

seperti neraka di lantai jakarta. orang-orang yang berjalan di atas rel kereta api, dan semen semen beton yang menutupi tanah dan air. aku hanya bertanya: seperti apa harapan itu? tertutupi gedung pencakar langit dari kosan putri—aku hanya melihat jakarta. ketika 40 juta tangan dan kaki, jantung dan darah, mata dan hati menggantung di rawamangun, pasar rumput, kalibata, sudirman, dan jakarta. benderang blok m yang mengingatkanku kepada remang remang gang kampung jakarta. jakarta yang mengingatkanku kepada jakarta. dan jakarta adalah kampung yang mengingatkanku kepada jakarta.
kebahagiaanku hanya sampai di terminal dan hanya tidurku yang tidak mengingat jakarta. aku hanya ingat kereta api dan tukang tambal ban, keringat dan kuah bakso, jakarta dan identitas, ketika aku dimakan diam-diam oleh lantai lantai di jakarta, dan kehidupan yang perlahan tenggelam di jakarta. pengecoran dan penggusuran, janji janji dan gorengan, kepada siti, budi, serta beni, dan akbar. nama nama yang direnggut flyover menjadi jakarta. dan hanya itu, sampai keringat terakhir kita kering di jalan, di gubuk, di kamar, di lantai, dan di jakarta.
“lekas bergegas, budi. besok kita kan pindah ke jakarta. tetaplah jakarta. dan hanya ada di jakarta.”
2026
tanpa selimut dan kardus bekas.
aku melihat kembali foto-foto itu.
foto yang diambil dari sudut
paling singkat di hidup ini—
yang bahkan aku tak tahu di mana.
lagi pula apa artinya
jika akhirnya aku tidak tahu apa-apa.
aku telah tersesat dalam keadaan telanjang.
mungkin suatu saat tubuhku akan hilang.
hilang seutuhnya dari foto-foto itu.
tubuhku mulai memudar, perlahan.
di saat orang mulai mengangkat kaki—
maka dari itu aku ingin pergi.
bukan karena aku melihat harapan,
tetapi karena aku ingin tersesat,
setidaknya lebih jauh lagi.
2026
urban itu berisik.
namun kehadirannya nihil. rasa makanan palsu, kenyang satu detik. air tanah berasal dari semen beton. jalan raya tempat pesawat lepas landas. konsumsi lewat mata lima detik sebelum semuanya pergi. orang-orang kehilangan kebun tomat di belakang rumahnya, seperti mereka yang juga kehilangan jemuran.
urban itu sepi.
isinya boneka berjalan, diproduksi massal. olehnya tergantung nasi bungkus di jalanan.
2026
Lahir di Jakarta, tersesat di Bengkulu. Menulis karena bingung, lalu mengulangi hal yang sama lagi dan lagi. Sampai kapan? gak tahu lah. Instagram @rayhan.baswara
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!