kehidupan untuk sementara waktu. Sejak saat itu, aku menjadi makhluk yang dipaksa setia pada nasib yang menawanku tanpa menyampaikan permohonan izinnya lebih dahulu kepadaku.

Sekalipun mata dan mulutmu, dengan lembut dan manis, menyampaikan keengganan untuk menerima kasihku agar lebih dekat mengenalmu, kepalaku terseret oleh rasa penasaran yang tak kunjung padam dan malah semakin membesar.

Aku ingin sekali mendongengimu dengan cerita perjuangan orang-orang yang hidupnya tak pernah mengenal menang. Di lain waktu, aku pun sungguh ingin menceritakanmu soal betapa aku sangat senang ketika matahari di sore hari menghangatkan tubuhku. Aku, lalu, menceritakan soal binatang-binatang yang kukagumi yang membuatku, bersamamu, menyadari bahwa hidup manusia hanya perlu untuk saling mengasihi.

Namun, bulan tak pernah mengatakan kekecewaannya pada matahari ketika ia dipaksa menyingkir setelah siang hendak menunjukkan kehadirannya. Aku ditenggelamkan oleh kepedihan yang sungguh mencekam untuk mengajakmu berbincang. Lagipula, aku juga tak melihat timbal balik dari parasmu yang tampak seperti air fatamorgana yang hanya dalam sesaat menimbulkan harapan para peziarah padang pasir, lalu mengecewakannya.  

Kepada Engkau yang wajahnya selalu berlumur berlian, aku sebenarnya harus menanggung sakit lantaran usahaku mengajakmu memadu kalimat tak kunjung disambut. Apakah Engkau pernah terpikir sekali saja menanyakan kabarku sebagai teman? Apakah Engkau pernah ingin mengatakan sesuatu yang membuatku kembali berani menghadapi hidup?

 

Surat III

Perlahan Mengurai Takdir

Sebutlah namaku sekali saja, Kasihku. Maka aku akan menyebut namamu berkali-kali tiap kali mataku melihat cahaya mentari dan sinar rembulan. Jika perlu, aku titipkan namamu pada matahari dan bulan sebagai imbalan karena Engkau sudah menyebut namaku. Kelak, namamu kekal di dalam tarian alam. Aku rela dilumat tarian alam, asalkan namamu tetap bertahan setelah dunia tak lagi mampu menahan seluruh kepedihan akibat kasih yang tak berbalas.

Wahai Engkau yang suaranya mengingatkanku pada cinta. Apakah hari ini Engkau sedang mengingatku? Di sudut mana wajahku kau letakkan dalam cintamu? Apakah kasihku sungguh-sungguh tak memperoleh tempat di dalamnya?

Jika tak ada harapan yang bisa kurawat dan kutumbuhkan, akan kusampaikan manifesto ini.

Mungkin saja Engkau tak lagi mengingatku, apalagi membawaku dalam mimpimu. Mungkin juga aku tak pernah masuk ke dalam daftar sosok yang harus kau kasihi. Kau boleh melakukan semua itu, Kasihku. Tetapi, kau tak boleh melarangku untuk berharap walau sedikit dan untuk mengasihimu sekalipun tak berbalas. Harapan itu lah yang menjaga api kekuatan kasih yang kumiliki kepadamu dan, akhirnya, merawat kekuatanku untuk hidup di dunia ini.

Engkau yang tampaknya tak pernah menyebut namaku dalam kehidupanmu, aku bukan laki-laki yang tak akan mundur ketika kasih tak berbalas. Semua tanda yang kau berikan kepadaku, entah langsung atau tidak, memaksaku menerima ketetapan nasib yang rasanya seperti memaksaku mengunyah empedu namun harus kujalani. Dengan ini aku menyatakan bahwa bersama air mata dan lubuk hati yang nyalanya tak seterang beberapa waktu lalu, aku akan lebih menerima keputusanmu mulai detik ini.

 

Bersama kemuliaan malam, aku bersimpuh di hadapan kasihku yang tak berbalas.

Sedang berjuang menjadi murid terbaik bagi Kebaikan Umum. Saat ini sedang berkelana dalam pikirannya dan baru pulang ketika sudah lulus menjadi murid Kebaikan Umum. Dapat disapa di Instagram @galih.ernowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!